Polantas kok Kena Semprit?
Pernah ditilang Polantas? Lebih dari separuh, mungkin pernah. Disamping karena kita memang bukan masyarakat yang secara sadar taat peraturan lalu-lintas, rambu-rambu jalan pun memang kerap “menipu”. Antara ada dan tiada. Sekali dua dilanggar, kita lolos. Lain kesempatan, kena tilang. Seperti orang Jawa memandang kehidupan, lalu-lintas di Jakarta memang bukan hitam-putih, melainkan abu-abu.
Di jalanan, kalau sudah kena semprit, siapapun mesti berhenti. Tidak peduli apakah itu bajaj, ojeg, motor yang makin hari makin gak punya otak, metro mini yang memang sudah lama meninggalkan otak di laci, ataukah mobil mewah yang hampir pasti tidak akan pernah saya miliki. Semua tunduk pada sempritan maut Pak Polantas yang galak. Meskipun hati ciut dan kesal, dengan terpaksa kita akan tersenyum kecut. Apalagi kalau sudah lihat Pak Polantas datang memberi hormat dan menyapa, “Selamat siang, Pak!”Aduh…
Namun tidak demikian kejadiannya Rabu malam yang lalu. Sepasukan Polantas dari Komdak kehilangan kegarangannya. Sempritannya tidak laku. Alih-alih menyemprit, malah mereka yang sering kena semprit. Wajar saja, soalnya mereka berada di lapangan futsal GOR Pertamina Simprug bersama kami, Makara FC. Dan di lapangan itu, hanya satu sempritan yang berlaku: milik wasit! Hahaha… Bagaimana ya rasanya kena semprit kalau sehari-hari kita biasa menyemprit orang?
Makara FC memang tidak pernah pilih-pilih lawan latih tanding. Selama mereka menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan menghormati wasit serta peraturan futsal, berarti mereka adalah lawan yang sepadan. Kami toh bukan sekumpulan atlit yang menargetkan untuk juara dunia. Lebih mirip sekumpulan artis malah… Artis lenong!
Sial bagi kami, malam itu sebagian besar anggota yang berusia muda berhalangan hadir. Ada yang masih liburan di Bali, sedang tugas ke luar kota, dan beberapa ternyata masih belum kembali dari kampung. Alhasil, porak-porandalah kami, Makara FC versi tua ini dihajar para Polantas dari Komdak. Dari 7 game yang dimainkan (setiap game berdurasi 10 menit), hanya dua yang kami menangkan. Kecepatan dan stamina menjadi borok yang menganga. Ditambah permainan beberapa personil mereka (seperti Umar dan Said) yang memang baik, jadilah kami bulan-bulanan belaka.
Game pertama sudah berlangsung cepat. Saya hanya bisa terbengong-bengong ketika gol pertama melesak ke gawang kami. 1-0. Sepanjang game ini kami, Makara FC versi tua, hanya bisa bertahan dan sesekali melancarkan serangan balik yang tidak bisa dibilang mengancam. Dengan gesit empat personil Polantas merangsek dan membombardir pertahanan kami. Akhirnya, setelah mati-matian bertahan, Makara FC kebobolan untuk kedua kalinya. Itulah skor akhir dari game pertama.
Game kedua dan ketiga berlangsung dengan arah yang sama. Kehadiran empat darah muda dari Univ. Bina Nusantara: Kris, Neza, Fajar, dan Mardi, ternyata tidak memberi dampak signifikan. Kecepatan gerak memang jadi terimbangi. Namun tetap saja gol demi gol datang menghujani. Bukan apa-apa, mereka memang masuk dalam rombongan yang sering bolos latihan. Ya seperti rambu jalan itu tadi, antara ada dan tiada.
Yang paling saya ingat adalah game ke-4. Bukan hanya karena di game ini kami meraih kemenangan, namun formasi di game inilah yang menarik. Kecuali Aji yang menjadi penjaga gawang, formasi Makara FC untuk game ini diisi oleh alumni Makara FC jaman di Park Royale, hampir lima tahun yang lalu! Saya, Refat, Budi, dan Wong Jo. Rasanya enak sekali bermain bersama kawan lama. Dan pengalamanlah yang akhirnya membimbing kami untuk meladeni keunggulan fisik dengan efektifitas gerak. Daya jelajah dan kecepatan pasukan Polantas kami imbangi dengan disiplin dan umpan satu dua. Formasi bernuansa cattenacio, 1-2-1, dipadu dengan fast break yang cukup efektif membawa Makara FC unggul. Tidak tanggung-tanggung, saya dan Refat total mengemas 5 gol! Hahaha… sweet victory…
Kekalahan pada game ini menjadi tamparan untuk tim Polantas dari Komdak. Mereka mengatur ulang barisan dan bermain lebih apik pada game berikutnya. Makara FC muda yang digawangi anak-anak Binus juga akhirnya mampu memperbaiki permainan. Dengan lugas mereka mengimbangi permainan lawan. Gol terjadi silih berganti. Saya lupa bagaimana kedudukan akhirnya. Namun yang jelas, tiga game terakhir berjalan lebih baik bagi Makara FC. Entah karena kami sudah lebih baik, atau karena lawan yang mulai kelelahan.
Latih tanding kali ini diakhiri pada game ke-7. Dan seperti biasa, agenda akhir adalah photo session. Benar-benar kaya’ artis kan?
Terima kasih Pak Polantas atas latih tanding yang seru ini. Kalau bertemu di jalan dan kebetulan kami melanggar rambu lalu-lintas, mohon kami ditegur saja, jangan ditilang, hahaha…
Posted in Review Pertandingan

sejak kapan si mardi masuk binus…… waduh, rusak deh nama kampus gw karena ada nama dia… :p
wah, sori bos
kirain si mardi anak kampus lo juga
soalnya lo kan kemana-mana selalu berempat, kaya’ fantastic four, hehe…
ngga juga ah,,,pak polantas ga segarang itu,,,
buktinya setiap gue disemprit,,,gue bilang,,,sori dan,,buru2 mau liputan,,,akhirnya pak polantas bilang,,,kmu itu ya,,giliran polisi yang salah ditulis yang nggak2,,giliran kmu yang salah aja,,,ya sudah,,,awas jangan diulangi lagi,,,hehehehehe,,,,
makasih ya para pak polisi,,,jangan galak2 ya,,,kita kan sahabat hehehehehehehe,,,,