Jakarta Japan Club: Kita Ketemu Lagi
Yup! Latih tanding semalam memang kembali mempertemukan Makara FC dengan Jakarta Japan Club (JJC). Jika dulu lokasinya di My Futsal dengan JJC sebagai tuan rumah, kali ini Makara FC-lah yang mengundang mereka untuk datang ke GOR Pertamina Simprug. Lapangan futsal yang menjadi training ground bagi Makara FC selama satu tahun terakhir.
Bedanya, jika latih-tanding di My Futsal diramaikan oleh lajang-lajang Jepang yang berusia muda, kali ini yang bertandang ke GOR Pertamina Simprug sebagian besar adalah ABG alias angkatan babe gue. Namun bukan berarti mereka adalah om-om yang sudah loyo. Sebaliknya, mereka rata-rata punya kebugaran fisik yang lebih baik dibanding orang Jakarta sesusia mereka pada umumnya.
Setelah pemanasan sekitar dua puluh menit, latih-tanding yang setiap game-nya berdurasi 10 menit ini pun dimulai. JJC, sebagai tim tamu, mendapat kehormatan untuk melakukan kick-off. Tiga menit pertama berjalan keras. Bola mengalir dengan cepat dari kaki ke kaki. Sekali dua ia mengalir di kaki Makara FC. Di lain kesempatan babak belurlah si bola ditendang oleh om-om dari JJC. Namun tidak ada gol. Hanya serangan silih berganti yang diselingi tendangan membentur gawang atau aksi penyelamatan oleh goal keeper dari kedua tim. Panas!
Menit ke-6, Makara FC menusuk dari sisi kiri pertahanan JJC. Serangan dengan satu-dua sentuhan diselesaikan dengan sempurna oleh Umar yang sehari-harinya adalah Polisi. 1-0 untuk Makara FC! Selang dua menit kemudian, Makara FC menambah keunggulan menjadi 2-0. Akhirnya game ini disudahi dengan skor 2-1 karena JJC berhasil mencuri gol di detik-detik terakhir.
Game kedua bukanlah latih-tanding. JJC meminta waktu istirahat bagi timnya karena memang anggota yang datang sampai detik itu hanya 7 orang. Jadilah Makara FC berduel dengan dirinya sendiri.
Game ketiga berlangsung tidak seimbang. Makara FC menurunkan tim yang semuanya berisi pemain dalam usia 20-an. Satu anggotanya, Putra, malah masih duduk di bangku SMU. Alhasil, hujan gol terjadi di kubu JJC. Perbedaan usia ini diperparah dengan gaya bermain JJC yang memang sangat terbuka. Mereka kerap terlambat menutup ruang ketika kehilangan bola. Wahyu dan Mas Didik, yang memang memiliki kebugaran yang baik, merajalela. Saya sampai lupa berapa selisih gol pada akhir game ini.
Yang paling saya ingat adalah game ke-5. Kenapa? Karena saya mencetak gol dalam game ini! Hahaha…
Game ke-5 berjalan segar sebagaimana game pertama. Om-om dari Jepang sudah banyak yang berdatangan. Tim JJC diisi dengan kaki-kaki baru yang masih segar. Sementara tim Makara FC juga dihuni pemain-pemain yang sebelumnya sudah sempat beristirahat selama sepuluh menit atau bahkan lebih. Jadilah game ini didominasi dengan adu kecepatan. Dan JJC membuktikan bahwa mereka cukup cerdas dengan mengembangkan permainan yang tidak terlalu terbuka seperti di game-game awal.
Gol pertama untuk Makara FC lahir juga lebih dikarenakan kelengahan mereka semata. Dari sisi kanan pertahanan JJC, Berto, pemain Makara FC yang kerja sehari-harinya masih menjadi misteri, mengirimkan umpan lambung yang melewati gapain tangan goal keeper. Bola terus melaju dan mengenai kepala pemain belakang JJC yang tampangnya mirip bintang film-film Korea yang sedang menjamur di Glodok. Untung bagi saya yang sedang bengong di tiang jauh, bola liar itu mampir ke kaki dan langsung saya kirim ke gawang. 1-0 untuk Makara FC. Setelah bertarung habis-habisan, game ini berakhir dengan kemenangan 2-1 untuk Makara FC.
Satu kejadian yang sangat berkesan bagi saya terjadi di pertengahan game ke-7. JJC menusuk dari sisi kanan pertahanan Makara FC. Seorang pemain mereka berlari terlalu cepat sehingga umpan dari lapangan tengah mendarat di belakangnya, bukan di depan. Refleks, Om Jepang ini menghentikan larinya dan memutar badan untuk menerima umpan tadi. Apa hendak dikata, kaki kanan yang menjadi tumpuan ternyata tak mampu menahan berat tubuhnya dan terpelintir. Kraaakkkk!!!
Apa yang kemudian dilakukan oleh si Om dari Jepang ini? Dia tidak mengerang dan berguling-guling. Dia malah berdiri, lalu berjalan ke tengah lapangan. Melanjutkan pertandingan sekitar 30 detik lagi karena pada saat itu bola memang masih hidup (meskipun sebenarnya dalam futsal pergantian pemain bisa dilakukan kapan saja tanpa menunggu bola mati). Ketika terjadi out ball, barulah ia berjalan ke tepi lapangan dan diganti oleh rekannya yang lain. Luar biasa! Bahkan dalam latih-tanding yang tidak resmi sekalipun, secara sadar, mereka menjunjung tinggi semangat bertanding dalam sebuah game futsal. Disiplin dan semangat juang seperti inilah yang, menurut saya, jarang ditemui dalam diri kita, orang-orang Indonesia yang kebanyakan cuma bisa mengeluh dan cari jalan pintas untuk enaknya sendiri saja.
Setelah 8 game berturut-turut, latih-tanding kali ini selesai sudah. Keringat yang bercucuran, nafas yang tinggal satu-dua, bersatu dengan kepuasan dan respect yang dalam terhadap kesungguhan teman-teman dari JJC dalam latih-tading ini. Sedikit banyak saya belajar sesuatu dari mereka malam itu. Bukan melulu mengenai futsal, namun mengenai disiplin dan semangat berjuang dalam rambu-rambu yang sudah disepakati bersama. Arigato gozaimasu…
Posted in Review Pertandingan

Bos Eko…
Nambahin dikit nih tentang kejadian Rabu, 21 November 2007… MAKARA FC vs JJC…
“Setelah sekian lama tidak mencetak gol-akibat cedera kaki kiri setelah jatuh dari sepeda motor pada Mei 2007 lalu, kemarin malam Boby-Sheva kembali mencetak gol lagi…
Dan yang juga tak kalah menariknya adalah kehadiran Reporter/Fotografer dari Tabloid FUTSAL+ (yang baru akan launching Sabtu, 24 November 2007) yang khusus meliput aksi-aksi MAKARA Futsal Club untuk dimuat di Tabloid FUTSAL+.
Selamat terbit ya Tabloid FUTSAL+ !!!
TETAP SEMANGAT!!!