Sunday Oyaji Futsal League

Dalam dunia olahraga, umur memang kerap menjadi kendala. Kekuatan fisik yang menurun, semangat juang yang mengendur, semua menjadi satu. Menjadi penghalang. Membuat kita semua menjadi enggan berpacu. Apalagi memacu kaki dalam sebuah turnamen futsal. Sepertinya bukan ide yang baik, mengingat umur yang sudah kepala tiga.
Namun tidak demikian halnya dengan Tetsuya Higuchi. Lelaki Jepang paruh baya, yang baru saja mendapat karunia seorang putra, ini merasa perlu untuk menggagas sebuah turnamen futsal. Turnamen yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang berusia sekitar 30 tahun, dan bahkan lebih! Jelas tujuannya bukan prestasi. Penggunaan kata “turnamen” hanyalah pendekatan semiotik untuk menggambarkan semangat futsal saja. Tidak lebih.
Turnamen ini diberi tajuk “Sunday Oyaji Futsal League”. Asal tahu saja, Oyaji adalah bahasa Jepang yang tergolong kasar yang artinya “tua”. Benar-benar mengusik hati. Turnamen futsal untuk orang tua! Hahaha… Orang Jepang itu memang to the point kali ya? Kalau kita biasanya memperhalus menjadi “turnamen executive”, Tetsuya malah langsung menusuk dengan “turnamen orang tua”!
Turnamen ini menjadi menarik jika kita menilik bagaimana aturan main yang diterapkan didalamnya. Disini kita tidak menggunakan wasit dan official pertandingan bayaran. Semua peserta turnamen akan kebagian jatah untuk menjadi wasit 1 dan 2, pencatat skor, pencatat pertandingan, dan lainnya. Terutama untuk wasit, meskipun akan kerap melakukan kesalahan penilaian karena memang bukan wasit profesional, tidak satu peserta pun yang boleh memprotes. Mengajukan protes langsung diganjar dengan kartu kuning!
Ketika saya tanyakan kepada Tetsuya, apa alasan penunjukan peserta menjadi wasit dan official pertandingan, dia menjawab enteng: “Kita semua kan belajar. Nah, selain belajar memainkan futsal, kita juga perlu belajar mengenai peraturan pertandingan.” Lugas dan jelas. Dan, terus-terang, saya setuju.
Penunjukan menjadi official pertandingan adalah sebuah pemaksaan terselubung. Semua orang pada akhirnya harus memahami peraturan resmi dalam pertandingan futsal. Disisi lain, ini juga pemaksaan terselubung untuk menumbuhkan jiwa menghargai peraturan pertandingan dan menghormati wasit. Yang terakhir ini memang penyakit bangsa kita. Lihat saja kelakuan pemain pro kita. Wasit bisa babak-belur kalau mengeluarkan keputusan yang merugikan sang pemain!
Poin terakhir ini yang jelas kelihatan. Pada pertandingan pertama, banyak protes dan ekspresi melecehkan wasit yang bertugas. Alhasil, kartu kuning melayang berkali-kali. Pertandingan kedua mulai tertib. Pertandingan ketiga menjadi semakin tertib, karena semua tim yang bertanding sudah kebagian jatah menjadi wasit serta official.
Memahami bagaimana rasanya menjadi pemain yang tunduk pada keputusan wasit, dan kemudian menjadi wasit yang memikul tanggung-jawab besar pada jalannya pertandingan yang fair, dalam satu kesempatan yang sama, ternyata menghasilkan respek yang cukup baik. Kita jadi mengetahui kesulitan seorang wasit sehingga mampu menghargai keputusannya dan kemudian tunduk dengan tulus. Kita juga menjadi semakin mulus memainkan futsal, karena selalu ada wasit yang mengawasi.
Saya yakin sekali bahwa turnamen ini akan berdampak baik bagi permainan futsal semua pesertanya. Mereka akan lebih memahami permainan futsal yang sesuai aturan dan terutama akan menghormati benar keputusan yang diambil oleh wasit. Ada benarnya juga pepatah lama yang mengatakan: pengalaman adalah guru yang terbaik. Jika mau menumbuhkan rasa hormat kepada wasit, cobalah sekali-kali Anda jadi wasit, sehingga benar-benar memahami tekanan dan tanggung-jawab didalamnya…
Posted in Review Pertandingan

haha… ini memang ide menarik pak.
saya pernah ikut di turnamen yang digelar dengan peraturan serupa.
tapi ga’ berani nyicip jadi wasit.
he…
“Salam Futsal Mania” aja dah…
hehehe… memang unik jadinya. kerasa bener kalo kita tuh dipaksa bermaing semangat namun tetap sportif. dan utamanya lagi, menjadi lebih respek pada peraturan dan keputusan yang sah, yah, tidak hanya sehat raga, tapi juga jadi sehat jiwanya kan?
Mantap..
Mohon maaf minggu kemarin saya yang seharusnya terdaftar menjadi salah satu pemain di Makara Executive tidak dapat bermain bersama rekan-rekan.., ada urusan keluarga yang harus didahulukan yakni mengantar ibunda pulang kampung ke pekalongan.., daripada nanti saya dikutuk jadi batu dan nggak bisa maen futsal kan? he.he.he.
Minggu depan Insya Allah saya siap bermain dan tak sabr ingin merasakan atmosfir kompetisi dengan memaksa kaki dan paru-paru untuk bekerja lebih keras dan maksimal daripada sebelumnya..
ok deh wong jo. siap2 untuk bertempur melawan tim biru-nya tetsuya dan haris yang sama2 sudah mengumpulkan enam poin, seperti makara executive
Wahh.. kayaknya seru bgt tuh boss..
sayang banget gua nga ikut gara2 lagi ada di lokasi kerja berminggu-minggu..