Category IconFutsal di Yogyakarta

August 19th, 2008 by M Arief Lukman

Pengantar Redaksi:
Berikut ini adalah artikel mengenai kegiatan futsal di Yogyakarta. Artikel ini ditulis oleh sahabat saya, M Arief Lukman, seorang penggila bola yang dulunya kerap bermain bola dan mendaki gunung bersama saya. Dia adalah alumni Geografi Universitas Indonesia Angkatan ‘96 yang lulus tahun 2002 (lama amir kuliahnya?). Saat ini tengah mengambil program Magister di UGM.

Gara-gara begadang, jadi telat deh dateng ke futsal ground! Untung jarak dari kosan cuman 1 km. Yah, kalo naek motor cuman butuh 3-5 menit.

Futsal ground yg biasa gua ama temen-temen pake adalah Futsal Soccer di Jakal (jalan Kaliurang) km. 6,4. Di kota gudeg Yogyakarta pastinya (emang ada Jakal di kota laen? Tell me kalo ada, hehe…)! Menurut gua lokasinya sangat strategis. Karena tuh tempat gak jauh dari UGM en UII yang notabene mahasiswanya pada doyan maen bola. Secara, sekarang maen di lapangan bola gede (sepak bola) dah sulit banget! Kalo mau juga emang bener-bener niat maen. Lagipula grup futsal gua udah bangkotan anggotanya. Maklum, mahasiswa S2 yg maen. Kalo emang gak dah tua, yang muda pun napasnya udah setengah mateng, eh mati, hahaha!

Oke, lanjut yang diawal tadi. Bener aja! Mereka udah berlari kesana kemari. Bukannya bola yang dimaenin, malah bola yang maenin pemainnya… aneh! Waduh… koq tumben main di line 2 (di Futsal Soccer ada dua line)? Menurut gua, lebih mantep main di line 1. Secara cahayanya lebih terang en terbuka sirkulasi udaranya. But the show must gogon, eh, go on!

Padahal telat 10 menit doank, tumben yang dateng banyak juga. Terpaksalah ngantri ampe ada temen gua yang muka-mukanya kelihatan udah mo semaput. Akhirnya, setelah waktu menunjukkan jam 07:18 (widih… maen koq pagi banget sih?), mulai ada yg nyerah. Setelah gua stretching secukupnya, akhirnya bisa nyentuh bola juga. Nikmat rasanya! Maklum cuman seminggu sekali kita bisa ngumpul en olahraga kayak gini. Sehari-harinyanya sibuk ama diktat kuliah, yang kalo ditumpuk bisa untuk wallpaper di kamar kos (hiperbolik banget sih!). Red: diktatnya dikiloin aja, lumayan untuk tambahan ongkos sewa lapangan!

Hemmm… Nikmat rasanya berlari-lari kecil di atas rumput sintetis yg konon diimpor dari Italia. Jauh amat yak? Apa kita gak bisa produksi sendiri? Walau sepatu Jooma Futsal gua sebenernya untuk ground yang hard, tapi berkat adanya pasir karet, jadi lumayan lah. Gak kepeleset kayak di lapapangan bola rumput alami yang abis kehujanan. Bisa-bisa jadi kayak badut maen bola!

Setelah cukup panas, walau telat, lumayan juga masih bisa nyumbang 3 gol. Secara kiper yang gua lawan mantan kiper IPDN. Itu tuh, kampus di Jatinangor yang sempet heboh (ampe sekarang kaleee!). Udah gede gendut, keras lagi tendangannya. Tapi 3 gol cukup memuaskan! Soalnya gua bisa bobol dia dari tendangan bebas di titik tengah, hehe.. Ups!

Kalo dilihat sih, memang lapangan di sini standarnya udah bagus. Dengan ukuran lapangan 25 x 15 m, cukup melelahkan untuk muterin ampe 100 kali bolak-balik, dari posisi back jadi striker. Kadang nyayap (wing maksudnya). Tapi seringnya bertahan melulu! Maklum, gua salah masuk tim. Yang biasaanya gua bela malah sekarang jadi lawan. Ya kewalahan lah! Mereka berempat jago-jago. Kalo kita, cuman berdua yg maen. Yang dua lagi, senyum-senyum saja sambil berharap dapet bola! Hahaha, gak lagi! Becanda. Santai pren!

Tapi yang masih mengecewakan, walau udah dibilangin tapi tetep aja masih ada body charge en sliding tackle. Itu kan cukup berbahaya. Apalagi minggu depan mau ngadepin final exam (udah pada siap belum pren??? ). Untung hingga berakhirnya game gak ada yang cedera serius en yg penting masih bisa keringetan, ketawa, tersipu-sipu malu gara-gara nendang kepeleset ampe gubrak! Hahaha!

Pengelola Futsal Soccer mengusung 2 tema: “go crazy futsal” en “futsal for kids”. Gua sendiri baru beberapa bulan ini tinggal di Yogyakarta, jadi belum sempet jajal futsal ground di tempat laen yang konon ada 9 totalnya (termasuk Futsal Soccer). Tapi, dari 9 lokasi itu, satu masih tahap finishing en baru dibuka 1 September 2008 ini. Namanya Pelle Soccer. Tujuh lapangan lainnya adalah Liquid, Bardosono, Kopen, Next 1 & 2, Neo Futsal, en the Goal Corner. So, sebenernya perkembangan futsal Yogyakarta gak kalah ama kawan-kawan yang ada di kota Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, or kota-kota laen yang futsal ground-nya udah banyak. Kayak di homebase gua, Magelang, aja udah berdiri dua futsal ground.

Oh iya! Bukannya mau promosi niy. Sekedar untuk info aja, di Futsal Soccer fasilitasnya lumayan lengkap dengan biaya sewa Rp 100.000 (jam 06:00-15:00) en Rp 150.000 (jam 15:00-22:00 malem). Kita bisa menggunakan hot water shower, hall yg cukup luas en bersih, en ada juga mushola. Kalo mau tenang pas maen, sebelumnya bisa sholat dulu. Ada locker juga kalo mau nitipin barang-barang berharga lo. Kalo ngerasa gak punya yang berharga, ya taruh saja di hall.

Kalo gak salah, disini juga ada akademinya. Didalamnya terdapat program regular class, collective class, ladies class, soccer beginner (5-11 thn), soccer intermediate (12-15 thn), soccer advance (16-18 thn) en paket mahasiswa/bulan Rp 100.000. Nah, kalo yg terakhir cocok banget tuh untuk gua (tapi yang berumur gini, even mahasiswa, masih boleh gak ya???)

Akademi itu dibina oleh instruktur berpengalaman bernama Armando. Dia punya lisensi pelatih C. Kalo gua lihat profilnya, dia itu pernah jadi pemain terbaik tingkat mahasiswa ‘92-’96 Yogyakarta (wuih, jadul amat!), en pernah bela PSIM Yogyakarta ‘91 sampai ‘97. Sekarang masih jadi pengurus Pengda PSSI Yogyakarta plus masih ngajar di SMU Muhammadiyah 1 Yogyakarta.

So, I think it’s a uniqe place for futsal ground. But decision still in your hands, karena memang banyak banget ground yg mungkin menawarkan fasilitas-fasilitas yang menggiurkan. Yang penting: keep the spirit of fair play, soccer never die (hayah!!!). Demikian dapat saya laporkan dari salah satu fighting futsal ground in Yogyakarta (Red: dengan gaya bicara seperti pembawa acara olah raga TVRI tempo doeloe: Max Sopacua). Asta lavista, baybeh!!!

Posted in Artikel | 1 Comment »

Category IconMati Lampu, Aduh Gelapnya…

July 9th, 2008 by eko

Mulai hari Jum’at besok, 11-25 Juli 2008, semua wilayah di Jakarta dan sekitarnya akan terkena giliran mati lampu, selama 7 jam dalam sehari. Pemadaman listrik tersebut terdiri dari dua pilihan: selama 08:00-15:00 atau 15:00-22:00. Untuk lengkapnya, silahkan lihat sendiri jadualnya disini!

Sebenarnya sih ini bukan pilihan! Ini takdir yang ditimpakan oleh para petinggi PLN yang sudah menyerah dan habis akal kepada kita, masyarakat yang memang bisanya hanya gigit jari menerima penderitaan.

Kenapa saya repot-repot menulis mengenai pemadaman listrik? Karena ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas kita bermain futsal!

Lapangan futsal yang didirikan dengan konsep indoor akan mendapat pukulan paling telak. Bagaimana tidak? Bukankah penerangan, exhaust, air conditioner, mesin pendingin untuk jual minuman, dan persediaan air di wc, semuanya itu membutuhkan listrik?

Bagus kalau mereka punya genset sendiri. Namun, melihat maraknya pengembangan lapangan futsal (lebih tepat lagi: indoor soccer) dengan penanaman modal minim, saya menyangsikan hal tersebut. Besar kemungkinannya semua lapangan futsal itu sepenuhnya mengandalkan pasokan listrik dari PLN. Yah, bukan salah mereka juga. Bukankah listrik, seperti juga pangan dan lapangan pekerjaan, adalah tanggung jawab pemerintah?

Lapangan futsal dengan konsep outdoor punya sedikit keunggulan. Setidaknya untuk menghadapi pemadaman listrik selama rentang waktu 08:00-15:00. Para futsalor masih dapat bermain tanpa perlu khawatir. Toh, pada jam-jam itu, tidak dibutuhkan penerangan lampu?

Malam hari, yang merupakan prime time dan lumbung uang bagi pengusaha lapangan futsal, jelas akan menjadi mimpi buruk. Baik untuk konsep indoor maupun outdoor. Kecuali mereka punya genset, maka kegiatan menangguk uang jelas terhenti. Entah bagaimana caranya, para pengusaha lapangan futsal itu harus segera menemukan solusi. Bukan hanya untuk kepentingan bisnis mereka, namun juga untuk kepentingan kita, para futsalor ini…

Mungkin inilah saatnya organisasi yang menaungi sekian banyak lapangan futsal di Jakarta dan sekitarnya, yang dikomandani oleh Justin Lhaksana, maju kedepan dan menawarkan solusi. Dua minggu jelas waktu yang sangat panjang bagi bisnis lapangan futsal yang pergerakan uangnya relatif masuk kategori harian. Selama dua minggu itu, jutaan rupiah bakal gagal masuk ke kantong. Siapa yang berani jamin bahwa operasional dari lapangan-lapangan futsal itu akan bisa pulih setelah menerima pukulan seperti itu? Dan apa yang akan terjadi jika ternyata pemadaman listrik tidak berhenti di tanggal 25 Juli?

Dari kacamata persaingan bisnis, saya melihat kondisi ini sebenarnya adalah blessing in disguise. Tentu saja berkah bagi pihak-pihak yang kreatif, ulet, dan mau berbuat lebih. Bagi yang terbiasa malas berpikir dan berfilosofi nrimo dengan makna konotatif, ini sih malapetaka!

Sudah bukan rahasia jika persaingan antar lapangan futsal di kawasan Jakarta semakin memanas setiap harinya. Investor semakin sadar akan potensi futsal sebagai sumber revenue yang signifikan. Konsultan dan penyedia perlengkapan berat untuk mendirikan lapangan sudah banyak tersedia. Bahkan ada yang berasal dari luar negeri dengan standar kerja internasional. Alhasil, lapangan futsal menjamur dan berdekatan satu sama lain. Futsalor pun kini tidak lagi rela menempuh jarak yang jauh untuk bermain futsal. Faktor kedekatan lokasi lapangan dengan domisili (rumah maupun kantor) para futsalor menjadi faktor penentu. Dalam kondisi persaingan seperti ini, kekuatan yang tersisa tinggallah customer value.

Apaan tuh?

Sederhananya, customer value dapat dirangkum dalam pertanyaan ini: “Gua bayar berapa, gua dapet apa?”. “Bayar berapa” berkaitan dengan tarif sewa lapangan serta ongkos/upaya yang diperlukan untuk mencapai lokasi lapangan. “Dapet apa” berkaitan dengan fasilitas dan layanan yang tersedia di lapangan tersebut.

Nah, kondisi ekstrim berupa pemadaman lampu seperti ini jelas-jelas menyingkirkan beberapa lapangan yang tidak memiliki fasilitas genset dari persaingan. Artinya, rasio antara jumlah futsalor dibanding lapangan yang tersedia meningkat. Dengan asumsi, keinginan bermain futsal tidak ikut-ikutan padam seiring padamnya lampu. Dampak jangka pendeknya, lapangan-lapangan yang dapat beroperasi saat terjadi pemadaman listrik akan mengalami peningkatan kunjungan. Tapi, bukan disana letak efek mematikannya.

Dampak jangka panjanglah yang perlu diperhatikan oleh semua lapangan futsal yang gagal beroperasi dalam kondisi ekstrim ini.

Pelanggan yang pindah ke pesaing selalu menjadi berita buruk bagi pebisnis. Ini tidak hanya menyebabkan kepala pening. Bisa-bisa, kepala jadi copot gara-gara pelanggan pindah ke pesaing! Dengan pemadaman listrik, sebagian pelanggan “terpaksa” pindah dari lapangan yang gagal beroperasi ke lapangan yang masih mampu beroperasi. Sialnya, kondisi “terpaksa” itu dikemudian hari dapat saja berubah menjadi “suka rela” jika ternyata fasilitas dan layanan yang didapatkan di lapangan “baru” ternyata lebih baik! Nah lho???

Wahai para pengusaha lapangan futsal, keputusan untuk berpangku tangan atau grasak-grusuk melakukan antisipasi sepenuhnya adalah hak Anda. Namun, pada akhirnya, para futsalor-lah yang akan menjadi juri yang menentukan hidup matinya usaha Anda…

Posted in Artikel | 7 Comments »

« Previous Entries