Sukses itu Habit
Piala Eropa sudah usai. Orang-orang bilang pemenangnya adalah sepak bola. Ya, sepak bola! Bukan Spanyol. Kenapa? Karena permaianan menyerang nan atraktiflah yang akhirnya keluar sebagai yang terkuat. Bukan permainan membosankan a la Otto’s Wall seperti empat tahun lalu. Boleh juga…
Penggemar Jerman tentu berduka. Seperti juga Ballack, yang nasibnya memang kerap sesial nomor punggungnya: tiga belas.
Ketika di Leverkusen, impiannya menjuarai Liga Champion 2002 dihancurkan tendangan voli Zizou yang berkostum Les Merengues. Begitu pun pada partai final Liga Champion tahun ini di Moskow. Impiannya terjegal rumput lapangan yang membuat Tery, kaptennya di Chelsea, terpeleset dan gagal menceploskan bola dalam adu pinalti melawan MU.
Piala Dunia 2002, dia diganjar kartu dan kehilangan kesempatan bermain di final. Ronaldo, yang kembali bersinar setelah cedera lama, menghancurkan Jerman dengan gol-nya yang khas.
Dan kemarin, dia ditinggalkan kawan-kawannya menghadapi Spanyol sendirian. Hanya kemarahan dan frustrasi yang mampu ditunjukkannya di lapangan. Darah mengalir sia-sia dari pelipisnya yang kena tandukan Sena. Akhirnya, Ballack, dan juga Jerman yang bermain buruk, mesti betekuk lutut pada iblis berwajah kanak-kanak, Torres.
Bagi saya, partai final kemarin adalah anti klimaks. Ibarat makan getuk Magelang sebagai penutup sajian makan malam, setelah sebelumnya menikmati steik dari Kobe.
Saya bukan penggemar Jerman. Terlebih sejak mereka menyingkirkan Maradona cs di final Piala Dunia 1990 dengan pinalti kontroversial. Namun saya selalu menaruh respek tinggi kepada mereka. Dimata saya, Jerman selalu memiliki daya juang dan mental juara yang luar biasa. Namun, pada final Piala Eropa 2008 yang lalu, saya tidak melihat dua keunggulan utama itu dalam diri pemain-pemain Jerman. Maaf saja, mereka memang tidak pantas juara.
Media, seperti biasa, mengelu-elukan sang juara. Spanyol digambarkan sebagai tim yang sempurna. Berteknik tinggi, berfilosofi sepak bola modern, penuh berisi bintang-bintang muda. Mereka selalu menang sejak petandingan pertama hingga partai final. Mereka memang juara sejati. Bah!
Dimata saya, sejak dulu, Spanyol selalu adalah tim yang berteknik tinggi. Sehingga, dengan segala kerendahan hati, saya tidak setuju jika hampir semua media menyimpulkan bahwa Spanyol juara berkat teknik tinggi itu. Bukan. Menurut penilaian saya, yang tentu saja sangat bisa diperdebatkan, Spanyol juara karena dua hal: kemampuan semua pemain meredam ego individu (yang merupakan bawaan orok semua orang Spanyol) dan kemampuan mereka bekerja sama sebagai sebuah tim yang utuh.
Pak tua Aragones memang bijaksana. Semangat menekan ego dan menumbuhkan kerja sama tim ditancapkan dalam-dalam di hati setiap pemain. Tidak tanggung-tanggung, untuk menunjukkan seriusnya misi ini, pak tua itu meninggalkan si anak emas, Raul, di rumah!
Lalu, apa hubungannya dengan ember?
Untuk memenangi pertandingan sesungguhnya, kerja sama saja tidaklah cukup. Sekelompok futsalor tanpa kemampuan mapan yang bekerja sama mati-matian tidak akan mampu melangkah jauh dalam sebuah kejuaraan yang keras. Kemampuan individu jelas menjadi modal utama. Namun, lebih jauh lagi, mengubah kemampuan individu menjadi kekuatan kelompok, itulah yang paling utama. Taktik, strategi, pemahaman kekuatan/kelemahan diri sendiri, dan latihan formasi yang terus-menerus adalah kuncinya.
Dony Coach sudah menorehkan visi permaianan yang ingin diusung oleh Makara Prestasi: menyerang! Saya setuju seratus persen. Untuk bisa menyerang dengan optimal, fondasinya adalah pertahanan yang sempurna. Saya juga setuju seratus persen. Seperti yang ditunjukkan oleh Belanda dan Spanyol pada Piala Eropa 2008 yang lalu, sekarang memang era-nya serangan balik gaya baru. Bukan cattenacio. Namun serangan balik yang sangat efisien, yang berawal dari pertahanan sempurna dengan kemampuan penguasaan bola diatas rata-rata. Mengutip Dony Coach, “Nenek-nenek juga bisa offense! Tapi, tidak semua orang mampu melakukan defense yang sempurna!”, bener banget!!!
Untuk itu dibutuhkan komitmen. Setiap bagian dari Makara Prestasi, termasuk saya yang bagiannya adalah “menemani latihan” dan “mengomentari” melalui blog ini, harus memberikan yang terbaik dari dirinya demi kejayaan tim. Tidak boleh tidak. Yang merasa sebagai anak emas dan merasa pantas memberi seadanya saja, silahkan tinggal di rumah…
Komitmen itu tidak perlu dalam bentuk yang ekstrim. Tidak perlu sampai berdarah-darah seperti Ballack. Tidak perlu sampai cedera kaki seperti Villa. Tidak juga sampai depresi berat seperti Adrian Mutu. Cukuplah komitmen itu ditunjukkan dengan selalu hadir dalam latihan. Selalu hadir tepat waktu. Selalu berlatih dengan segenap pikiran, semangat, dan hati. Selalu memberikan yang terbaik, bahkan untuk hal-hal yang sepele.
Bagi saya, sukses bukanlah hasil. Sukses adalah rangkaian habit yang dibangun dari hal-hal kecil…
Posted in Euro 2008

Tulisan mas eko makin yahud..hehehehe
Gw setuju sama kalimat yg menyebutkan, bahwa Spanyol dari dulu udah main sepakbola dengan teknik tinggi, dan sekarang mereka main dengan egoisme yang hampir gak ada.Gw gak bilang Raul egois, tapi keputusan Aragones “ngebuang” si Anak Emas merupakan “gambling” terbesar dalam karir pelatih Opa Aragones,dan dia berhasil.
Persaingan 2 klub Spanyol”Madrid dan Barca” jadi gak kentara lagi..dan menurut gw, persainagn 2 klub tersebut itu juga sedikit banyak, mempengaruhi permainan Spanyol selama ini.. Ada yg berani jamin, Iniesta dan Xavi akan memanjakan Raul seperti mereka memanjakan David Villa dan Fernando Torres seperti yg dilakuakn di EURO kmaren??
Wallahualam…
ternyata, raul dan aragones sudah bersepakat sebelumnya. dengan besar hati raul merelakan dirinya ditinggal di spanyol dan kemudian mengadakan jumpa pers (bersama aragones) untuk memberi penjelasan bahwa tidak ada seteru diantara mereka berdua. ini tentu untuk kepentingan keutuhan tim spanyol.
jadi, meskipun raul tidak ikut, ternyata peranannya cukup besar dalam keberhasilan tim spanyol di piala eropa yang lalu. yah, mungkin ini bisa disebut “gerakan tanpa bola”, hehehe…
sumpe lo
weee… ipin! long time no see niy! (padahal pekan lalu sih ketemu di champions futsal, ampera)
anak2 mo ikutan turnamen lho. tertarik menjadi donatur? hehehe…