Jangan Percaya Sama Media!
Masih ingatkah Anda pada maraknya pemberitaan media massa seputar unggulan Euro 2008 dua minggu yang lalu? Semua media, domestik maupun internasional, menuliskan ramalannya masing-masing. Mulai Portugal dengan CR7-nya, Belanda dengan total football-nya, Italia dengan kegagahannya sebagai juara dunia 2006, Ceska dengan ketangguhan Cech dibawah mistar gawang, Spanyol dengan sekumpulan penyerang dan gelandang yang super tajam, hingga Jerman dengan metode latihan yang ultra-modern, semua digadang-gadang akan menjadi yang terkuat.
Berapa persen yang terbukti benar? Sejauh ini hanya 2 dari 6, alias 33% saja! Maka dari itu, saya katakan kepada Anda: Jangan percaya sama media!
Kalau yang terbukti salah meramal itu media ataupun kolumnis ecek-ecek sih saya tidak akan ambil pusing. Masalahnya, yang terbukti kurang akurat itu adalah penulis-penulis yang selama ini menjadi favorit saya, hehehe…
Rob Hughes, dalam ulasannya di tabloid Bola, jauh-jauh hari sudah mendewakan CR7 dan Portugal. Apa lacur, tim ini kandas digilas roda-roda diesel dari negeri bavaria. Sindhunata, meskipun (saya yakin) dalam hatinya masih mencintai Jerman, begitu berbunga-bunga memuji pertunjukan total football yang disajikan Santo Marco dan anak-anak asuhannya yang berwarna oranye.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Belanda, pada pertandingan terkahir, dengan permainan seperti segerombolan anak ayam kehilangan induk, harus bertekuk lutut di kaki beruang merah. “In Guus we trust”, begitu kata anak-anak muda dari negeri yang dingin itu. Dan benarlah! Total football dari Moskow menelan total football dari Amsterdam bulat-bulat. Bunga-bunga tulip yang semula mekar kini hanyut bersama limpasan air mata orang Swiss dan Belanda.
Hanya Menotti dan Beckenbauer yang terbukti memiliki intuisi tajam. Wajar saja, keduanya pernah sama-sama menempuh kerasnya perjalanan menuju puncak dunia sepak bola dengan sukses. Dari awal turnamen, Menotti yang filsuf sepak bola itu sudah mencela Portugal. “Portugal selalu terlihat sebagai tim yang bagus,” demikian selorohnya. Artinya, tim tersebut hanya terlihat saja seolah-olah bagus. Namun, menurut penilaiannya, tim tersebut tidak memiliki komponen yang dibutuhkan untuk menjuarai turnamen seberat Euro 2008.
Lain lagi dengan Beckenbauer, sang kaisar. Meskipun dia selalu menulis dengan gaya bahasa yang merendah, jelas terlihat bahwa sepenuhnya anak kesayangan dewi fortuna ini yakin Jerman akan muncul ke permukaan. Memang demikianlah yang terjadi!
Sekarang tinggal empat tim yang tersisa: Jerman, Turki, Rusia, dan Spanyol.
Jerman selalu punya mesin kedua untuk dinyalakan pada saat-saat terakhir. Percuma saja mencoba meramal nasib mereka dalam turnamen ini. Turki bertanding laksana pasukan kerajaan Ottoman dalam perang salib ratusan tahun yang lampau. Rusia bermain tanpa beban. Guus Hiddink, si pengkhianat besar, akan kembali menghembuskan semangat kemenangan ke telinga-telinga pemain mudanya yang sangat berbakat. Spanyol? Setelah lolos dari kutukan hoodoo, bahkan raja Juan yang penggemar Madrid sejati itu berani sesumbar bahwa inilah saatnya Spanyol menjadi juara. Hohoho…
Apa pun pilihan Anda, saya sarankan, sejak hari ini hingga partai final di stadion Ernst-Happel, 29 Juni nanti: Jangan percaya sama media!
Posted in Euro 2008 | 3 Comments »



