Futsalku Adalah Futsal Gaya Hidup
Nyaris setahun penuh saya meninggalkan blog ini. Tidak memperbarui tulisan maupun data mengenai lapangan. Bukan karena kehilangan minat, melainkan karena memang aktivitas futsal saya menurun drastis.
Belakangan ini saya hanya bermain futsal diakhir pekan bersama teman-teman dari Geografi Universitas Indonesia atau milis Pearl Jam Indonesia. Jadual rutin Senin sore di kantor maupun Rabu malam di Simprug, sudah saya tinggalkan. Bermain bersama pecahan Makara FC yang kini terbagi di Bros Blok M dan Kuningan pun sudah tidak saya lakoni. Intinya, saya memang nyaris berhenti bermain futsal!
Engkel dan berat badan jadi faktor utama, hahaha!
Mungkin Justin Lhaksana, yang belakangan ini rajin mengirim tips futsal melalui pesan-pesan dalam Facebook bisa mulai memberi saran medis bagi orang-orang seperti saya. Terkait futsal, tentu saja. Bagaimana caranya bermain futsal yang aman bagi orang-orang dengan engkel lemah dan berat badan berlebih?
Ah, apakah itu penting?
Menurut saya, sangat penting!
Coba kita perhatikan orang-orang yang sekarang bermain futsal di lapangan futsal yang menjamur di penjuru Jakarta ini. Lihat baik-baik postur tubuhnya! Juga perkirakan usianya. Bukankah sebagian besar tidak memiliki postur tubuh atlit, jika tidak bisa dibilang kelebihan berat badan? Dan sebagian besar juga tidak lagi remaja, jika tidak mau dibilang menjelang paruh baya?
Justin Lhaksana tempo hari menulis dan menerbitkan buku mengenai cara bermain futsal. Yang, sayangnya, hingga saat ini belum bisa saya temukan di beberapa toko buku Gramedia yang saya kunjungi. Tentu saja dari sudut pandang permainan prestasi, sesuai dengan latar belakang profesinya sebagai mantan pelatih tim nasional dan pelatih beberapa tim serta sekolah futsal prestasi. Sebuah gerakan dokumentasi dan pengajaran yang sangat baik, saya kira.
Namun, apa yang menjadi minat saya adalah futsal sebagai gaya hidup. Sebagai sebuah upaya bagi orang kota untuk hidup sehat.
Lalu dimana masalahnya?
Di orang kotanya itu!
Kita, orang kota yang kebanyakan duduk, makan, dan berpikir, jelas tidak diberkati dengan kondisi otot dan paru-paru yang prima. Untuk memenuhi tuntutan kesenangan dan kesehatan, sebagian dari kita memilih futsal. Sebagian lainnya mungkin memilih basket, badminton, atau memilih clubbing, alkohol, serta obat bius dan menyatakan persetan dengan kesehatan tubuh! Toh, pada akhirnya, kita semua akan mati dan membusuk dimakan cacing tanah.
OK, dua kalimat terakhir itu di luar konteks pembicaraan kita sekarang…
Nah, kita yang tidak dikaruniai otot dan paru-paru prima ini akan dengan mudah masuk dalam jebakan berbahaya jika main hajar bleh saja dalam berfutsal ria. Bukannya saya mau bilang futsal itu olah raga ekstrim dan berat. Bukan. Saya hanya mau mengemukakan bahwa futsal adalah olah raga high impact. Aktivitas fisik yang memuat banyak sekali benturan bagi tubuh. Benturan pada engkel, lutut, pinggang, hingga bagian atas tubuh.
Alangkah melegakannya jika sekiranya tersedia banyak panduan untuk mempersiapkan tubuh kita yang tidak prima ini untuk dapat sepenuhnya, dengan aman, menikmati futsal dan segala benturan yang ada di dalamnya. Mungkin saya akan semakin langsing, sehat, dan gembira dalam bermain futsal, alih-alih cedera, frsutrasi, dan kecewa?
Justin, apakah Anda berminat?
Posted in Opini | 4 Comments »
