Latih Tanding
| January 9, 2008 | ||
| 8:00 pm | to | 10:00 pm |
Latih tanding bersama tim-nya si Umar di GOR Pertamina Simprug
Posted in Jadwal Kegiatan | No Comments »
| January 9, 2008 | ||
| 8:00 pm | to | 10:00 pm |
Latih tanding bersama tim-nya si Umar di GOR Pertamina Simprug
Posted in Jadwal Kegiatan | No Comments »
| January 2, 2008 | ||
| 8:00 pm | to | 10:00 pm |
Latihan rutin di GOR Pertamina Simprug
Posted in Jadwal Kegiatan | No Comments »
Ingatkah kita semua ketika Budi Sudarsono melewati pemain belakang Bahrain dan menceploskan bola umpan dari Firman ke gawang lawan? Rasanya hampir tidak percaya. Dan keheranan bercampur kegembiraan itu disempurnakan oleh Bambang Pamungkas di akhir pertandingan. Senayan seperti pecah! Dan saya, yang saat itu hanya kebagian nongkrong di depan tivi, ikut-ikutan bersorak kegirangan. Senang rasanya, meraih kemenangan di pertandingan perdana. Harapan mulai tumbuh dalam hati…
Kira-kira seperti itulah perasaan saya pekan lalu, ketika mendengar kabar bahwa tim Makarafutsal.com, dibawah bimbingan Roy, mampu melewati pertandingan perdana dengan kemenangan meyakinkan, 4-2.
Namun pekan ini, selepas natal, perasaan itu sirna berganti kekecewaan serta keheranan… Bagaimana tidak? Saya mendapat kabar via sms yang menyatakan bahwa tim Makarafutsal.com disungkurkan oleh tim lawan dengan skor luar biasa jomplang: 1-7! Alamak…!
Saya hadir di Senayan ketika Ellie mencetak gol untuk menyamakan kedudukan dengan Arab. Senangnya tak terperikan! Meskipun di akhir pertandingan mesti menerima kenyataan bahwa timnas kita kalah dengan skor tipis 1-2, saya bisa pulang dengan damai.
Beberapa hari berikutnya saya juga hadir di Senayan untuk menyaksikan bagaimana pemain-pemain kita kalang kabut mengejar orang-orang Korea yang larinya seperti dikejar anjing. Dan hari itu hati saya seperti tersayat ketika kelengahan pemain kita yang hanya beberapa detik dihukum dengan gol semata wayang yang akhirnya mengirim semua pemain nasional kita yang kelelahan pulang ke rumah.
Pada sore itulah saya menyimpulkan bahwa di level internasional, semangat juang saja tidak cukup. Kemenangan baru bisa diraih jika sebuah tim memang benar-benar kuat. Teknik, taktik, fisik, dan psikis. Di level ini, kekalahan hanya berarti satu hal: lawan lebih superior dibanding kita. Janganlah menutup-nutupi kenyataan itu dengan polesan manis berupa pernyataan: “Kita sudah berjuang dengan semangat”. Di level setinggi ini, seperti yang diungkapkan oleh Don Fabio ketika masih menangani El Real: “Satu-satunya yang akan diingat oleh dunia adalah pemenang…”
Itu adalah sepakbola di level internasional, tentu saja. Apakah demikian juga halnya dengan dunia futsal di level amatir? Saya rasa tidak.
Di level amatir, setidaknya menurut persepsi saya, saya tidak bermain futsal untuk mencari makan. Alih-alih mendapatkan uang, saya malah dengan sukarela mengeluarkan uang. Prestasi, saya rasa, tidaklah relevan dalam dunia amatir. Jadi janganlah mengacaukan pikiran dan mencampur aduk dunia amatir dengan dunia profesional. Satu-satunya prestasi dalam dunia amatir, kalaupun ini bisa dianggap demikian, adalah ketika pada akhir sebuah permainan atau pertandingan futsal, saya merasa menjadi orang yang lebih baik. Meraih kemenangan jelas membuat saya merasa menjadi orang yang lebih baik. Setidaknya dibanding lawan bertanding saya pada saat itu, hehehe…
BTW, saya jarang menang…
Ada saatnya dimana saya menelan kekalahan dan tetap merasa baik. Itu terjadi dalam dua kesempatan. Yang pertama ketika dengan berbesar hati saya menerima bahwa memang lawan tanding saya lebih baik. Dan yang kedua, ketika saya merasa sudah berjuang sepenuh hati meskipun akhirnya bukan saya yang tertawa. Cukuplah kiranya saya bisa tersenyum kecut saja.
Biasanya, kesempatan kedua baru muncul setelah kesempatan pertama terpenuhi. Perjuangan yang tidak all-out, hampir dipastikan membawa pengingkaran dan penyesalan. “Ah, tadi kan saya kurang ini…”, “Ah, mereka cuma beruntung doang…”, dan seribu “Ah…” berikutnya akan saling susul dan mengerdilkan jiwa sportif saya. Mungkin Anda juga pernah merasa seperti itu.
Ketika saya merasa sudah mencurahkan semua dari diri saya dalam permainan, ketika tidak ada lagi yang tersisa kecuali semangat yang menyala-nyala (dan nafas yang hampir putus tentunya, mengingat bobot saya sekarang sedikit saja dibawah Mike Tyson), maka saat itulah saya merasa menjadi manusia yang utuh. Meskipun papan skor mengatakan bahwa saya sesungguhnya adalah pecundang.
Hell, bagi saya futsal amatir tidak berakhir di papan skor. Semangat dan kegembiraan dari permainan itu, yang saya bawa pulang dan jadikan api untuk membakar energi bagi kehidupan profesi dan sosial sayalah yang terpenting. Itulah prestasi saya yang sesungguhnya dalam dunia amatir.
Jadi Anda semua bisa bayangkan bagaimana keheranan saya mengalahkan kekecewaan hati ketika menerima sms dari tiga orang yang berbeda, yang memberikan kesimpulan sama seputar kekalahan tim Makarafutsal.com: “Kita bermain tanpa semangat juang…”
Dalam dunia amatir ini, ketika semangat juang dan kegembiraan sudah tidak ada, lalu apa lagi yang tersisa untuk dinikmati?
Inilah catatan akhir tahun kita. Tersungkur dan tersingkir. Dan janganlah kiranya kita terlalu sering melihat keluar. Lihatlah lebih banyak ke dalam. Tuesday Lobsang Rampa, Lama Agung dari Tibet pernah berkata dalam bukunya: “Kita adalah bagian dari dunia. Jika kita ingin membuat dunia menjadi lebih baik, perbaikilah diri kita terlebih dahulu…”
Selamat tahun baru, dan salam futsal!
Posted in Opini | 4 Comments »