Makara Prestasi, Jadilah “Something Else”

June 19th, 2008 by eko

Hingga hari ini, John Densmore, drummer dari grup the Doors, masih bersitegang dengan pemain keyboard-nya, Ray Manzarek. Apa pasal? Densmore menolak reuni the Doors yang menarik Ian Astbury sebagai vokalis, menggantikan Jim Morrison yang sudah wafat di tahun 1971. Bagi Densmore, satu-satunya kemungkinan reuni adalah jika posisi Morrison digantikan oleh vokalis Pearl Jam, Eddie Vedder.

Eddie Vedder, vokalis Pearl Jam

Jim Morrison (alm) vokalis the Doors

“Saya bukannya menyepelekan Ian. Ia adalah penyanyi yang hebat. Hanya saja, jika ada orang yang bisa menggantikan Jim, maka orang itu adalah Eddie. He is really something else…”, demikian Densmore mengemukakan isi kepalanya.

Jelas saya menentang ide ini. Jika Eddie Vedder menerima tawaran sebagai vokalis the Doors, itu artinya Pearl Jam bubar dong! No way lah yao

Sedikit banyak, itulah kesan yang saya rangkum dari latihan Makara Prestasi tadi malam. Anak-anak ini sudah menjadi futsalor yang cukup bagus, sebagai individu maupun sebagai bagian dari sebuah tim. Namun belum mencapai level “something else”. Bagaimana dengan saya? Saya mah jangan dimasukkan dalam hitungan! Kan bukan bagian dari tim prestasi, hehehe…

Malam itu yang bertandang ke training ground Makara FC di bilangan Simprug adalah tim yang berisi rekan-rekan seperjuangan Dony Coach. Seperjuangan itu artinya mereka kerap bermain bersama. Untuk sekedar senang-senang maupun untuk mencari sesuap nasi dan segepok uang, hahaha!

Mengenakan seragam biru langit a la Lazio, tim tamu membuka permainan dengan tempo rendah. Sama-sama mengusung pola 4-0, kedua tim bergerak saling manjajaki. Dari awal sudah terlihat bahwa latih-tanding ini, pada akhirnya, akan bergerak dari adu kemampuan individu dan tim menuju adu taktik. Makara Prestasi, sejauh yang saya amati, mampu mengimbangi permainan tim tamu. Setidaknya untuk tim 1 dan 2.

Kemajuan paling signifikan dari tim yang dibina secara khusus selama beberapa bulan belakangan ini ada dua: (1) kemampuan untuk menguasai bola dan melakukan pass dibawah pressing lawan, serta (2) kemampuan mengubah formasi bertahan menjadi penyerangan dengan cukup cepat dan mulus. Dengan tulus, saya mengucapkan: SELAMAT!

Dalam satu dua kesempatan memang masih terlihat betapa Makara Prestasi keteteran menahan gempuran lawan. Mereka juga kadang kesulitan membangun serangan ketika menguasai bola. Wajar saja. Tim yang dihadapi adalah tim dengan kemampuan futsal serta pengalaman turnamen yang mumpuni. Namun demikian, saya mencatat ada beberapa gol yang tercipta berkat kerja sama tim yang cantik. Gol yang paling saya ingat adalah gol yang dilesakkan Ferdi. Menerima umpan lambung menyilang dari rekannya, Idam, bocah yang mungkin baru lulus sekolah ini menyundul bola ke sisi kiri gawang. Mantap!

Dony Coach, seperti biasa, tetap sarkastik. “Idam! Gua nggak ngarepin lo umpan lambung!” Gubrak!

Satu lagi gol yang tercipta, yang sangat “gue banget!”, adalah gol-nya Koko. Gol ini bukan hasil kerja sama tim. Bukan juga buah dari kemampuan individu kelas wahid. Gol itu tercipta semata karena semangat determinasi. Sungguh. Determinasi, seabstrak apa pun konsep ini, ia selalu menjadi senjata yang sangat berharga bagi sebuah tim. Dan, tentu saja, sangat membahayakan serta mengesalkan bagi tim lawan.

Dony Coach, dalam jeda istirahat di tengah pertandingan, melakukan evaluasi mendetil terhadap permainan Makara Prestasi. Kekurangan dan kelebihan setiap pemain diungkapkan. Saya juga ikut-ikutan kena, hahaha!

Okelah. Pengamatan mendetil memang bagian dari tugas seorang pelatih. Saya sih tidak terlalu tertarik dengan aspek teknis. Dibanding Raymond Domenech yang melulu bicara kemampuan teknis serta ilmu perbintangan, saya lebih memilih Cesar Luis Menotti yang filsuf itu. Meskipun, terus terang saja, saya selalu bingung setiap kali membaca ulasannya mengenai piala Eropa 2008 ini di Kompas.

“Something else”. Itulah inti dari cuap-cuap Dony Coach. Ian Astbury memang penyanyi yang hebat. Namun Eddie Vedder adalah “something else”. Untuk mencapai level “something else” ini, hal utama yang harus tersedia adalah kebebasan berpikir. Tanpa kebebasan dalam jiwa dan pikiran kita, selamanya kita hanya akan menjadi pengkopi. Penjiplak. Dan penjiplak tidak akan bisa melebihi jiplakan aslinya.

Dony Coach, dengan filosofi dan kemampuan futsal-nya, adalah jiplakan yang sangat baik untuk kita jadikan acuan. Blue print yang lebih dari cukup untuk dijadikan modal memasuki gelanggang prestasi. Namun janganlah ia menjadi batasan. Makara Prestasi, dengan segala kemudaan didalamnya, sebaiknya menjadikan figur Dony Coach sebagai tujuan. Tujuan yang suatu saat akan dicapai, dan kemudian dilewati. Bukan batasan.

Saya adalah penggemar komik. Ini adalah kisah untuk Anda semua, diambil dari komik Jepang berjudul “Shoot!”. Kisahnya memang fiksi. Namun semangat didalamnya tidak. Ia sangat nyata. Seperti wajah dan darah kita…

Toshihiko Tanaka adalah striker timnas muda Jepang. Ketika pertama kali bermain di Kakegawa, klub sepak bola di sekolahnya, ia dimentori oleh Kubo Yoshiharu. Penyerang paling berbakat yang dimiliki oleh Jepang hingga saat itu. Dalam sebuah pertandingan, sebelum akhirnya terjatuh dan meninggal karena kangker darah, Kubo mencetak gol setelah melewati 8 orang pemain lawan. Sendirian. Itulah hari kemunculan “Legenda si Nomor 10″.

Toshi, waktu itu, hanya terdiam dan melihat mentornya berkelebat di depannya. Nomor 10 yang tertera di punggung Kubo berkelebat dan bersinar demikian terang. Demikian jauh. Demikian tidak teraih.

“Toshi, kamu suka sepak bola?”, demikian Kubo bertanya.

“Ya!” jawabnya.

“Kalau begitu, kejarlah aku…” Dan sang legenda bernomor 10 itu pun pergi meninggalkan Jepang. Meninggalkan dunia. Selama-lamanya.

Dua tahun kemudian, nomor 10 melekat di pundaknya. Toshi. Striker paling tajam di Jepang. Dan dalam sebuah pertandingan, melawan tim yang sama dengan ketika Kubo masih hidup dan menjadi mentornya, Toshi merasakan keberadaan Kubo. Namun punggung bernomor 10 milik Kubo tidak lagi berada di depannya. Melainkan ada di sisinya. Bersamanya.

Kubo, aku mencintai sepak bola. Aku sudah mengejarmu hingga ketempat ini. Dan kini, aku akan melewatimu. Terima kasih…”

Itulah hari dimana dia memutuskan untuk belajar ke Spanyol dan menciptakan legendanya sendiri. Legenda “Phantom Dribble”.

Posted in Review Pertandingan

7 Responses

  1. Donzol

    Sebuah ulasan yang cukup rumit dibaca..
    2 kali baca, gw baru ngerti apa arti tulisan kali ini…
    Intinya memang seperti yang udah kita obrolin dimalam pertandingan
    Bahwa, sejauh ini pemain cukup berhasil melakukan apa yg gw inginkan. Tapi sayangnya gw belum berhasil membuat pemain melakukan semua yg gw inginkan.
    Tapi itu proses, kayaknya gw juga mempunyai keinginan banyak thdp tim ini
    sehingga akan ada nantinya pemain yg melebihi batasan “Doni Coach” tersebut.
    Hehehehe…
    Thx 4
    Keep Support Our Team…
    Donzol

  2. eko

    hahaha… donzol. lo gak ada kerjaan yak, ampe baca posting ini dua kali?

    gutlak dengan program lo bro! gua dukung sepenuhnya

  3. Boby Satya

    Bung Eko emang luar biasa tulisannya… membuat gw ragu untuk ikut sumbang tulisan jg :)

    Skor pertandingan berapa ya?

    Alhamdulillah kalo MAKARA FC Prestasi bisa terus berkembang…
    kapan ikut turnamen?

    Maju terus MAKARA FC…

    TETAP SEMANGAT!!!

    Boby Satya

  4. eko

    hahaha… mr. boby sheva, ente bisa aja!

    silahkan aja kalo mo sumbang tulisan. ini kan blog komunitas, feel free bro!

    gimana perkembangan piala eropa kali ini? sudah bisa melupakan inggris? dukung kroasia aja sekalian, huehehe…

  5. Donzol

    skor 5-5 mas boby…
    Turnamen Insya Alloh Juli nanti pasti dikabari lagi
    Hehehehehe

  6. Boby Satya

    iya sabar Bung Eko… sedang disiapkan tulisannya tentang Futsal Jamaah Mesjid :)

    Wah seru juga tuh skor 5-5…
    Kalo Juli, berarti Hidayat Nur Wahid Cup di Bandung, 5-6 Juli 2008 ya?

    Btw, Sang Presiden MAKARA FC akhirnya kena sakit tipes tuh…
    semoga cepat sembuh dan bisa kembali aktif mengelola MAKARA FC

    Terima kasih dan TETAP SEMANGAT!!!

  7. Edi sanjaya

    Donzol makin hebat aja, nih. Tapi jangan lupa sama banyak alasan kalau janji menatang-mentang udah makin ngetop. he he he

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.