Budaya Amatir di Liga Amatir Futsal City?!
Era baru Makara FC, yang pada awalnya hanya berorientasi ‘bagaimana membuang keringat pasca jam kerja’, dimulai. Seiring dengan pergantian jajaran pengurus, Makara FC mulai menggeliat mencicipi sejumlah invitasi futsal yang belakangan bertebaran di ibukota Jakarta.
Setelah kenyang dicap sebagai ‘jagoan di kejuaran sendiri’, Makara FC keluar kandang. Dua invitasi perdana yang kebetulan keduanya digagas oleh Cosmo (sebuah komunitas futsal di Jakarta) dilalui Makara FC dengan hasil yang cukup lumayan. Pada invitasi pertama, Makara FC berhasil menempati peringkat kedua setelah dibekuk klub Pulsa dengan skor tipis 4-3. Kiprah Makara FC di invitasi ini sedikit ‘tercoreng’ karena formasi tim yang diturunkan bukan murni hasil binaan klub walaupun mereka masih dalam lingkup pertemanan.
Selanjutnya, langkah Makara FC lagi-lagi harus terhenti dan impian juara sirna. Alifa, sebuah tabloid, dengan susah payah berhasil membekuk Makara FC dengan skor tipis 5-4. Dua invitasi tersebut telah memberi pelajaran berarti bagi Makara FC bahwa membangun sebuah tim tidak bisa dilakukan secara instan.
Alhasil, latihan rutin Makara FC yang sebelumnya jauh dari kesan serius dirombak total dengan mendatangkan seorang pelatih bernama Dony. Sebagai ajang uji coba hasil latihan, Makara FC memutuskan untuk berkiprah di Liga Amatir yang diselenggarakan Futsal City.
Menyadari banyaknya jumlah anggota yang ada, Makara FC mengirim dua tim, Makara FC-Red dan Makara FC-Blue. Pembagian tim ditentukan oleh pengurus setelah berkonsultasi dengan pelatih dengan mengedepankan pertimbangan kualitas. Sesuai jadwal, Makara FC-Red mendapat kesempatan pertama unjuk gigi dan kemudian beberapa minggu kemudian diikuti saudaranya, Makara FC-Blue.
Sayang, kiprah Makara FC ditandai dengan langkah kurang tepat. Makara FC-Red menunjukan budaya amatir yang semestinya tidak dilakukan. Tanpa sebab yang jelas, sejumlah anggota skuad Makara FC-Red tidak tampak batang hidungnya. Jumlah skuad yang minim memaksa pengurus untuk ambil langkah cepat dengan menarik sebagian anggota Makara FC-Blue yang pada saat bersamaan tengah berjuang di Invitasi Futsal yang diselenggarakan Cosmo.
Namun, malang tak dapat dihindari. Bermodalkan materi pas-pasan, Makara FC-Red harus rela dibantai 3-10 oleh klub Zabreak. Anehnya, budaya amatir itu kembali terulang. Kali ini, Makara FC-Blue yang berulah. Ketidakhadiran dan keterlambatan sejumlah anggota skuad kembali terjadi. Sebagian memiliki alasan sedangkan sebagian lain tidak jelas. Untungnya, nasib naas itu tidak berlanjut di lapangan. Makara FC-Blue berhasil menggulung lawannya Gua FC dengan skor telak 11-3.
Dua kejadian tidak mengenakkan tersebut membuat pelatih kecewa. Pada latihan 7 Maret lalu, pelatih mempertanyakan komitmen seluruh anggota Makara FC. “Ya udah, yang sudah terjadi biar berlalu, mudah-mudahan kita semua bisa belajar dari kejadian ini,” ujar sang Presiden Makara FC, Adjie, menghibur diri.
Sentilan pelatih dan seruan introspeksi dari pengurus membawa hasil positif. Pada pertandingan berikutnya, Makara FC-Red menunjukkan perubahan sikap. Walaupun hanya menang WO, seluruh skuad Makara FC-Red hadir lengkap.
Kita tunggu apakah langkah Makara FC-Red yang mulai menanggalkan budaya amatirnya akan diikuti oleh Makara FC-Blue pada pertandingan berikutnya. Liga amatir bukan berarti budayanya juga amatir toh?!. Bravo Makara FC !!!!!!
Posted in Artikel | 4 Comments »
Anda kenal koran pagi nasional yang namanya
