Melepas Pegal dengan Futsal
Berikut ini adalah ulasan mengenai futsal yang dimuat dalam majalah Intisari edisi Oktober 2007. Penulisnya sendiri, T. Tjahjo Widyasmoro, yang juga adalah mantan teman satu kos saya, sejauh yang saya pahami jelas lebih jago bermain gitar dibanding menendang bola, hahaha…
Banyak pekerja kantoran yang memilih bermain futsal seusai bekerja untuk mengusir kepenatan kerja. Ada yang sekadar “cari keringat” atau memang sudah hobinya, tapi ada juga yang serius mengembangkannya…
Nafas Adi Nugroho terengah-engah. Jantungnya dirasakan berdegup cepat. Butir-butir peluh sebiji jagung jatuh membasahi hampir di sekujur tubuh. Rasa panas juga terasa menjalar dari pundak ke punggungnya.
Tubuh Adi yang gempal itu sebenarnya sudah kepayahan, setelah lebih dari 30 menit berlari-lari untuk mengejar dan menendang bola. Masalahnya, saat itu timnya masih ketinggalan skor 2-3 dari tim lawan. Padahal permainan sudah memasuki menit-menit terakhir atau injury time.
Dari pinggir lapangan, sorak-sorai yang diselingi ejekan dari penonton terus terdengar. Tuh lihat! Tim lawan mulai menyusun serangan lagi. Adi memaksakan diri bangkit menghadang gempuran para pemain yang sebenarnya rata-rata lebih senior tapi tetap bersemangat ‘45 itu. “Malu dong kalau sampai kalah,” ujar pria kelahiran Brebes berusia 32 tahun ini sambil berlari sigap.
Sayang, tak lama kemudian … priiit!. Sampai wasit meniup pluit tanda pertandingan berakhir, skor tidak berubah. Para pemain saling bersalaman. Tak ada tepuk dada jumawa atau rasa kecewa, karena pertandingan tadi sekadar permainan untuk melepas kepenatan kerja sambil “mencari keringat”. Yang penting semua orang bisa ikut bermain dan merasa senang.
Kira-kira begitulah aktivitas rutin Adi dan rekan-rekan kerjanya di Kementerian Negara Perumahan Rakyat. Setiap Rabu, pukul 18.00, mereka bertemu di lapangan sepakbola indoor De Futsal di daerah Karet, Jakarta Selatan, untuk bermain futsal. “Cuma sekadar main-mainan saja. Kalau tidak begini, kapan lagi sempat berolah raga,” tutur pegawai di bagian keuangan ini.
Omongan Adi diamini rekan-rekannya yang malam itu semua bermandi keringat dan tampak terus berusaha memulihkan napas. Karenanya mereka tidak peduli soal kalah-menang, teknik permainan, termasuk soal aturan permainannya. Kalau yang datang cuma tujuh orang, ya langsung saja digelar permainannya. Begitu ada pemain baru yang datang, langsung diminta menggantikan mereka yang kepayahan. Kalau semua pemain kelelahan? Pertandingan berhenti. Aturannya sederhana ‘kan?
Sulit Mendapat Jadwal Kosong
Bermain sepak bola mini, yang lebih dikenal sebagai futsal, memang menjadi solusi baru para pekerja kantoran di Jakarta untuk refreshing mengusir kepenatan setelah lelah bekerja. Bagi mereka, menggiring bola, melewati hadangan lawan, lalu menendang sekeras-kerasnya ke arah gawang, bisa mengembalikan energi yang terkuras setelah sekian lama berkutat dengan pekerjaan.
Jangan berpikir dulu soal olahraga atau latihan fisik yang begitu rumit. Di sini yang lebih menonjol adalah semata-mata unsur kegembiraan dulu dibanding yang lain-lain. Maklum, porsi gerak tubuh para pegawai itu sangat jauh dari ideal untuk mencapai kebugaran, yakni cuma seminggu sekali selama kurang dari satu jam saja.
Demam futsal a la pegawai kantoran ini bisa ditengok langsung pada belasan lapangan futsal yang ada di Jakarta. Saat ini untuk mendapatkan jadwal kosong sewa lapangan pada hari-hari kerja antara jam 17.00 - 22.00, boleh dikata sangat sulit. Pada jam-jam kantor atau ketika akhir pekan dan hari libur, justru malah lebih lowong.
Lapangan paling diminati terutama yang berada di sekitar area padat perkantoran seperti di daerah Kuningan, Sudirman, atau Senayan. Dengan kelipatan penyewaan per jam, semua lapangan rata-rata sudah dipesan tim-tim yang umumnya para pekerja kantoran. Mereka ada yang berasal dari satu perusahaan, atau beberapa individu yang membentuk komunitas seperti klub.
Waktu untuk ber-futsal-ria biasanya sepulang kerja. Kalau kebetulan tidak ada kesibukan yang mengharuskan lembur atau tugas luar, mereka langsung menuju lapangan futsal dalam ruangan terdekat dari kantor. Mengingat jadwal pemakaian lapangan yang ketat, sesampainya di sana mereka harus segera berganti pakaian olahraga, melakukan sedikit pemanasan, lalu langsung turun ke lapangan.
Usia memang sudah tidak muda lagi, tapi para amatiran berusia 25 - 40 tahunan umumnya masih riang dan bersemangat. Soal teknik dan stamina, juga bukan soal utama. Pemain seperti Adi misalnya, sengaja memilih futsal lantaran tidak banyak aturan yang bikin ribet. Asal kelihatan bisa lari, menggiring bola lalu mengopernya ke kawan saja, sudah cukup sah. “Kita toh tidak mencari prestasi,” jelas pria yang juga penyuka bulu tangkis ini.
Kemenarikan lainnya, lantaran futsal juga bisa dimainkan massal. Para pekerja berbagai tingkatan mulai dari manajer sampai satpam, bisa bermain bersama di lapangan tanpa ada sekat struktural. “Kita bermain tanpa harus rikuh. Semua dianggap sama, sesuatu yang jarang bisa dilakukan di kantor,” tutur Adi. Makanya, alumnus Institut Teknologi Surabaya ini menolak anggapan bahwa yang main futsal seolah-olah cuma kaum eksekutif saja.
Uniknya lagi, kebersamaan ini berlaku juga untuk urusan bayar sewa lapangan. Tarif sewa per jam yang berkisar Rp 200.000 – 300.000, didapat dari saweran sekitar 15 - 20 pemain.
Banyaknya orang yang terlibat, membuat Adi merasa lebih termotivasi berolahraga. Pernah juga ia beberapa waktu mencoba berolahraga jogging sendirian di Senayan. Tapi lantaran tidak ada teman, lama-lama semangatnya kendor. Di kantor sebenarnya juga tersedia sarana olahraga untuk bulu tangkis atau voli, tapi ia takut kehilangan motivasi berolah raga lagi.
Di samping pemain-pemain futsal gembira tadi, ada juga jenis pekerja kantoran lain seperti Jaston Sinaga, yang main futsal lantaran dari sono-nya sudah menggandrungi sepak bola. Dari kecil sudah main bola, sampai sekarang ia tidak rela jauh-jauh dari hobinya itu. “Apalagi sekarang ada futsal yang lebih praktis dan bisa dimainkan kapan saja, jadi semakin enak,” jelas pria berusia 39 tahun yang masih energik ini.
Saking gila bola, saat ini Jaston masih tergabung dalam dua kelompok futsal, yaitu rekan-rekan sekantornya di Nokia Siemens Network yang bermain di Klub Rasuna atau bisa bergabung dengan sesama alumni Institut Teknologi Bandung di GOR Simpruk. Keduanya bertemu setiap Selasa jam 20.00, selama 2 jam. Kalau masih ada waktu, ia masih ikutan lagi dengan teman-teman kuliahnya yang rutin merumput di Stadion Lebak Bulus setiap akhir pekan.
“Kalau cukup berolah raga, tubuh kita jelas terasa lebih segar. Ini penting terutama buat mereka yang tidak bekerja di lapangan, cuma di belakang meja saja,” jelas Jaston. Kebetulan, ia sendiri sering bertugas di lapangan, jadi tubuhnya juga semakin sering bergerak. “Saya ini boleh dibilang jarang sakit yang berat-beratlah. Mungkin ini manfaatnya suka berolahraga.”
Beruntung rekan-rekan Jaston di kantor punya antusiasme yang sama. Paling tidak tim kantornya lebih serius saat bermain, punya kostum ngejreng, serta rajin bertanding dengan tim-tim lain yang diistilahkan sebagai sparring. Peringatan 17 Agustus-an tahun lalu, tim Siemens juga ikut turnamen futsal antar perusahaan telekomunikasi. Soal menang atau tidak, buat Jaston bukanlah hal yang penting.
Biar Enggak Malu-maluin
Niatan lebih serius lagi untuk menjadikan fustal sebagai bagian dari aktivitas rutin gerak tubuhlah yang akhirnya membuat beberapa alumnus Universitas Indonesia membentuk Makara Futsal Club. Awalnya, mirip seperti pekerja kantoran lain yang iseng bermain futsal untuk menguras keringat. Kini jadwal latihan mereka tetap, setiap Rabu malam di GOR Simpruk.
Layaknya klub resmi, Makara FC punya manajemen kepengurusan serta program latihan rutin (situs web-nya juga lumayan bagus lo!). Pendeknya, mereka serius kepingin membangun klub futsal amatir bagi para pekerja kantoran. Belakangan, mungkin karena menarik, beberapa orang yang berstatus mahasiswa juga ikut bergabung.
Seminggu sekali, sekitar 30-an orang anggota berlatih dibimbing seorang pelatih bayaran yang memperkenalkan teknik-teknik dasar dan strategi permainan futsal. “Cuma yang dasar saja, biar enggak malu-maluin kalau lagi tanding,” tutur Eko Prabowo, 28 tahun, salah satu pentolan Makara FC. Hasil latihan diuji lewat turnamen-turnamen futsal yang kini menjamur atau sekadar latih tanding dengan komunitas futsal lain.
Buat seseorang yang gila bola seperti Eko, futsal sudah bukan lagi soal tendang-tendangan bola. Ia mencoba mendalaminya sebagai olah raganya masyarakat perkotaan yang notabene punya banyak keterbatasan. Futsal bisa menjawabnya karena olahraga ini tidak membutuhkan lahan besar untuk lapangan, bisa dimainkan kapan saja tanpa terpengaruh cuaca atau waktu, serta jumlah pemainnya relatif sedikit.
Sebagai evolusi dari sepakbola konvensional, aturan-aturan futsal juga lebih “beradab”. Misalnya saat bermain tidak dikenal teknik merebut bola dengan cara meluncur dan mengganjal (sliding tackle) atau beradu badan saat berebut bola (body charge). Kalau nekat, akibatnya bisa fatal, karena futsal umumnya dimainkan di lapangan keras.
Karena teknik yang lebih penting (dibanding fisik) futsal juga semakin cocok untuk pekerja kantoran yang mudah ngos-ngosan. “Paling tidak, bisa jadi alternatif untuk berolah raga yang menyenangkan dibanding jogging atau fitness,” jelas Eko. Karenanya ia yakin, futsal akan semakin meluas di masa depan dan bukan sekadar trend yang hangat-hangat susu coklat saja.
Ya, kita tunggu saja, sambil terus bermain futsal…
Andai Bermain di Lapangan Rumput Sintetis
Menjamurnya lapangan sepak bola indoor di Jakarta, menawarkan beraneka ragam bahan dasar lapangan. Ada yang terbuat dari karet, kayu, atau rumput sintetik. Sebaiknya kenali betul karakter tiap bahan lapangan agar bisa lebih maksimal dalam ber-futsal-ria.
Menurut “aturannya”, futsal seharusnya hanya dimainkan di atas lapangan berbahan karet dan kayu. Peraturan ini juga yang berlaku di turnamen-turnamen futsal internasional. Sedangkan rumput sintetik, yang sebenarnya merupakan pengganti rumput biasa, sebenarnya lebih cocok digunakan untuk bermain sepa kbola biasa.
Perbedaan jenis lapangan berpengaruh terhadap bola dan sepatu yang digunakan. Pada lapangan rumput sintetik, bola futsal (nomor 4) yang mempunyai tingkat pantulan rendah, akan terasa alot jika dimainkan. Sepatu futsal yang permukaan solnya rata, juga terasa lebih licin dan akibatnya rawan terjadi cedera.
Untuk lapangan berumput sintetik, bisa digunakan jenis sepatu turf yang solnya bergerigi, agar pemain tidak mudah terpeleset. Bolanya juga harus disesuaikan, yaitu bola dengan tingkat pantulan yang lebih tinggi. Selamat bermain!
Posted in Artikel

Jujur aja… saya belum baca tulisan ini… tapi kok dari judulnya aja, saya kurang setuju…
“MELEPAS PEGAL DENGAN FUTSAL”
Pengalaman saya kalo yang namanya olahraga ya… pasti membutuhkan energi, terus ujung-ujungnya ya jadi pegal… hehehe
tapi emang biasanya setelah maen futsal ato bola, jika ada waktu saya sempatkan untuk ke tukang pijat tuna netra… jadi pegal-2nya ilang
anyway, biarpun bikin pegal tapi futsal tetap olahraga favorit saya saat ini, setelah badminton dan sepak bola…
TETAP SEMANGAT!!!
huehehe… pijat tunanetra?
yakin lo Bob?
kalo gua sih, setelah futsal yg penting pendinginan
sebentar aja, bangsa 10 menitan, udah cukup
hasilnya?
setelah bangun pagi (karena maennya sore/malem) badan gak akan terasa pegal2 amat
bener lho!
bukannya sok atlit, tapi pemanasan dan pendinginan itu membantu banget untuk otot2 tua dan berlemak kayak gua ini, hehehe…
Nah itu dia mas Eko, pendinginan penting bgt tuh..
Waktu latihan kmaren2 sempet sih ada pendinginan
tapi karena gerakan2nya itu murni kreatifitas si “pelatih” sendiri
jadinya kagak ada dingin2nya deh.. heueheuhuehue
nanti kalo udah ada pelatih beneran,
kita galakkan lagi pendinginannya,
ah… seinget gua siy, pelatih yg kemaren itu gerakan pendinginannya lebih tepat “berbau mesum” daripada “kreatif”, huehehehe…
Hehehe…
Bung Eko, gw dah baca artikel di atas… saran aja gimana kalo semua media yang ada artikel tentang MAKARA FC disimpan yang rapih sebagai arsip kita… mungkin perlu dimodalin beli ALBUM yang nanti diisi dengan artikel-artikel dari beberapa media yang telah meliput MAKARA FC…
Mengenai pendinginan… Bung Roy, yang dipercaya memimpin latihan kan sudah berusaha menggabungkan antara “kreatifitas” dan “experience” yang dimilikinya, tapi kalo ternyata hasilnya justru “berbau mesum”… harap dimaklumi namanya juga “kreatifitas tak terbatas” hehehe
Btw, udah ada calon pelatih?
Ato bikin artikel aja tentang rencana MAKARA FC mencari pelatih baru, trus kita bikin semacam acara “INDONESIAN IDOL” dengan nama “COACH IDOL MAKARA FC”… jadi nanti ada Tim Seleksi Pelatih yang bertugas menentukan pelatih yang dipilih MAKARA FC (gaya banget yah…, macam gaji dan fasilitasnya gede aja hehehe)
TETAP SEMANGAT!!!
Boby Satya
mantan Presiden MAKARA FC
Sukses terus buat rekans Makara Futsal, semoga semangat dan prestasi seimang dengan pengeluaran. He he he
Mas Eko pelatihnya dulu pernah jadi trainer BL kali. Nah begitu di Futsal di terapkan hal yang sama biar pinggang para pemainnya bagus-bagus, jadi kalau lagi mengecoh lawan langsung terkecoh ngeliat gerakan pinggulnya, ha ha ha
Anwar
http://www.kebangkitanfutsal.blogspot.com
Hai…bagi yang mau buka bisnis lapangan futsal,silahkan hubungi 0819 0565 6161 atau ke claudia_saiya@yahoo.co.id
kita akan membantu anda dalam membuat lapangan futsal dengan rumput sinthetic, Synthetic Rubber, maupun Agrylic Coating, Indoor maupun Outdoor. Silahkan Hubungi di 0819 0565 6161 atau email claudia_saiya@yahoo.co.id
Bagi yang ingin serius membuka usaha lapangan Futsal, silahkan hubungi kami segera, kami akan memberikan harga yang sangat khusus bagi anda silahkan email di claudia_saiya@yahoo.co.id.
kami juga dapat merenovasi lapangan futsal anda, apabila lapangan futsal anda sudah tidak nyaman lagi untuk di gunakan silahkan hubungi kami di PT Datra Internusa telpon (021) 589 05618, 589 05619 atau claudia@datragroup.com
kami juga dapat merenovasi lapangan futsal anda, apabila lapangan futsal anda sudah tidak nyaman lagi untuk di gunakan silahkan hubungi kami di PT Datra Internusa telpon (021) 589 05618, 589 05619, 3225 1061 atau email kami di claudia@datragroup.com
Hallo Futsallovers,
mo tanya ke teman2 pencinta futsal di Makara FC, ada ga sih invitasi futsal antar perusahaan yang sudah berjalan sekarang ini? Mungkin teman2 di Makara FC bisa bantu, atau sekalian silaturahmi kita adakan pertandingan persahabatan dengan kantor saya, ditunggu responnya ya (silahkan email ke yulius.rachman@oto.co.id)