Category IconJangan Percaya Sama Media!

June 23rd, 2008 by eko

Masih ingatkah Anda pada maraknya pemberitaan media massa seputar unggulan Euro 2008 dua minggu yang lalu? Semua media, domestik maupun internasional, menuliskan ramalannya masing-masing. Mulai Portugal dengan CR7-nya, Belanda dengan total football-nya, Italia dengan kegagahannya sebagai juara dunia 2006, Ceska dengan ketangguhan Cech dibawah mistar gawang, Spanyol dengan sekumpulan penyerang dan gelandang yang super tajam, hingga Jerman dengan metode latihan yang ultra-modern, semua digadang-gadang akan menjadi yang terkuat.

Berapa persen yang terbukti benar? Sejauh ini hanya 2 dari 6, alias 33% saja! Maka dari itu, saya katakan kepada Anda: Jangan percaya sama media!

Kalau yang terbukti salah meramal itu media ataupun kolumnis ecek-ecek sih saya tidak akan ambil pusing. Masalahnya, yang terbukti kurang akurat itu adalah penulis-penulis yang selama ini menjadi favorit saya, hehehe…

Rob Hughes, dalam ulasannya di tabloid Bola, jauh-jauh hari sudah mendewakan CR7 dan Portugal. Apa lacur, tim ini kandas digilas roda-roda diesel dari negeri bavaria. Sindhunata, meskipun (saya yakin) dalam hatinya masih mencintai Jerman, begitu berbunga-bunga memuji pertunjukan total football yang disajikan Santo Marco dan anak-anak asuhannya yang berwarna oranye.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Belanda, pada pertandingan terkahir, dengan permainan seperti segerombolan anak ayam kehilangan induk, harus bertekuk lutut di kaki beruang merah. “In Guus we trust”, begitu kata anak-anak muda dari negeri yang dingin itu. Dan benarlah! Total football dari Moskow menelan total football dari Amsterdam bulat-bulat. Bunga-bunga tulip yang semula mekar kini hanyut bersama limpasan air mata orang Swiss dan Belanda.

Hanya Menotti dan Beckenbauer yang terbukti memiliki intuisi tajam. Wajar saja, keduanya pernah sama-sama menempuh kerasnya perjalanan menuju puncak dunia sepak bola dengan sukses. Dari awal turnamen, Menotti yang filsuf sepak bola itu sudah mencela Portugal. “Portugal selalu terlihat sebagai tim yang bagus,” demikian selorohnya. Artinya, tim tersebut hanya terlihat saja seolah-olah bagus. Namun, menurut penilaiannya, tim tersebut tidak memiliki komponen yang dibutuhkan untuk menjuarai turnamen seberat Euro 2008.

Lain lagi dengan Beckenbauer, sang kaisar. Meskipun dia selalu menulis dengan gaya bahasa yang merendah, jelas terlihat bahwa sepenuhnya anak kesayangan dewi fortuna ini yakin Jerman akan muncul ke permukaan. Memang demikianlah yang terjadi!

Sekarang tinggal empat tim yang tersisa: Jerman, Turki, Rusia, dan Spanyol.

Jerman selalu punya mesin kedua untuk dinyalakan pada saat-saat terakhir. Percuma saja mencoba meramal nasib mereka dalam turnamen ini. Turki bertanding laksana pasukan kerajaan Ottoman dalam perang salib ratusan tahun yang lampau. Rusia bermain tanpa beban. Guus Hiddink, si pengkhianat besar, akan kembali menghembuskan semangat kemenangan ke telinga-telinga pemain mudanya yang sangat berbakat. Spanyol? Setelah lolos dari kutukan hoodoo, bahkan raja Juan yang penggemar Madrid sejati itu berani sesumbar bahwa inilah saatnya Spanyol menjadi juara. Hohoho…

Apa pun pilihan Anda, saya sarankan, sejak hari ini hingga partai final di stadion Ernst-Happel, 29 Juni nanti: Jangan percaya sama media!

Posted in Euro 2008 | 3 Comments »

Category IconMakara Prestasi, Jadilah “Something Else”

June 19th, 2008 by eko

Hingga hari ini, John Densmore, drummer dari grup the Doors, masih bersitegang dengan pemain keyboard-nya, Ray Manzarek. Apa pasal? Densmore menolak reuni the Doors yang menarik Ian Astbury sebagai vokalis, menggantikan Jim Morrison yang sudah wafat di tahun 1971. Bagi Densmore, satu-satunya kemungkinan reuni adalah jika posisi Morrison digantikan oleh vokalis Pearl Jam, Eddie Vedder.

Eddie Vedder, vokalis Pearl Jam

Jim Morrison (alm) vokalis the Doors

“Saya bukannya menyepelekan Ian. Ia adalah penyanyi yang hebat. Hanya saja, jika ada orang yang bisa menggantikan Jim, maka orang itu adalah Eddie. He is really something else…”, demikian Densmore mengemukakan isi kepalanya.

Jelas saya menentang ide ini. Jika Eddie Vedder menerima tawaran sebagai vokalis the Doors, itu artinya Pearl Jam bubar dong! No way lah yao

Sedikit banyak, itulah kesan yang saya rangkum dari latihan Makara Prestasi tadi malam. Anak-anak ini sudah menjadi futsalor yang cukup bagus, sebagai individu maupun sebagai bagian dari sebuah tim. Namun belum mencapai level “something else”. Bagaimana dengan saya? Saya mah jangan dimasukkan dalam hitungan! Kan bukan bagian dari tim prestasi, hehehe…

Malam itu yang bertandang ke training ground Makara FC di bilangan Simprug adalah tim yang berisi rekan-rekan seperjuangan Dony Coach. Seperjuangan itu artinya mereka kerap bermain bersama. Untuk sekedar senang-senang maupun untuk mencari sesuap nasi dan segepok uang, hahaha!

Mengenakan seragam biru langit a la Lazio, tim tamu membuka permainan dengan tempo rendah. Sama-sama mengusung pola 4-0, kedua tim bergerak saling manjajaki. Dari awal sudah terlihat bahwa latih-tanding ini, pada akhirnya, akan bergerak dari adu kemampuan individu dan tim menuju adu taktik. Makara Prestasi, sejauh yang saya amati, mampu mengimbangi permainan tim tamu. Setidaknya untuk tim 1 dan 2.

Kemajuan paling signifikan dari tim yang dibina secara khusus selama beberapa bulan belakangan ini ada dua: (1) kemampuan untuk menguasai bola dan melakukan pass dibawah pressing lawan, serta (2) kemampuan mengubah formasi bertahan menjadi penyerangan dengan cukup cepat dan mulus. Dengan tulus, saya mengucapkan: SELAMAT!

Dalam satu dua kesempatan memang masih terlihat betapa Makara Prestasi keteteran menahan gempuran lawan. Mereka juga kadang kesulitan membangun serangan ketika menguasai bola. Wajar saja. Tim yang dihadapi adalah tim dengan kemampuan futsal serta pengalaman turnamen yang mumpuni. Namun demikian, saya mencatat ada beberapa gol yang tercipta berkat kerja sama tim yang cantik. Gol yang paling saya ingat adalah gol yang dilesakkan Ferdi. Menerima umpan lambung menyilang dari rekannya, Idam, bocah yang mungkin baru lulus sekolah ini menyundul bola ke sisi kiri gawang. Mantap!

Dony Coach, seperti biasa, tetap sarkastik. “Idam! Gua nggak ngarepin lo umpan lambung!” Gubrak!

Satu lagi gol yang tercipta, yang sangat “gue banget!”, adalah gol-nya Koko. Gol ini bukan hasil kerja sama tim. Bukan juga buah dari kemampuan individu kelas wahid. Gol itu tercipta semata karena semangat determinasi. Sungguh. Determinasi, seabstrak apa pun konsep ini, ia selalu menjadi senjata yang sangat berharga bagi sebuah tim. Dan, tentu saja, sangat membahayakan serta mengesalkan bagi tim lawan.

Dony Coach, dalam jeda istirahat di tengah pertandingan, melakukan evaluasi mendetil terhadap permainan Makara Prestasi. Kekurangan dan kelebihan setiap pemain diungkapkan. Saya juga ikut-ikutan kena, hahaha!

Okelah. Pengamatan mendetil memang bagian dari tugas seorang pelatih. Saya sih tidak terlalu tertarik dengan aspek teknis. Dibanding Raymond Domenech yang melulu bicara kemampuan teknis serta ilmu perbintangan, saya lebih memilih Cesar Luis Menotti yang filsuf itu. Meskipun, terus terang saja, saya selalu bingung setiap kali membaca ulasannya mengenai piala Eropa 2008 ini di Kompas.

“Something else”. Itulah inti dari cuap-cuap Dony Coach. Ian Astbury memang penyanyi yang hebat. Namun Eddie Vedder adalah “something else”. Untuk mencapai level “something else” ini, hal utama yang harus tersedia adalah kebebasan berpikir. Tanpa kebebasan dalam jiwa dan pikiran kita, selamanya kita hanya akan menjadi pengkopi. Penjiplak. Dan penjiplak tidak akan bisa melebihi jiplakan aslinya.

Dony Coach, dengan filosofi dan kemampuan futsal-nya, adalah jiplakan yang sangat baik untuk kita jadikan acuan. Blue print yang lebih dari cukup untuk dijadikan modal memasuki gelanggang prestasi. Namun janganlah ia menjadi batasan. Makara Prestasi, dengan segala kemudaan didalamnya, sebaiknya menjadikan figur Dony Coach sebagai tujuan. Tujuan yang suatu saat akan dicapai, dan kemudian dilewati. Bukan batasan.

Saya adalah penggemar komik. Ini adalah kisah untuk Anda semua, diambil dari komik Jepang berjudul “Shoot!”. Kisahnya memang fiksi. Namun semangat didalamnya tidak. Ia sangat nyata. Seperti wajah dan darah kita…

Toshihiko Tanaka adalah striker timnas muda Jepang. Ketika pertama kali bermain di Kakegawa, klub sepak bola di sekolahnya, ia dimentori oleh Kubo Yoshiharu. Penyerang paling berbakat yang dimiliki oleh Jepang hingga saat itu. Dalam sebuah pertandingan, sebelum akhirnya terjatuh dan meninggal karena kangker darah, Kubo mencetak gol setelah melewati 8 orang pemain lawan. Sendirian. Itulah hari kemunculan “Legenda si Nomor 10″.

Toshi, waktu itu, hanya terdiam dan melihat mentornya berkelebat di depannya. Nomor 10 yang tertera di punggung Kubo berkelebat dan bersinar demikian terang. Demikian jauh. Demikian tidak teraih.

“Toshi, kamu suka sepak bola?”, demikian Kubo bertanya.

“Ya!” jawabnya.

“Kalau begitu, kejarlah aku…” Dan sang legenda bernomor 10 itu pun pergi meninggalkan Jepang. Meninggalkan dunia. Selama-lamanya.

Dua tahun kemudian, nomor 10 melekat di pundaknya. Toshi. Striker paling tajam di Jepang. Dan dalam sebuah pertandingan, melawan tim yang sama dengan ketika Kubo masih hidup dan menjadi mentornya, Toshi merasakan keberadaan Kubo. Namun punggung bernomor 10 milik Kubo tidak lagi berada di depannya. Melainkan ada di sisinya. Bersamanya.

Kubo, aku mencintai sepak bola. Aku sudah mengejarmu hingga ketempat ini. Dan kini, aku akan melewatimu. Terima kasih…”

Itulah hari dimana dia memutuskan untuk belajar ke Spanyol dan menciptakan legendanya sendiri. Legenda “Phantom Dribble”.

Posted in Review Pertandingan | 7 Comments »

« Previous Entries