Legenda Uno Zero
Bagi penggemar sepak bola Italia, rasanya tidak mungkin menyalahtafsirkan judul di atas. Uno Zero alias 1-0, itulah legenda mereka.
Melawan Italia, jika kita sudah kebobolan satu gol terlebih dulu, maka berdoalah sepanjang pertandingan agar pemain depan kita melakukan keajaiban, atau pemain belakang mereka melakukan kebodohan. Ketika kita sudah tertinggal satu gol, maka yang kita lawan bukanlah 11 pemain Italia saja, melainkan juga roh gentayangan Helenio Herrera, bapak moyangnya sistem pertahanan gerendel. Sistem yang dikutuk pemain-pemain kreatif seperti Platini, dan tidak terlalu disukai oleh Patrick Viera (yang keduanya nyata-nyata bermain di Italia. Geezzz…). Sistem yang terbukti ampuh menjadikan Italia juara dunia 2006, meskipun sekali dua mampu dijinakkan oleh pemain jenius seperti Maradona ataupun Van Basten di zaman keemasan mereka.
Persis seperti itulah yang terjadi di GOR Pertamina Simprug tadi malam. Latih tanding melawan BG Family Club (bener gak ni namanya?) berkesudahan dengan skor: 1-0, 0-0, 0-1, 1-1, 0-1, 2-0, 0-2, dan 1-0. Jika angka 2 dihilangkan, maka muncullah wajah buruk rupa namun efisien dari Helenio Herrera, hahaha…
BG Family Club, yang merupakan klub futsal berisi anak-anak muda dari Pondok Gede, bertandang ke training ground Makara FC di bilangan Simprug dengan kekuatan penuh. Tidak tanggung-tanggung. Dua mobil terisi penuh oleh kaki-kaki muda yang haus bola. Hell, saya bisa bilang apa? Futsal memang permainan yang pantas digilai kan?
Bung Ikmal, motor penggerak BG Family Club, langsung menghampiri saya ketika saya tiba di lapangan. Jam delapan kurang sepuluh. Sementara anak-anak Makara FC, yang belakangan ini kembali bergairah setelah hibernasi tahun baru, belum nongol batang hidungnya, anak-anak muda Pondok Gede ini sudah siap-siap berganti kostum. Dan ketika mereka keluar dari ruang ganti, maka menjadi birulah training ground malam itu. Dengan seragam biru-biru, ditambah sedikit nuansa emas dibagian dada, BG Family Club terlihat siap 100% untuk latih tanding. Well, it’s gonna be fun!
Seandainya saja malam itu kami memakai kostum Makara FC yang berwarna merah, tentu akan mirip pertandingan Italia vs Denmark. Tapi Denmark yang ini bukan dinamitnya yang meletus, melainkan perutnya yang gendut-gendut itulah yang meletus!
Game pertama dimulai. Saya main, dan saya mencetak gol, hahaha… Jujur saja, game ini menimbulkan tanda tanya besar dalam benak saya. Biasanya kalau saya bermain maka lawan main saya akan grasak-grusuk dan agresif menyerang. Kenapa? Karena tipe permaianan saya cenderung menunggu, mengamati, mencari kelemahan (kalau nemu), baru kemudian mengeksploitasinya (kalau memang bisa!). Satu dua menit pertama adalah masa-masa penantian. Dan “jeda” inilah yang biasanya digunakan lawan untuk merangsek dengan ganas. Namun berbeda halnya dengan BG Family Club. Mereka tidak langsung merangsek. Padahal mereka punya kaki-kaki muda yang jauh lebih cepat dari kaki saya dan teman main saya dalam game pertama ini. Dilihat posturnya juga mereka lebih ramping, yang artinya punya kesempatan besar untuk unggul dalam adu kecepatan. Mengapa mereka menunggu dan mengikuti pola permainan kami?
Game kedua berakhir imbang: 0-0. Oh… Herrera…
Pada game ketigalah mata saya mulai terbuka. Ternyata mereka memang menunggu. Namun saya merasa bahwa menunggu bukanlah karakter permainan mereka yang sesungguhnya. Menunggu adalah indikasi bahwa mereka memandang kami dengan serius. Hehehe, saya jadi ge-er sendiri. Game ini sebenarnya berlangsung imbang. Peluang dan penyelamatan terbagi rata di kedua pihak. Jelas penjaga gawang kedua timlah yang menjadi bintang. Hanya saja, dalam sebuah kemelut di pertengahan pertandingan, BG Family Club mampu memanfaatkan peluang dengan baik. Plosss!!! Dengan manis mereka mereguk kemenangan pertama.
Game keempat disudahi dengan kedudukan 1-1. Di game kelima kami kembali menelan kekalahan, 0-1.
Puncak permainan terjadi pada game keenam dan ketujuh. Dalam dua kesempatan ini, masing-masing klub menurunkan kaki-kaki mudanya. Alhasil, pertandingan berjalan cepat dan saling serang pun terjadi. Setelah menang 2-0, kami kembali menelan kekalahan di game ketujuh dengan skor 0-2. Pada game terakhir, berpartner dengan Boby, Botel, Neza, dan Kris, kami memberi pukulan terakhir yang menyamakan kedudukan keseluruhan latih tanding malam ini. Satu-satunya gol yang tercipta adalah milik saya. Kris membuka ruang di kiri pertahanan mereka sehingga saya punya sedikit ruang untuk menembak. Bam! 1-0. Dan usailah semuanya.
Dalam latih tanding kali ini, perhatian saya tersita oleh penampilan penjaga gawang BG Family Club yang berambut gondrong. Bukannya penampilan penjaga gawang kami jelek ataupun penjaga gawang mereka yang lainnya kurang mumpuni. Hanya saja, aksi si gondrong ini memang memikat. Lompat sana lompat sini menghalau tendangan ke arah gawang yang dijaganya sepenuh hati. Tak jarang si gondrong ini juga dengan berani memotong serangan jauh di luar mistar gawang. Sejujurnya, menghadapi lawan seperti ini benar-benar membangkitkan semangat bertanding.
Bagi saya, latih tanding kali ini terasa sangat menyenangkan. Saling sorak dan menyemangati mewarnai dua jam latih tanding kami. Tidak ada teriakan dan sikap yang merendahkan sportivitas. Semua tunduk pada keputusan wasit. Semua bermain sepenuh hati dan tanpa ragu mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Semangat, skill, dan taktik luruh menjadi keringat dan kegembiraan. Dan sungguh saya merasa tersanjung ketika melihat mereka pulang. Bagaimana tidak? Salah satu mobil yang mereka gunakan untuk bertandang ke Simprug ternyata adalah angkot! Saya tidak tahu apakah angkot itu milik salah seorang anggota mereka atau disewa. Namun dengan jelas sekaligus menggelitik, ini menunjukkan semangat dan komitmen mereka untuk bermain futsal.
Thanks for the game, man!
Posted in Review Pertandingan | 5 Comments »
Pernah ditilang Polantas? Lebih dari separuh, mungkin pernah. Disamping karena kita memang bukan masyarakat yang secara sadar taat peraturan lalu-lintas, rambu-rambu jalan pun memang kerap “menipu”. Antara ada dan tiada. Sekali dua dilanggar, kita lolos. Lain kesempatan, kena tilang. Seperti orang Jawa memandang kehidupan, lalu-lintas di Jakarta memang bukan hitam-putih, melainkan abu-abu.
