My Futsal: Yang Susah Itu Biasanya Enak
Minggu malam lalu, Makara FC mendapat undangan pertandingan persahabatan futsal melawan Jakarta Japan Club. Tetsuya Higuchi, yang merupakan anggota untuk kedua klub tersebut, menjadi mak comblang pertandingan ini. Coba tebak dimana kami bermain? My Futsal! Lapangan futsal yang saya janjikan untuk diulas pada posting yang lalu. Kebetulan sekali yah?
Bagi saya pribadi, pertandingan ini dimulai dengan suasana yang mengesalkan. Bukan! Bukan karena tingkah laku para pemuda Jepang ini, melainkan karena saya sempat beberapa kali nyasar sebelum akhirnya sampai di lokasi My Futsal. Lokasi yang aneh. Terletak di tengah komplek perumahan yang setiap rumahnya berukuran besar, tanpa papan nama, dan tidak berlokasi di pinggir jalan! Bagi orang yang rabun senja soal jalan dan lokasi di Jakarta seperti saya, lokasi My Futsal masuk dalam kategori sangat susah dicari.
Sampai di lokasi, coba tebak siapa yang saya jumpai? Pelatih saya yang cerewet itu: Dony Coach. Dengan gayanya yang khas, dia asik semprat-semprit jadi wasit di lapangan sebelah. Sebenarnya bukan lapangan sebelah sih, karena My Futsal hanya berisi satu lapangan. Pada hari-hari normal seperti ini, aturan penyewaan memang mengharuskan satu lapangan dibagi menjadi dua. Bisnis is bisnis, cuy!
Hal pertama yang saya lihat bukanlah lapangan. Saya sudah tahu lapangannya terbuat dari rubber berdasarkan foto yang dikirim Dony Coach sehari sebelumnya. Yang saya lihat adalah: WC! Kenapa? Bagi saya, kalau mau lihat kecanggihan manajemen di suatu tempat, baik itu instansi pemerintah ataubun bisnis swasta, lihatlah tempat yang paling tidak menjadi perhatian. Ya, itu tadi, WC!
Pertandingan melawan Jakarta Japan Club sendiri berlangsung super ketat. Selama dua jam, kami bermain dalam beberapa game yang masing-masing berdurasi 10 menit. Makara FC dan Jakarta Japan Club saling mengalahkan. Mereka, para pemuda Jepang ini, mengusung gaya bermain yang lebih beraroma sepak bola lapangan besar daripada futsal. Kerap kali mereka mengandalkan body charge dan sedikit sikut-menyikut. Alhasil, bibir salah satu anggota Makara FC pecah dan membengkak. Lumayan lah, jadi mirip-mirip bibirnya Azhari, hehehe…
Lapangan yang berbahan dasar rubber ini menjadikan larinya bola cepat namun stabil. Saya sendiri memang lebih menyukai lapangan seperti ini dibanding rumput sintetis. Lapangan rumput sintetis menjadikan bola nyaris tidak memantul sama sekali dan terkadang membuat pijakan kaki kurang mantap. Bukan berarti saya akan berhenti main futsal di lapangan rumput sintetis. Jangankan di situ, di lapangan tanah saja saya mau main. Selama ada bola untuk ditendang, yo wiss… Jadilah!
Yang paling menarik perhatian saya adalah tiang penyangga di pinggir lapangan. Semua tiang tersebut dipasangi busa pelindung setinggi dua meteran. Bagus sekali! Keselamatan pemain ternyata menjadi perhatian utama bagi manajeman My Futsal. Saya sendiri mendapat manfaat langsung dari adanya busa pelindung ini. Ketika mengejar umpan terobosan (kaya’nya futsal tidak mengenal jenis umpan ini deh?) saya kebablasan sampai membentur tiang penyangga. Nah, ternyata busa pelindung itu memang punya fungsi sungguhan, hehehe…
Dua jam berlalu dan pertandingan persahabatan ini pun usai sudah. Makara FC dan Jakarta Japan Club saling memberi salam dan mengucapkan terima kasih. Torima Kasiho… Torima Kasiho… Hehehe…
Good ground, good game, good friend… Good nite…

Posted in Artikel | 5 Comments »
Berikut ini adalah penuturan dari Iwan Yassin mengenai perkembangan futsal di tempatnya bekerja, di IKPT
