Jakarta Japan Club: Kita Ketemu Lagi

November 22nd, 2007 by eko

Yup! Latih tanding semalam memang kembali mempertemukan Makara FC dengan Jakarta Japan Club (JJC). Jika dulu lokasinya di My Futsal dengan JJC sebagai tuan rumah, kali ini Makara FC-lah yang mengundang mereka untuk datang ke GOR Pertamina Simprug. Lapangan futsal yang menjadi training ground bagi Makara FC selama satu tahun terakhir.

Bedanya, jika latih-tanding di My Futsal diramaikan oleh lajang-lajang Jepang yang berusia muda, kali ini yang bertandang ke GOR Pertamina Simprug sebagian besar adalah ABG alias angkatan babe gue. Namun bukan berarti mereka adalah om-om yang sudah loyo. Sebaliknya, mereka rata-rata punya kebugaran fisik yang lebih baik dibanding orang Jakarta sesusia mereka pada umumnya.

Setelah pemanasan sekitar dua puluh menit, latih-tanding yang setiap game-nya berdurasi 10 menit ini pun dimulai. JJC, sebagai tim tamu, mendapat kehormatan untuk melakukan kick-off. Tiga menit pertama berjalan keras. Bola mengalir dengan cepat dari kaki ke kaki. Sekali dua ia mengalir di kaki Makara FC. Di lain kesempatan babak belurlah si bola ditendang oleh om-om dari JJC. Namun tidak ada gol. Hanya serangan silih berganti yang diselingi tendangan membentur gawang atau aksi penyelamatan oleh goal keeper dari kedua tim. Panas!

Menit ke-6, Makara FC menusuk dari sisi kiri pertahanan JJC. Serangan dengan satu-dua sentuhan diselesaikan dengan sempurna oleh Umar yang sehari-harinya adalah Polisi. 1-0 untuk Makara FC! Selang dua menit kemudian, Makara FC menambah keunggulan menjadi 2-0. Akhirnya game ini disudahi dengan skor 2-1 karena JJC berhasil mencuri gol di detik-detik terakhir.

Game kedua bukanlah latih-tanding. JJC meminta waktu istirahat bagi timnya karena memang anggota yang datang sampai detik itu hanya 7 orang. Jadilah Makara FC berduel dengan dirinya sendiri.

Game ketiga berlangsung tidak seimbang. Makara FC menurunkan tim yang semuanya berisi pemain dalam usia 20-an. Satu anggotanya, Putra, malah masih duduk di bangku SMU. Alhasil, hujan gol terjadi di kubu JJC. Perbedaan usia ini diperparah dengan gaya bermain JJC yang memang sangat terbuka. Mereka kerap terlambat menutup ruang ketika kehilangan bola. Wahyu dan Mas Didik, yang memang memiliki kebugaran yang baik, merajalela. Saya sampai lupa berapa selisih gol pada akhir game ini.

Yang paling saya ingat adalah game ke-5. Kenapa? Karena saya mencetak gol dalam game ini! Hahaha…

Game ke-5 berjalan segar sebagaimana game pertama. Om-om dari Jepang sudah banyak yang berdatangan. Tim JJC diisi dengan kaki-kaki baru yang masih segar. Sementara tim Makara FC juga dihuni pemain-pemain yang sebelumnya sudah sempat beristirahat selama sepuluh menit atau bahkan lebih. Jadilah game ini didominasi dengan adu kecepatan. Dan JJC membuktikan bahwa mereka cukup cerdas dengan mengembangkan permainan yang tidak terlalu terbuka seperti di game-game awal.

Gol pertama untuk Makara FC lahir juga lebih dikarenakan kelengahan mereka semata. Dari sisi kanan pertahanan JJC, Berto, pemain Makara FC yang kerja sehari-harinya masih menjadi misteri, mengirimkan umpan lambung yang melewati gapain tangan goal keeper. Bola terus melaju dan mengenai kepala pemain belakang JJC yang tampangnya mirip bintang film-film Korea yang sedang menjamur di Glodok. Untung bagi saya yang sedang bengong di tiang jauh, bola liar itu mampir ke kaki dan langsung saya kirim ke gawang. 1-0 untuk Makara FC. Setelah bertarung habis-habisan, game ini berakhir dengan kemenangan 2-1 untuk Makara FC.

Satu kejadian yang sangat berkesan bagi saya terjadi di pertengahan game ke-7. JJC menusuk dari sisi kanan pertahanan Makara FC. Seorang pemain mereka berlari terlalu cepat sehingga umpan dari lapangan tengah mendarat di belakangnya, bukan di depan. Refleks, Om Jepang ini menghentikan larinya dan memutar badan untuk menerima umpan tadi. Apa hendak dikata, kaki kanan yang menjadi tumpuan ternyata tak mampu menahan berat tubuhnya dan terpelintir. Kraaakkkk!!!

Apa yang kemudian dilakukan oleh si Om dari Jepang ini? Dia tidak mengerang dan berguling-guling. Dia malah berdiri, lalu berjalan ke tengah lapangan. Melanjutkan pertandingan sekitar 30 detik lagi karena pada saat itu bola memang masih hidup (meskipun sebenarnya dalam futsal pergantian pemain bisa dilakukan kapan saja tanpa menunggu bola mati). Ketika terjadi out ball, barulah ia berjalan ke tepi lapangan dan diganti oleh rekannya yang lain. Luar biasa! Bahkan dalam latih-tanding yang tidak resmi sekalipun, secara sadar, mereka menjunjung tinggi semangat bertanding dalam sebuah game futsal. Disiplin dan semangat juang seperti inilah yang, menurut saya, jarang ditemui dalam diri kita, orang-orang Indonesia yang kebanyakan cuma bisa mengeluh dan cari jalan pintas untuk enaknya sendiri saja.

Setelah 8 game berturut-turut, latih-tanding kali ini selesai sudah. Keringat yang bercucuran, nafas yang tinggal satu-dua, bersatu dengan kepuasan dan respect yang dalam terhadap kesungguhan teman-teman dari JJC dalam latih-tading ini. Sedikit banyak saya belajar sesuatu dari mereka malam itu. Bukan melulu mengenai futsal, namun mengenai disiplin dan semangat berjuang dalam rambu-rambu yang sudah disepakati bersama. Arigato gozaimasu…

Posted in Review Pertandingan | 1 Comment »

Latih Tanding Timnas Futsal

November 19th, 2007 by eko

Buat yang punya waktu luang, mungkin ada baiknya menyempatkan diri untuk melihat Timnas Futsal Indonesia berlatih tanding di My Futsal. Lawannya, tentu saja, tim futsal yang punya kualitas baik juga.

1. Timnas vs Biangbola, 20 November 2007, pukul 16:00
2. Timnas vs Pulsa, 24 November 2007, pukul 16:00
3. Timnas vs My Futsal Team, 27 November 2007, pukul 16:00

Selamat menonton dan semoga bisa memetik sesuatu yang berharga dari tiga latih tanding tersebut!

Posted in Berita Ringan | 1 Comment »

Serangan Mendadak Dadakan FC

November 8th, 2007 by eko

Priiittt!!!

Peluit yang ditiup keras oleh Iway (bener gak nih ejaan nama lo?) membuka latih tanding pertama bagi Makara FC bulan November ini, melawan Dadakan FC. Seru, keras, kreatif, cepat, dan tentu saja sangat menyenangkan. Latih tanding berdurasi dua jam penuh ini, bagi sebagian anggota Makara FC yang baru mulai berlatih lagi setelah hibernasi selama bulan puasa dan lebaran, menghasilkan kram, mual, dan pendar-pendar ceria di sekitar kepala. Tampaknya umur memang tidak bisa dibohongi yah? Emang enak, baru latihan udah langsung latih tanding?!

Seperti namanya, Dadakan FC memang terdiri dari para pemain futsal yang secara mendadak dikumpulkan oleh Dony Coach. Rencananya mereka akan mengikuti sebuah turnamen dalam waktu dekat ini. Dadakan tidak berarti kemampuan mereka dangkal. Sama sekali tidak demikian. Malah sebaliknya, mereka rata-rata memiliki skill yang cukup baik dan dilengkapi dengan kecepatan serta stamina khas para bocah. Makara FC? Wah, sebagian memang masih muda, tapi yang seangkatan dengan saya juga banyak. Berumur dan berlemak, huehehe…

Setelah sedikit pemanasan dan basa-basi, game pertama dimulai. Saya kebagian peran sebagai posisi 5 dalam game kali ini. Dengan formasi baku 1-2-1 yang bercita rasa defensif, dan sedikit barbau anti-futsal, Makara FC menghadapi gempuran bertubi-tubi dalam game pertama ini. Dengan beringas Dadakan FC langsung memanfaatkan keunggulan kecepatan dan stamina yang mereka miliki. Hey, tapi futsal tidak semata merupakan permainan fisik kan? Didalamnya terkandung unsur strategi dan kekuatan emosional. Formasi 1-2-1 adalah strategi, dan menunggu dengan sabar adalah kekuatan emosional. Kekuatan fisik menghadapi kekuatan spiritual. Sejarah telah membuktikan bahwa spirit kerap mengungguli materi. Dan tepat seperti itulah yang terjadi pada game pertama ini. Terlalu asyik merangsek ke daerah lawan, Dadakan FC malah lengah dan akhirnya harus kebobolan dua gol berurutan. Kedua gol ini muncul dari skenario yang sama: serangan balik. Kebanyakan penonton di tribun mungkin berpikir ini adalah kebetulan dan keberuntungan belaka. Apalagi sesaat kemudian Dadakan FC mampu memasukkan satu angka. Tapi saya berpikir lain. Ini adalah buah dari kesabaran dan strategi yang mengadaptasi minimnya kemampuan fisik dan kecepatan Makara FC pada game ini. Di penghujung game, Makara FC kembali mencuri gol dari serangan balik (lagi-lagi!) dan menyudahi perlawanan Dadakan FC. 3-1 untuk kemenangan Makara FC.

Game kedua, yang juga berdurasi 10 menit, berjalan dengan arah yang sepenuhnya berbeda. Makara FC, dengan semua anggotanya yang kali ini berusia muda, melakukan pendekatan yang berbeda. Mereka menghadapi gempuran Dadakan FC secara frontal. Serangan dibalas dengan serangan. Kecepatan diimbangi dengan kecepatan. Api dilawan dengan api. Dan pada akhirnya, Makara FC-lah yang terbakar hangus berantakan. Dony bersaudara dan dua rekannya memberondong dengan serangan cepat dan bertubi-tubi. Game ini sepenuhnya milik mereka. 3-0 untuk kemenangan Dadakan FC.

Pada game ke-3 dan ke-4, Makara FC kembali ke selera asal. Formasi 1-2-1 dengan cita rasa defensif. Hasilnya selalu positif. 1-0 dan 2-0 untuk kemenangan Makara FC. Namun di game-game berikutnya, Dadakan FC mulai berevolusi dan menemukan cara jitu untuk menembus formasi 1-2-1 miliki Makara FC. Saya pribadi, meskipun terkesan membela diri, berpendapat bahwa intrusi ini lebih disebabkan oleh menurunnya disiplin dan konsentrasi akibat kelelahan yang diderita oleh hampir seluruh anggota Makara FC. Pada akhirnya, dalam durasi yang panjang, stamina dan keunggulan fisik adalah sebuah berkah yang patut dibanggakan.

Setelah 8 game tanpa henti, latih tanding kali ini akhirnya usai sudah. Sangat melelahkan dan menyenangkan. Berbagi pengalaman dengan tim yang unggul secara teknik dan fisik merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Kemenangan dan kekalahan hanyalah ukuran semu. Sesungguhnya, yang terpenting adalah kepuasan spiritual yang kita raih dalam latih tanding ini.

Dadakan FC, thanks for the good games. Cobalah memupuk kesabaran dalam penyerangan kalian. Semoga sukses dalam turnamen yang akan dijalani nanti. Salam futsal!

Posted in Review Pertandingan | 4 Comments »

« Previous Entries Next Entries »