Legenda Uno Zero

January 24th, 2008 by eko

Bagi penggemar sepak bola Italia, rasanya tidak mungkin menyalahtafsirkan judul di atas. Uno Zero alias 1-0, itulah legenda mereka.

Melawan Italia, jika kita sudah kebobolan satu gol terlebih dulu, maka berdoalah sepanjang pertandingan agar pemain depan kita melakukan keajaiban, atau pemain belakang mereka melakukan kebodohan. Ketika kita sudah tertinggal satu gol, maka yang kita lawan bukanlah 11 pemain Italia saja, melainkan juga roh gentayangan Helenio Herrera, bapak moyangnya sistem pertahanan gerendel. Sistem yang dikutuk pemain-pemain kreatif seperti Platini, dan tidak terlalu disukai oleh Patrick Viera (yang keduanya nyata-nyata bermain di Italia. Geezzz…). Sistem yang terbukti ampuh menjadikan Italia juara dunia 2006, meskipun sekali dua mampu dijinakkan oleh pemain jenius seperti Maradona ataupun Van Basten di zaman keemasan mereka.

Persis seperti itulah yang terjadi di GOR Pertamina Simprug tadi malam. Latih tanding melawan BG Family Club (bener gak ni namanya?) berkesudahan dengan skor: 1-0, 0-0, 0-1, 1-1, 0-1, 2-0, 0-2, dan 1-0. Jika angka 2 dihilangkan, maka muncullah wajah buruk rupa namun efisien dari Helenio Herrera, hahaha…

BG Family Club, yang merupakan klub futsal berisi anak-anak muda dari Pondok Gede, bertandang ke training ground Makara FC di bilangan Simprug dengan kekuatan penuh. Tidak tanggung-tanggung. Dua mobil terisi penuh oleh kaki-kaki muda yang haus bola. Hell, saya bisa bilang apa? Futsal memang permainan yang pantas digilai kan?

Bung Ikmal, motor penggerak BG Family Club, langsung menghampiri saya ketika saya tiba di lapangan. Jam delapan kurang sepuluh. Sementara anak-anak Makara FC, yang belakangan ini kembali bergairah setelah hibernasi tahun baru, belum nongol batang hidungnya, anak-anak muda Pondok Gede ini sudah siap-siap berganti kostum. Dan ketika mereka keluar dari ruang ganti, maka menjadi birulah training ground malam itu. Dengan seragam biru-biru, ditambah sedikit nuansa emas dibagian dada, BG Family Club terlihat siap 100% untuk latih tanding. Well, it’s gonna be fun!

Seandainya saja malam itu kami memakai kostum Makara FC yang berwarna merah, tentu akan mirip pertandingan Italia vs Denmark. Tapi Denmark yang ini bukan dinamitnya yang meletus, melainkan perutnya yang gendut-gendut itulah yang meletus!

Game pertama dimulai. Saya main, dan saya mencetak gol, hahaha… Jujur saja, game ini menimbulkan tanda tanya besar dalam benak saya. Biasanya kalau saya bermain maka lawan main saya akan grasak-grusuk dan agresif menyerang. Kenapa? Karena tipe permaianan saya cenderung menunggu, mengamati, mencari kelemahan (kalau nemu), baru kemudian mengeksploitasinya (kalau memang bisa!). Satu dua menit pertama adalah masa-masa penantian. Dan “jeda” inilah yang biasanya digunakan lawan untuk merangsek dengan ganas. Namun berbeda halnya dengan BG Family Club. Mereka tidak langsung merangsek. Padahal mereka punya kaki-kaki muda yang jauh lebih cepat dari kaki saya dan teman main saya dalam game pertama ini. Dilihat posturnya juga mereka lebih ramping, yang artinya punya kesempatan besar untuk unggul dalam adu kecepatan. Mengapa mereka menunggu dan mengikuti pola permainan kami?

Game kedua berakhir imbang: 0-0. Oh… Herrera…

Pada game ketigalah mata saya mulai terbuka. Ternyata mereka memang menunggu. Namun saya merasa bahwa menunggu bukanlah karakter permainan mereka yang sesungguhnya. Menunggu adalah indikasi bahwa mereka memandang kami dengan serius. Hehehe, saya jadi ge-er sendiri. Game ini sebenarnya berlangsung imbang. Peluang dan penyelamatan terbagi rata di kedua pihak. Jelas penjaga gawang kedua timlah yang menjadi bintang. Hanya saja, dalam sebuah kemelut di pertengahan pertandingan, BG Family Club mampu memanfaatkan peluang dengan baik. Plosss!!! Dengan manis mereka mereguk kemenangan pertama.

Game keempat disudahi dengan kedudukan 1-1. Di game kelima kami kembali menelan kekalahan, 0-1.

Puncak permainan terjadi pada game keenam dan ketujuh. Dalam dua kesempatan ini, masing-masing klub menurunkan kaki-kaki mudanya. Alhasil, pertandingan berjalan cepat dan saling serang pun terjadi. Setelah menang 2-0, kami kembali menelan kekalahan di game ketujuh dengan skor 0-2. Pada game terakhir, berpartner dengan Boby, Botel, Neza, dan Kris, kami memberi pukulan terakhir yang menyamakan kedudukan keseluruhan latih tanding malam ini. Satu-satunya gol yang tercipta adalah milik saya. Kris membuka ruang di kiri pertahanan mereka sehingga saya punya sedikit ruang untuk menembak. Bam! 1-0. Dan usailah semuanya.

Dalam latih tanding kali ini, perhatian saya tersita oleh penampilan penjaga gawang BG Family Club yang berambut gondrong. Bukannya penampilan penjaga gawang kami jelek ataupun penjaga gawang mereka yang lainnya kurang mumpuni. Hanya saja, aksi si gondrong ini memang memikat. Lompat sana lompat sini menghalau tendangan ke arah gawang yang dijaganya sepenuh hati. Tak jarang si gondrong ini juga dengan berani memotong serangan jauh di luar mistar gawang. Sejujurnya, menghadapi lawan seperti ini benar-benar membangkitkan semangat bertanding.

Bagi saya, latih tanding kali ini terasa sangat menyenangkan. Saling sorak dan menyemangati mewarnai dua jam latih tanding kami. Tidak ada teriakan dan sikap yang merendahkan sportivitas. Semua tunduk pada keputusan wasit. Semua bermain sepenuh hati dan tanpa ragu mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Semangat, skill, dan taktik luruh menjadi keringat dan kegembiraan. Dan sungguh saya merasa tersanjung ketika melihat mereka pulang. Bagaimana tidak? Salah satu mobil yang mereka gunakan untuk bertandang ke Simprug ternyata adalah angkot! Saya tidak tahu apakah angkot itu milik salah seorang anggota mereka atau disewa. Namun dengan jelas sekaligus menggelitik, ini menunjukkan semangat dan komitmen mereka untuk bermain futsal.

Thanks for the game, man!

Posted in Review Pertandingan | 6 Comments »

Polantas kok Kena Semprit?

January 11th, 2008 by eko

Pernah ditilang Polantas? Lebih dari separuh, mungkin pernah. Disamping karena kita memang bukan masyarakat yang secara sadar taat peraturan lalu-lintas, rambu-rambu jalan pun memang kerap “menipu”. Antara ada dan tiada. Sekali dua dilanggar, kita lolos. Lain kesempatan, kena tilang. Seperti orang Jawa memandang kehidupan, lalu-lintas di Jakarta memang bukan hitam-putih, melainkan abu-abu.

Di jalanan, kalau sudah kena semprit, siapapun mesti berhenti. Tidak peduli apakah itu bajaj, ojeg, motor yang makin hari makin gak punya otak, metro mini yang memang sudah lama meninggalkan otak di laci, ataukah mobil mewah yang hampir pasti tidak akan pernah saya miliki. Semua tunduk pada sempritan maut Pak Polantas yang galak. Meskipun hati ciut dan kesal, dengan terpaksa kita akan tersenyum kecut. Apalagi kalau sudah lihat Pak Polantas datang memberi hormat dan menyapa, “Selamat siang, Pak!”Aduh…

Namun tidak demikian kejadiannya Rabu malam yang lalu. Sepasukan Polantas dari Komdak kehilangan kegarangannya. Sempritannya tidak laku. Alih-alih menyemprit, malah mereka yang sering kena semprit. Wajar saja, soalnya mereka berada di lapangan futsal GOR Pertamina Simprug bersama kami, Makara FC. Dan di lapangan itu, hanya satu sempritan yang berlaku: milik wasit! Hahaha… Bagaimana ya rasanya kena semprit kalau sehari-hari kita biasa menyemprit orang?

Makara FC memang tidak pernah pilih-pilih lawan latih tanding. Selama mereka menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan menghormati wasit serta peraturan futsal, berarti mereka adalah lawan yang sepadan. Kami toh bukan sekumpulan atlit yang menargetkan untuk juara dunia. Lebih mirip sekumpulan artis malah… Artis lenong!

Sial bagi kami, malam itu sebagian besar anggota yang berusia muda berhalangan hadir. Ada yang masih liburan di Bali, sedang tugas ke luar kota, dan beberapa ternyata masih belum kembali dari kampung. Alhasil, porak-porandalah kami, Makara FC versi tua ini dihajar para Polantas dari Komdak. Dari 7 game yang dimainkan (setiap game berdurasi 10 menit), hanya dua yang kami menangkan. Kecepatan dan stamina menjadi borok yang menganga. Ditambah permainan beberapa personil mereka (seperti Umar dan Said) yang memang baik, jadilah kami bulan-bulanan belaka.

Game pertama sudah berlangsung cepat. Saya hanya bisa terbengong-bengong ketika gol pertama melesak ke gawang kami. 1-0. Sepanjang game ini kami, Makara FC versi tua, hanya bisa bertahan dan sesekali melancarkan serangan balik yang tidak bisa dibilang mengancam. Dengan gesit empat personil Polantas merangsek dan membombardir pertahanan kami. Akhirnya, setelah mati-matian bertahan, Makara FC kebobolan untuk kedua kalinya. Itulah skor akhir dari game pertama.

Game kedua dan ketiga berlangsung dengan arah yang sama. Kehadiran empat darah muda dari Univ. Bina Nusantara: Kris, Neza, Fajar, dan Mardi, ternyata tidak memberi dampak signifikan. Kecepatan gerak memang jadi terimbangi. Namun tetap saja gol demi gol datang menghujani. Bukan apa-apa, mereka memang masuk dalam rombongan yang sering bolos latihan. Ya seperti rambu jalan itu tadi, antara ada dan tiada.

Yang paling saya ingat adalah game ke-4. Bukan hanya karena di game ini kami meraih kemenangan, namun formasi di game inilah yang menarik. Kecuali Aji yang menjadi penjaga gawang, formasi Makara FC untuk game ini diisi oleh alumni Makara FC jaman di Park Royale, hampir lima tahun yang lalu! Saya, Refat, Budi, dan Wong Jo. Rasanya enak sekali bermain bersama kawan lama. Dan pengalamanlah yang akhirnya membimbing kami untuk meladeni keunggulan fisik dengan efektifitas gerak. Daya jelajah dan kecepatan pasukan Polantas kami imbangi dengan disiplin dan umpan satu dua. Formasi bernuansa cattenacio, 1-2-1, dipadu dengan fast break yang cukup efektif membawa Makara FC unggul. Tidak tanggung-tanggung, saya dan Refat total mengemas 5 gol! Hahaha… sweet victory

Kekalahan pada game ini menjadi tamparan untuk tim Polantas dari Komdak. Mereka mengatur ulang barisan dan bermain lebih apik pada game berikutnya. Makara FC muda yang digawangi anak-anak Binus juga akhirnya mampu memperbaiki permainan. Dengan lugas mereka mengimbangi permainan lawan. Gol terjadi silih berganti. Saya lupa bagaimana kedudukan akhirnya. Namun yang jelas, tiga game terakhir berjalan lebih baik bagi Makara FC. Entah karena kami sudah lebih baik, atau karena lawan yang mulai kelelahan.

Latih tanding kali ini diakhiri pada game ke-7. Dan seperti biasa, agenda akhir adalah photo session. Benar-benar kaya’ artis kan?

Terima kasih Pak Polantas atas latih tanding yang seru ini. Kalau bertemu di jalan dan kebetulan kami melanggar rambu lalu-lintas, mohon kami ditegur saja, jangan ditilang, hahaha…

Posted in Review Pertandingan | 3 Comments »

Catatan Sepak Bola Sindhunata

January 3rd, 2008 by eko

Sepak bola adalah kisah manusia. Perjuangan, kemenangan, kekalahan, air mata, kejayaan, serta tragedi. Kita, manusia yang selalu haus akan pahlawan, mencari pahlawannya masing-masing di sudut-sudut dunia yang berbeda-beda. Dan sepakbola adalah salah satu sudut yang paling banyak menguak cerita kepahlawanan semacam ini. Bukan hal yang aneh jika arena sepak bola berubah menjadi tempat pemujaan layaknya masjid, gereja, ataupun vihara, dimana puluhan ribu manusia datang untuk memuja pahlawannya. Meski pada akhirnya, kerap mereka hanya mendapatkan air mata.

Inilah yang ditangkap oleh Sindhunata dalam Catatan Sepak Bola Sindhunata yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Catatan dan pemahamannya mengenai riak dan gelombang dunia sepak bola tertuang lugas dan penuh makna dalam rangkaian tiga buku ini. Dari Menotti hingga Ferguson. Mulai Maradona sampai Beckham. Dan lebih dari itu semua, kerap ia memaparkan aspek filsafat dari semua kejadian sepak bola yang ditulisnya. Wajar saja mengingat Romo Sindhu, panggilan akrab rekan-rekan kerjanya, memang penulis sekaligus wartawan yang juga adalah filsuf. Dan, tentu saja, dia adalah salah satu penulis lokal favorit saya, selain Pramoedya.

Ketiga buku yang diterbitkan Mei 2002 tersebut, masing-masing adalah Bola di Balik Bulan (296 halaman), Air Mata Bola (276 halaman), dan Bola-Bola Nasib (320 halaman). Berikut ini adalah cuplikan dari beberapa bab di dalam masing-masing buku tersebut.

Bola di Balik Bulan
Amerika sudah menemukan bulan, tapi belum menemukan bola. Maka dibuatlah sebuah poster besar lain, yang menggambarkan astronot Neill Amstrong mendarat di bulan. Dan di bulan itu Neill Amstrong menemukan bola. Di samping bola itu ditancapkannya bendera Amerika. (Menemukan Bola di Bulan, 178-183).

Piala Eropa 1992 menarik, tapi juga membosankan. Tukang membuat bosan itu adalah Prancis dan Inggris. Keduanya adalah favorit Grup A. Tetapi ketika bertemu, mereka berduel bagai pendekar tanpa ilmu. Denmark dan Swedia, kendati mereka berdua tidak difavoritkan, malah tahu, bagaimana menarik hati publik bola. (Pulangkan Saja Inggris dan Prancis Itu ke Rumahnya!, 48-54).

Namun, ia juga bilang, sementara ini ia telah banyak belajar dari kehidupan. Dari kehidupan ini ia tahu, bahwa kadang kala orang harus menahan diri, karena tidak segala-galanya bergantung padanya. Dalam peristiwa semacam itu sekaligus ia menyadari, bahwa dalam dunia bola, Tuhan yang umumnya dikira tidak ada ternyata ada. (Anak-anak yang Disayangi Dewi Fortuna, 99-105).

Air Mata Bola
Hidup yang rutin ini tidak pernah memberikan intensitas kepada manusia. Sepak bola dapat memberikan pengalaman akan intensitas itu, bila bola berubah menjadi gol. Dari tadi orang menanti gol, ia tidak tahu kapan gol itu terjadi. Tiba-tiba gol itu terjadi tanpa terduga dan takkan dapat terulang lagi. Di sinilah bola membentur kehidupan yang kosong dan rutin. Dan dalam benturan itulah bola memberikan kebahgiaan. (Air Mata di Stadion Wembley, 42-47).

Dua belas tahun lalu, Inggris dikalahkan Argentina hanya karena bantuan tangan Tuhan, yang bekerja lewat tangan Maradona. Sekarang Inggris dikalahkan oleh dirinya sendiri karena kesembronoan Beckham. Good-bye England! (Selamat Jalan, Inggris, 205-209).

Bola-Bola Nasib
TV Belanda pernah membuat begini. Gerak Van Basten ditampilkan di layar. Setelah itu disusul dengan penampilan gerak penari balet Clint Farrah. Ya ampun, ternyata gerak Van Basten mirip banyak dengan gerak Clint Farrah! Dengan bola di kaki, toh gerak Van Basten adalah gerak seorang penari. Hukum kekerasan bola lain dengan kreasi keindahan gerak seorang penari. Tetapi kalau keduanya jadi kombinasi, maka maklum menghadapi Van Basten para lawan sulit beradaptasi. Kesimpulannya: Van Basten adalah “borer lapangan hijau”, yang sekaligus adalah “penari balet” dengan bola di kaki. (Teka-teki “Sphinx” dari Belanda, 63-69).

Kisah Maradona memang kaya dengan variasi. Kisah yang berkembang-kembang. Banyak yang membencinya, tapi banyak juga yang mencintainya. Ia adalah pembelai dalam arti banyak: bola, wanita, publik. Demikian jago dia membelai, maka maklum dia juga paling enak untuk dijadikan sasaran kritik, lebih-lebih jika dia melakukan “salah belai”. Itu semuanya membuktikan bahwa Maradona memang seorang pemain bintang. (Duel Dua Maradona, 167-173).

Posted in Book Review | 5 Comments »

« Previous Entries