Category IconBugger!

January 16th, 2009 by eko

“Bugger!” Demikian itu kata yang belakangan ini sering mampir di kuping saya. Bukan diucapkan langsung kepada saya tentunya, karena tidak satupun rekan kerja saya adalah orang Inggris Raya. Melainkan saya dengar dari sebuah film seri berjudul “Life on Mars”. Film tentang polisi Inggris era 70-an. Seru, lucu, dan emosional.

Kata ini memang bukan bahasa resmi, melainkan bahasa slenge’an alias slang. Menurut Wikipedia, kata “bugger” memiliki arti: sesuatu yang mengecewakan, atau seseorang yang kelakuannya menimbulkan rasa tidak nyaman yang amat sangat kepada orang lain. Dan “bugger” itulah yang saya rasa cocok untuk menggambarkan perasaan saya terhadap futsal di negara ini. Kenapa?

Anda pasti tahu facebook. Social networking website yang tengah melejit menjadi primadona semua pengguna internet dunia. Termasuk juga saya dan seisi kantor, hahaha! Melalui website gaul yang satu inilah saya berkesempatan mengenal Justin Lhaksana. Bukan kenal dekat, tentu saja. Hanya sekedar say hello dan ngobrol informal seputar futsal serta buku futsal karangannya yang baru terbit. Menarik.

Bagi sebagian orang, prestasi timnas futsal dibawah kepelatihan Justin boleh dibilang lumayan bagus. Bagi sebagian orang lainnya, tidak. Sampai kiamat juga akan selalu ada perdebatan seperti itu, hingga timnas futsal kita benar-benar jadi juara dunia. Namun bukan itu yang menarik perhatian saya. Yang menarik adalah insight mengenai futsal Indonesia itu sendiri. Cerita dibalik prestasi yang masih layak diperdebatkan itu.

Anda tinggal di Jakarta? Berarti saya tidak perlu memberi gambaran mengenai pesatnya pertumbuhan lapangan futsal disini. Bukan orang Jakarta? Bayangkanlah munculnya satu lokasi futsal berkapasitas 2-3 lapangan setiap bulannya. Tambahkan juga jarak dan kepadatan bangunan dalam bayangan Anda itu. Sepertinya cukup crowded ya?

Nah, sekarang mari kita bicara soal uang. Anda boleh tidak setuju, dan sebenarnya saya juga tidak sepenuhnya sependapat, namun prestasi erat kaitannya dengan jumlah uang yang ada di tangan. Terlebih dalam dunia sepak bola, dan mungkin juga futsal. Makin besar dana yang dimiliki, jalan menuju prestasi gemilang semakin terbuka dan mudah dilalui.

Dalam database lapangan futsal di blog ini saja sudah ada belasan lokasi futsal berkapasitas rata-rata 2-4 lapangan setiap lokasinya. FYI, itu bukan semua lapangan yang aktif saat ini, hanya sebagian saja. Dengan tarif rata-rata per jam Rp. 200.000,- dan jam operasional nyaris 10 jam setiap hari, berapa dana yang bergulir di bisnis lapangan futsal komersil Jakarta? Saya tidak berani mengeluarkan angka presisi, karena jelas akan cukup rumit perhitungannya. Namun, apa yang ingin saya sampaikan adalah: futsal adalah cabang olah raga yang terbukti merupakan industri olah raga menengah, pada level perputaran uang berkisar 2-4 milyar sebulan, dengan jumlah (serta kualitas) audiens yang besarnya tidak main-main. Setidaknya untuk futsal amatir di Jakarta.

Lalu, kenapa kita masih mendengar bahwa dukungan dana pada tim futsal prestasi masih dirasa kurang? Apakah sedemikian mustahilnya menyelaraskan pemain industri futsal dengan organisatoris futsal nasional, dalam rangka meraih prestasi gemilang?

Saya, yang orang awam soal futsal prestasi, hanya bisa bilang: “bugger!”

Posted in Opini | No Comments »