Category IconCatatan Sepak Bola Sindhunata

January 3rd, 2008 by eko

Sepak bola adalah kisah manusia. Perjuangan, kemenangan, kekalahan, air mata, kejayaan, serta tragedi. Kita, manusia yang selalu haus akan pahlawan, mencari pahlawannya masing-masing di sudut-sudut dunia yang berbeda-beda. Dan sepakbola adalah salah satu sudut yang paling banyak menguak cerita kepahlawanan semacam ini. Bukan hal yang aneh jika arena sepak bola berubah menjadi tempat pemujaan layaknya masjid, gereja, ataupun vihara, dimana puluhan ribu manusia datang untuk memuja pahlawannya. Meski pada akhirnya, kerap mereka hanya mendapatkan air mata.

Inilah yang ditangkap oleh Sindhunata dalam Catatan Sepak Bola Sindhunata yang diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Catatan dan pemahamannya mengenai riak dan gelombang dunia sepak bola tertuang lugas dan penuh makna dalam rangkaian tiga buku ini. Dari Menotti hingga Ferguson. Mulai Maradona sampai Beckham. Dan lebih dari itu semua, kerap ia memaparkan aspek filsafat dari semua kejadian sepak bola yang ditulisnya. Wajar saja mengingat Romo Sindhu, panggilan akrab rekan-rekan kerjanya, memang penulis sekaligus wartawan yang juga adalah filsuf. Dan, tentu saja, dia adalah salah satu penulis lokal favorit saya, selain Pramoedya.

Ketiga buku yang diterbitkan Mei 2002 tersebut, masing-masing adalah Bola di Balik Bulan (296 halaman), Air Mata Bola (276 halaman), dan Bola-Bola Nasib (320 halaman). Berikut ini adalah cuplikan dari beberapa bab di dalam masing-masing buku tersebut.

Bola di Balik Bulan
Amerika sudah menemukan bulan, tapi belum menemukan bola. Maka dibuatlah sebuah poster besar lain, yang menggambarkan astronot Neill Amstrong mendarat di bulan. Dan di bulan itu Neill Amstrong menemukan bola. Di samping bola itu ditancapkannya bendera Amerika. (Menemukan Bola di Bulan, 178-183).

Piala Eropa 1992 menarik, tapi juga membosankan. Tukang membuat bosan itu adalah Prancis dan Inggris. Keduanya adalah favorit Grup A. Tetapi ketika bertemu, mereka berduel bagai pendekar tanpa ilmu. Denmark dan Swedia, kendati mereka berdua tidak difavoritkan, malah tahu, bagaimana menarik hati publik bola. (Pulangkan Saja Inggris dan Prancis Itu ke Rumahnya!, 48-54).

Namun, ia juga bilang, sementara ini ia telah banyak belajar dari kehidupan. Dari kehidupan ini ia tahu, bahwa kadang kala orang harus menahan diri, karena tidak segala-galanya bergantung padanya. Dalam peristiwa semacam itu sekaligus ia menyadari, bahwa dalam dunia bola, Tuhan yang umumnya dikira tidak ada ternyata ada. (Anak-anak yang Disayangi Dewi Fortuna, 99-105).

Air Mata Bola
Hidup yang rutin ini tidak pernah memberikan intensitas kepada manusia. Sepak bola dapat memberikan pengalaman akan intensitas itu, bila bola berubah menjadi gol. Dari tadi orang menanti gol, ia tidak tahu kapan gol itu terjadi. Tiba-tiba gol itu terjadi tanpa terduga dan takkan dapat terulang lagi. Di sinilah bola membentur kehidupan yang kosong dan rutin. Dan dalam benturan itulah bola memberikan kebahgiaan. (Air Mata di Stadion Wembley, 42-47).

Dua belas tahun lalu, Inggris dikalahkan Argentina hanya karena bantuan tangan Tuhan, yang bekerja lewat tangan Maradona. Sekarang Inggris dikalahkan oleh dirinya sendiri karena kesembronoan Beckham. Good-bye England! (Selamat Jalan, Inggris, 205-209).

Bola-Bola Nasib
TV Belanda pernah membuat begini. Gerak Van Basten ditampilkan di layar. Setelah itu disusul dengan penampilan gerak penari balet Clint Farrah. Ya ampun, ternyata gerak Van Basten mirip banyak dengan gerak Clint Farrah! Dengan bola di kaki, toh gerak Van Basten adalah gerak seorang penari. Hukum kekerasan bola lain dengan kreasi keindahan gerak seorang penari. Tetapi kalau keduanya jadi kombinasi, maka maklum menghadapi Van Basten para lawan sulit beradaptasi. Kesimpulannya: Van Basten adalah “borer lapangan hijau”, yang sekaligus adalah “penari balet” dengan bola di kaki. (Teka-teki “Sphinx” dari Belanda, 63-69).

Kisah Maradona memang kaya dengan variasi. Kisah yang berkembang-kembang. Banyak yang membencinya, tapi banyak juga yang mencintainya. Ia adalah pembelai dalam arti banyak: bola, wanita, publik. Demikian jago dia membelai, maka maklum dia juga paling enak untuk dijadikan sasaran kritik, lebih-lebih jika dia melakukan “salah belai”. Itu semuanya membuktikan bahwa Maradona memang seorang pemain bintang. (Duel Dua Maradona, 167-173).

Posted in Book Review | 5 Comments »

Category IconSanto Marco

March 13th, 2007 by eko

Copyright Pena WormerJudul: marco van basten
Penulis: Zeger van Herwaarden
Alih Bahasa: Laurens Sipahelut
Penyunting: Andong Begawan
Penerbit: Pena Wormer
Tebal: 256 halaman
Ukuran: 14cm x 21cm
ISBN: 979-15417-0-1

Penggemar sepak bola mana yang tidak kenal Marco van Basten? Si Angsa, yang gerakannya di lapangan hijau bak penari balet ini, merupakan satu dari trio Belanda yang melambungkan AC Milan ke puncak tahta persepakbolaan Eropa. Kepadanya disematkan kata jenius (dan memang sangat pantas!). Sindhunata, di salah satu feature-nya yang termuat dalam Trilogi Bola, menyatakan bahwa van Basten membuat situasi bola sulit menjadi mustahil. Maksudnya? Entahlah, tanyakan saja ke Romo Sindhu yang tulisannya sangat kaya makna itu.

Bagi Zeger van Herwaarden yang wartawan Belanda itu, kehebatan van Basten tidak hanya terletak pada efisiensi dan kemustahilan gerakannya, namun juga terangkum dalam perjuangannya melawan cedera engkel. Cedera yang, pada akhirnya, dengan kejam memaksanya gantung sepatu.

Dalam buku ini digambarkan bagaimana cedera itu sudah menghantui van Basten sejak dia bermain di Utrecht. Jauuuhhh… sebelum ia menjadi Santo Marco bagi penduduk kota Milan, bahkan yang berbaju Inter sekalipun. Zeger van Herwaarden, dengan penuh perasaan, melukiskan berubahnya seorang anak berbakat yang menangis (kala sendirian) di kamar asrama sekolah sepak bola Ajax menjadi predator dingin yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi paling buruk belasan kiper terbaik dunia. Diceritakan pula bagaimana pergulatan batin van Basten dalam memahami dan menerima hukum tak tertulis yang berlaku di sepak bola level dunia: kill or get killed…

Bagi saya pribadi, buku ini memuat banyak sekali hal-hal kecil yang sebelumnya tidak saya ketahui mengenai dunia sepak bola internasional, terutama pergulatan batin para pemain bintang di dalamnya. Berkali-kali si Angsa harus naik meja operasi. Berkali-kali ia dihadapkan pada kegagalan untuk mengembalikan engkelnya ke kondisi puncak. Dan berkali-kali pula ia memutuskan untuk terus berjuang. Hingga pada akhirnya pelat metal yang tertanam di kaki indahnya berkata lain: semuanya sudah usai dan kejeniusannya di lapangan hijau harus berhenti! Maaf saja, kisah Rocky Balboa yang ditulis hingga 6 episode itu, hanyalah rekaan omong kosong belaka dibanding perjuangan Santo Marco dalam buku ini. Selamat berburu!

Posted in Book Review | 3 Comments »