Ceko yang Pemberani
Selain partai Portugal-Turki (2-0) di awal turnamen, Belanda-Italia (3-0), dan Spanyol-Rusia (4-1), partai Portugal-Ceko tadi malam adalah salah satu pertandingan favorit saya. Tidak pakai basa-basi. Kedua tim langsung saling gasak sejak peluit babak pertama berbunyi. Hasilnya? 3-1 untuk Portugal!
Harus saya akui, ramalan para pengamat sepak bola profesional di awal turnamen terbukti 100% akurat. Kualitas turnamen ini berada di atas World Cup 2006. Bagaimana tidak? Setelah putaran pertama usai, semua peserta melakoni sedikitnya satu pertandingan, nyatalah bahwa tidak ada satu tim pun yang pantas disebut under dog! Semua bermain dengan organisasi permainan yang rapih. Swiss dan Austria, dua tuan rumah yang memiliki lebih banyak pendaki gunung terkenal dibanding pemain sepak bolanya, menunjukkan bahwa mereka tidak berada dibawah level tim-tim unggulan. Yah, mereka pada akhirnya memang takluk. Namun kemenangan atas mereka tidak diperoleh dengan mudah.
Selama partai Portugal-Ceko semalam, saya bolak-balik ber-sms ria dengan teman saya yang bekerja di BPN. Dia adalah tandem saya sebagai penyerang di era sepak bola kampus dulu, hahaha… What a nice memory! Teman saya ini pendukung setia Ceko. Dulunya saya juga demikian. Selagi Pavel Nedved dan Karel Poborsky masih mengenakan seragam timnas Ceko dan berlari laksana kereta api di sisi lapangan.
Gol pertama Portugal, Deco. SMS saya: “Uhuy!”. Dia jawab: “Masih 9 menit, cuy!”. Hahaha… optimisme a la pendukung fanatik.
Gol balasan dari Ceko, Sionko. SMS dia: “Mantabs!”. Saya balas: “Standar”. Supaya tahu saja, “standar” adalah istilah yang digunakan di kampus saya, waktu itu, untuk melecehkan gol yang diciptakan musuh ke gawang kita, dalam pertarungan sepak bola imajiner di PS 2. Mahasiswa itu, entah dulu entah sekarang, memang punya penyakit denial. Sudah kebobolan, malah menghina yang membobolkan. Kacau!
Gol kedua Portugal, Ronaldo. SMS saya: “Bheee…”. Balasannya: “Biasa!”. Saya balas lagi: “CR7 emang udah biasa ngegolin Peter Cech, huehehe…”
Gol penutup kemenangan Portugal, Quaresma. SMS saya: “Ehem!”. Dia balas bahkan sebelum sms saya terkirim, “Dodol!”.
CR7 jelas bersinar malam itu. Namun, dimata saya, Portugal berhutang banyak kepada Deco. Adalah Deco yang memberi ketenangan pada rekan-rekan setimnya dengan penguasaan bola, daya jelajah, dan pass yang sangat meyakinkan. Ketenangan dan keutuhan timlah yang akhirnya memberi kesempatan pada Ronaldo untuk menyingkirkan beban di pundaknya dan bersinar malam itu. Tanpa Deco, tidak ada ketenangan. Tanpa ketenangan, tidak ada Ronaldo.
Bicara soal ketenangan, Simao jelas bukan pemain favorit saya. Setidaknya hingga pagi ini. Saya benar-benar heran dengan kengototannya mengambil tendangan bebas, sesaat sebelum ia diganti. Padahal itu jelas adalah zona mautnya Ronaldo. Alangkah kekanak-kanakan! Big Phill sebaiknya segera menunjukkan tangan besi dalam hal ini. Menghadapi tim-tim sekelas Jerman, atau Italia, yang sangat pandai mengeksploitasi kelemahan organisasi tim lawan, fisik maupun psikologis, kelakuan seperti ini akan membuahkan kesulitan besar.
Namun bukan Portugal yang membuat saya tersentuh malam itu, melainkan Ceko! Ya, Ceko…
Sebagai mantan pendukung (ada gitu, mantan pendukung?), saya bangga sekali melihat tim yang satu ini. Baik tadi malam, atau empat tahun lalu, ketika mereka dihempaskan sundulan maut penyerang Yunani, Ceko tetaplah Ceko yang pemberani. Mereka bermain sebagai dirinya sendiri. Sebuah tim, yang setiap anggotanya, memberikan yang terbaik untuk seragam kebanggaannya. Dan, tentu saja, membuat hidup lawan-lawannya menjadi lebih sulit.
Tidak seperti Rusia, yang berubah menjadi kespanyol-spanyolan ketika berhadapan dengan Spanyol, Ceko tetaplah Ceko, baik ketika menaklukkan Swiss ataupun ketika tunduk pada Potugal. Mereka tidak ikut-ikutan sporadis seperti Swiss. Tidak pula ber-joga bonito seperti Portugal. Mereka tetap berlari. Dengan umpan yang tajam. Dengan semangat a la pasukan perang.
Menghadapi Turki pada pertandingan terakhir, yang artinya juga pertandingan hidup-mati bagi kedua tim, saya yakin, Ceko akan tetap seperti itu. Kesempatan masih terbuka. Dan Ceko, sejauh yang saya pahami, adalah sekumpulan orang yang super optimis. Dibawah nahkoda kakek tua yang berkarakter luar biasa: Karel Bruckner.
Posted in Euro 2008 | No Comments »
Saya dapat melihat Anda tersenyum. Demikian juga dengan semua orang di Jabodetabek. Kenapa? Karena tahun ini, dan mungkin untuk terakhir kalinya, kita masih bisa menyaksikan perhelatan sepak bola paling akbar se-Eropa tanpa mengeluarkan uang sepeser pun!
