Category IconLapangan dan Bola

July 25th, 2008 by eko

Kita, orang Indonesia, bukanlah bangsa yang dikenal luas karena taat aturan. Malah sebaliknya! Kita ini dituding, dan memang ada benarnya juga, sebagai bangsa yang tidak taat aturan. Kalau tidak mau dibilang tidak punya aturan. Bukan hanya aturan-aturan sepele yang tidak terkait langsung dengan kehidupan kita. Bahkan aturan-aturan yang sesungguhnya dibuat untuk keselamatan diri sendiri dan orang lain pun kita cuekin!

Tahu kan, ungkapan yang selalu diucapkan salah satu tokoh dalam acara parodi politik di tivi: “Gitu aja kok repot!”. Sejujurnya, saya tidak suka dengan ucapan itu. Bukan tidak suka dengan orang yang mengucapkan, lho! Ungkapan itu, menurut pendapat pribadi saya, adalah intisari dari pandangan hidup kita semua yang benar-benar menempatkan aturan di tempat sampah. Bagaimana mungkin orang-orang bisa tertawa terbahak-bahak menanggapi ide seperti itu?

Maka dari itu, saya berencana menulis sebuah serial mengenai peraturan baku dalam futsal. Semuanya saya ambil dari sumber yang sangat pantas untuk kita jadikan acuan bersama: FIFA. Semoga dengan mengenal aturan baku, memahaminya, kemudian menerapkannya dalam aktivitas futsal, akan membawa dampak positif dalam diri kita masing-masing. Siapa tahu, dengan mendisiplinkan diri dari hal kecil semacam futsal, kita kemudian bisa mulai mendisiplinkan diri dalam hal-hala yang lebih besar? Kalaupun Anda tidak sependapat dengan saya, setidaknya saya masih bisa bilang: “Pelajari dan terapkan saja aturan-aturan futsal ini, biar Anda gak tengsin-tengsin amat kalau main dalam turnamen resmi, hahaha…!!!”

Dalam edisi pertama ini, mari bicara soal lapangan dan bola. Tanpa kedua hal ini, kita semua tidak bisa bermain futsal kan?

Untuk alasan keselamatan, hindarilah penggunaan lapangan yang terbuat dari bahan semen. Sebaiknya gunakan lapangan yang terbuat dari rubber, wood, ataupun rumput sintetis. Bagaimanapun, penggunaan lapangan berumput sintetis oleh FIFA hanya diperbolehkan untuk turnamen tingkat lokal, tidak untuk tingkat internasional. Panjangnya lapangan yang ideal adalah 25-42 meter. Lebar ideal adalah 15-25 meter. Tentu saja lapangan ini harus berbentuk persegi panjang. Bukan bujur sangkar!

Di Jakarta, sejauh yang saya amati, bahan dan ukuran lapangan sangat beragam. Silahkan Anda pilih sendiri mana yang paling nyaman dan aman bagi Anda dan rekan-rekan futsal Anda. Informasi dari beberapa lapangan yang tersebar di Jakarta dapat dilihat di Fighting Ground.

Lapangan futsal dibagi menjadi beberapa zona oleh garis-garis putih (selebar 8 cm), dan juga oleh beberapa titik putih. Setiap zona punya aturan dan konsekuensi tersendiri. Saya berusaha memberi penjelasan sebaik mungkin terkait hal ini. Jadi, kalau Anda memiliki informasi yang lebih akurat, mohon jangan sungkan-sungkan untuk menulis komentar disini.

Garis panjang lapangan biasa disebut side line ataupun touch line. Jika bola melewati garis ini, maka permainan dihentikan dan selanjutnya dimulai lagi dengan kick-in. Dalam melakukan kick-in, bola harus benar-benar berada diatas garis, dan kedua kaki penendang (no offense untuk futsalor yang tidak memiliki dua kaki) tidak boleh menginjak garis ataupun berada dalam lapangan.

Garis lebar lapangan biasa disebut goal line, karena memang goal/gawang diletakan di garis ini. Jika bola melewati garis ini, maka permainan dihentikan dan selanjutnya dimulai lagi dengan corner kick ataupun goal clearence (bola dilempar oleh penjaga gawang, bukan ditendang). Ukuran dari gawang itu sendiri adalah: lebar 3 m, tinggi 2 m, dengan kedalaman jaring atas 0,8 m, dan kedalaman jaring bawah 1 m.

Lapangan ini dibagi dua sama besar dengan sebuah garis yang disebut halfway line. Di tengahnya terdapat titik putih, dikelilingi garis putih melingkar dengan radius 3 m (disebut center circle). Kick-off dimulai dari titik ini.

Dalam futsal, halfway line lebih banyak fungsinya dibanding dalam sepak bola, selain hanya sebagai pembagi wilayah kedua tim yang bertanding. Tim yang menguasai bola (bola berasal dari penjaga gawang mereka sendiri), tidak diperkenankan mengembalikan bola ke penjaga gawang sebelum bola tersebut melewati halfway line memasuki daerah pertahanan lawan atau sebelum bola tersebut tersentuh/dikuasai oleh pemain lawan. Jika dilakukan, ini akan diganjar dengan indirect free kick alias tendangan bebas tidak langsung. Penjaga gawang juga tidak diperkenankan menguasai bola selama lebih dari 4 detik di wilayahnya sendiri. Hukuman untuk pelanggaran seperti ini juga berupa indirect free kick.

Di keempat sudut lapangan terdapat garis lengkung putih yang ditarik 25 cm dari sudut lapangan ke bagian dalam lapangan. Zona yang dihasilkan oleh garis ini disebut corner arc yang tentu saja digunakan untuk meletakkan bola dalam situasi corner kick.

Penalty area ditandai dengan garis lengkung putih dengan radius 6 m dari masing-masing tiang gawang. Dalam zona ini penjaga gawang diperkenankan menyentuh bola menggunakan tangannya. Dalam zona ini pula setiap pelanggaran yang konsekuensinya adalah direct free kick (bukan indirect free kick) akan diganjar dengan tendangan penalti. Penjaga gawang punya hak khusus untuk melakukan sliding tackle tanpa terkena hukuman di wilayah ini. Sejauh wasit menganggap tindakan itu murni untuk mengamankan bola dan jauh dari nuansa kekerasan apalagi niat mencederai lawan.

Tepat 6 meter dari goal line (dari tengah gawang), melekat diatas garis pembatas penalty area, terdapat titik putih yang disebut first penalty mark. Titik ini digunakan dalam situasi tendangan penalti. Empat meter lebih jauh (10 meter dari goal line), segaris dengan first penalty mark, terdapat titik putih lain yang disebut second penalty mark. Penalty area, first dan second penalty mark, terdapat di kedua bagian lapangan yang dibagi oleh halfway line.

Jika dalam satu babak sebuah tim melakukan pelanggaran dengan konsekuensi direct free kick sebanyak 5 kali, maka pelanggaran keenam dan selanjutnya dalam babak itu (yang juga berkonsekuensi direct free kick, bukan inderect free kick) akan dihukum dengan direct free kick dari second penalty mark. Dalam situasi ini, tim yang dihukum tidak diperkenankan membentuk tembok penghalang. Situasinya sama persis dengan tendangan penalti biasa. Hanya saja jaraknya ke gawang lebih jauh.

Dalam situasi free kick, corner kick, maupun kick-in, tim yang bertahan tidak diperkenankan berada kurang dari 5 meter dari posisi bola yang dikuasai lawan.

Lalu bagaimana dengan bola yang digunakan?

Bola yang digunakan, menurut FIFA, seharusnya berdimensi: berbentuk bulat (ya iya lah!), keliling 62-64 cm, berat 400-440 gram, dan tekanan 0,4-0,6 atmosfir di permukaan laut. Khusus untuk tekanan, jangan bingung-bingung! FIFA memberi cara pengukuran yang lebih sederhana dan masuk akal: memantulkan bola ke lapangan (rubber atau wood). Dari ketinggian 2 m, pantulan pertama dari bola yang memenuhi syarat tidak boleh kurang dari 50 cm, namun tidak boleh lebih dari 65 cm.

Nah, urusan lapangan dan bola sudah kelar kan? Silahkan melanjutkan permaianan futsal Anda dengan gembira!

Posted in Peraturan Futsal FIFA | 39 Comments »

Category IconKemana Jiwa-Jiwa yang Sehat Itu Pergi?

July 11th, 2008 by eko

“Mensana in corpore sano”. Demikianlah ungkapan dalam bahasa latin, yang sangat familiar di kuping kita, yang artinya kira-kira: “Didalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat”. Benarkah demikian? Saya kira tidak selalu demikian keadaannya.

Latih-tanding Rabu malam yang lalu, melawan tim futsal yang dimotori oleh alumnus Poltek Kesehatan Solo, Makara FC bermain layaknya segerombolan futsalor yang tidak sehat jiwanya. Bukan berarti kami semua jadi orang gila malam itu. Bukan. Hanya saja, kami bermain tanpa jiwa yang sehat. Tubuh kami memang berada di sana, namun jiwa dan semangat bertanding kami melayang entah kemana. Alhasil, Dony Coach yang memang sudah jutek sejak awal meledak menjadi Don Fabio. Anda tahu kan siapa dia? Pelatih sukses yang prestasinya hanya kalah dari kebuasan kata-katanya. Hahaha…!!!

Malam itu kaki kami terasa berat sekali. Entah itu yang kurus kering, berotot padat, ataupun berlemak seperti kaki saya, semua seolah tidak mau digerakkan dengan sukarela. Jangankan untuk melakukan pass and move, sebagaimana yang dituntut oleh Dony Coach, untuk sekedar berlari menutup ruang saja tidak mampu!

Kalau Anda pernah tinggal di kampung, mungkin Anda pernah melihat gerombolan anak kambing yang lari luntang-lantung dan saling bertabrakan di tengah padang rumput. Kira-kira seperti itulah penampilan kami malam itu. Bedanya, kalau anak-anak kambing itu berlari dengan perasaan senang, kami berlari dan bertabrakan dengan perasaan yang sangat-sangat kacau. Mungkin salah satu balon kami yang berwarna hijau sudah meletus…

Aspek psikologis tim, yang didalamnya terkandung semangat bertanding dan pembentukan mental pemain dalam menjawab tantangan situasi, adalah hal yang sensitif sekali. Saya jelas tidak punya kewenangan dan kompetensi untuk membicarakan itu. Sepenuhnya itu adalah kekuasaan sang pelatih, Dony Coach. Saya, sebagai anggota uzur yang kerap menemani latihan, hanya berharap bahwa Dony Coach mampu menemukan channel komunikasi yang tepat untuk menularkan insight-nya mengenai futsal kepada rekan-rekan muda di Makara Prestasi. Insight yang didapat dari pengalaman bertanding yang sangat kaya.

Harapan saya, dan juga para senior citizen lainnya semacam Boby Sheva dan Wong Jo, tidak bisa berhenti disana. Kami juga berharap, setengah menuntut malah, agar rekan-rekan di Makara Prestasi mampu membuka diri dan menyerap semua insight futsal tersebut.

Perlu disadari bahwa latihan, apapun bentuknya, sesungguhnya adalah mekanisme komunikasi. Dari pelatih kepada yang dilatih. Materi komunikasinya adalah insight yang dimiliki oleh sang pelatih. Tujuannya adalah agar sedapat mungkin semua yang dilatih kemudian memiliki tingkat insight yang sama dengan sang pelatih. Bukan hal yang mustahil, apa lagi terlarang, bahwa dikemudian hari yang dilatih dapat melewati tingkatan insight dari sang pelatih.

Bagaimana mungkin?

Bagi saya, itu semua dimungkinkan karena setiap individu memiliki potensi. Memiliki kekuatan yang sifatnya laten. Kekuatan yang bisa ditemukan dan dikembangkan.

Cita-cita luhur itu membutuhkan empat hal berikut ini: (1) kandungan insight yang tinggi dalam diri pelatih, (2) channel komunikasi yang tepat, (3) keterbukaan diri dari setiap individu yang dilatih untuk menerima insight tersebut sesuai dengan channel komunikasi yang telah dipilih, dan (4) proses pengulangan yang intens. Saya tidak mencantumkan bakat dalam daftar diatas, karena saya meyakini betul filosofi Thomas Alva Edison. Dalam pencapaian manusia, bakat hanya menyumbang 10%. Sembilan puluh persen sisanya ditentunkan oleh upaya!

Dimata saya, road map yang sudah dipilih dan dijalankan oleh pengurus Makara FC dalam rangka menciptkan tim prestasi, sudah benar. Sama sekali tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut.

Adi Seno, pendaki gunung salju favorit saya (orang Indonesia asli), pernah berkata begini: “Langkah pertama dalam pendakian gunung salju itu berat…”. Saya, dan juga teman-teman pendaki gunung lainnya, waktu itu berpikir bahwa dia kemudian akan mengatakan bahwa langkah berikutnya ringan. Ternyata tidak! Sambil tersenyum usil dia bilang: “Langkah kedua dan seterusnya, lebih berat lagi…”

Begitulah. Menetapkan road map yang benar memang berat. Kita sudah melaluinya dengan sukses sejauh ini. Mencapai target yang dituju oleh road map itu tak kalah beratnya. Dan kita, bersama-sama, tengah menuju kesana.

Kalau Anda penggemar film seperti saya, tentu akan ingat kata-kata Alfred (diperankan oleh Michael Caine) dalam Batman Begins. Begini kira-kira ucapannya: “Tuan Bruce, tahukah Anda alasan kenapa manusia terjatuh? Agar kita berupaya memahami penyebab kejatuhan kita, dan berupaya untuk berdiri lagi.”

Makara FC vs Tim Alumnus Poltekkes Solo

Kepada tim futsal Alumnus Poltek Kesehatan Solo, Makara FC mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Latih-tanding melawan kalian kemarin benar-benar membuka mata kami akan kekurangan yang masih ada dalam tim ini. Sampai berjumpa di lain pertandingan. Dilain kesempatan, jiwa kami pasti sudah sehat lagi, dan kami pasti akan menghadirkan mimpi yang paling buruk bagi kalian, hahahaha…!!!

Thanks for the precious game… Tetap semangat dan terus bermain futsal!

Posted in Review Pertandingan | 5 Comments »

« Previous Entries