Sukses itu Habit

July 7th, 2008 by eko

Piala Eropa sudah usai. Orang-orang bilang pemenangnya adalah sepak bola. Ya, sepak bola! Bukan Spanyol. Kenapa? Karena permaianan menyerang nan atraktiflah yang akhirnya keluar sebagai yang terkuat. Bukan permainan membosankan a la Otto’s Wall seperti empat tahun lalu. Boleh juga…

Penggemar Jerman tentu berduka. Seperti juga Ballack, yang nasibnya memang kerap sesial nomor punggungnya: tiga belas.

Ketika di Leverkusen, impiannya menjuarai Liga Champion 2002 dihancurkan tendangan voli Zizou yang berkostum Les Merengues. Begitu pun pada partai final Liga Champion tahun ini di Moskow. Impiannya terjegal rumput lapangan yang membuat Tery, kaptennya di Chelsea, terpeleset dan gagal menceploskan bola dalam adu pinalti melawan MU.

Piala Dunia 2002, dia diganjar kartu dan kehilangan kesempatan bermain di final. Ronaldo, yang kembali bersinar setelah cedera lama, menghancurkan Jerman dengan gol-nya yang khas.

Dan kemarin, dia ditinggalkan kawan-kawannya menghadapi Spanyol sendirian. Hanya kemarahan dan frustrasi yang mampu ditunjukkannya di lapangan. Darah mengalir sia-sia dari pelipisnya yang kena tandukan Sena. Akhirnya, Ballack, dan juga Jerman yang bermain buruk, mesti betekuk lutut pada iblis berwajah kanak-kanak, Torres.

Bagi saya, partai final kemarin adalah anti klimaks. Ibarat makan getuk Magelang sebagai penutup sajian makan malam, setelah sebelumnya menikmati steik dari Kobe.

Saya bukan penggemar Jerman. Terlebih sejak mereka menyingkirkan Maradona cs di final Piala Dunia 1990 dengan pinalti kontroversial. Namun saya selalu menaruh respek tinggi kepada mereka. Dimata saya, Jerman selalu memiliki daya juang dan mental juara yang luar biasa. Namun, pada final Piala Eropa 2008 yang lalu, saya tidak melihat dua keunggulan utama itu dalam diri pemain-pemain Jerman. Maaf saja, mereka memang tidak pantas juara.

Media, seperti biasa, mengelu-elukan sang juara. Spanyol digambarkan sebagai tim yang sempurna. Berteknik tinggi, berfilosofi sepak bola modern, penuh berisi bintang-bintang muda. Mereka selalu menang sejak petandingan pertama hingga partai final. Mereka memang juara sejati. Bah!

Dimata saya, sejak dulu, Spanyol selalu adalah tim yang berteknik tinggi. Sehingga, dengan segala kerendahan hati, saya tidak setuju jika hampir semua media menyimpulkan bahwa Spanyol juara berkat teknik tinggi itu. Bukan. Menurut penilaian saya, yang tentu saja sangat bisa diperdebatkan, Spanyol juara karena dua hal: kemampuan semua pemain meredam ego individu (yang merupakan bawaan orok semua orang Spanyol) dan kemampuan mereka bekerja sama sebagai sebuah tim yang utuh.

Pak tua Aragones memang bijaksana. Semangat menekan ego dan menumbuhkan kerja sama tim ditancapkan dalam-dalam di hati setiap pemain. Tidak tanggung-tanggung, untuk menunjukkan seriusnya misi ini, pak tua itu meninggalkan si anak emas, Raul, di rumah!

Lalu, apa hubungannya dengan ember?

Untuk memenangi pertandingan sesungguhnya, kerja sama saja tidaklah cukup. Sekelompok futsalor tanpa kemampuan mapan yang bekerja sama mati-matian tidak akan mampu melangkah jauh dalam sebuah kejuaraan yang keras. Kemampuan individu jelas menjadi modal utama. Namun, lebih jauh lagi, mengubah kemampuan individu menjadi kekuatan kelompok, itulah yang paling utama. Taktik, strategi, pemahaman kekuatan/kelemahan diri sendiri, dan latihan formasi yang terus-menerus adalah kuncinya.

Dony Coach sudah menorehkan visi permaianan yang ingin diusung oleh Makara Prestasi: menyerang! Saya setuju seratus persen. Untuk bisa menyerang dengan optimal, fondasinya adalah pertahanan yang sempurna. Saya juga setuju seratus persen. Seperti yang ditunjukkan oleh Belanda dan Spanyol pada Piala Eropa 2008 yang lalu, sekarang memang era-nya serangan balik gaya baru. Bukan cattenacio. Namun serangan balik yang sangat efisien, yang berawal dari pertahanan sempurna dengan kemampuan penguasaan bola diatas rata-rata. Mengutip Dony Coach, “Nenek-nenek juga bisa offense! Tapi, tidak semua orang mampu melakukan defense yang sempurna!”, bener banget!!!

Untuk itu dibutuhkan komitmen. Setiap bagian dari Makara Prestasi, termasuk saya yang bagiannya adalah “menemani latihan” dan “mengomentari” melalui blog ini, harus memberikan yang terbaik dari dirinya demi kejayaan tim. Tidak boleh tidak. Yang merasa sebagai anak emas dan merasa pantas memberi seadanya saja, silahkan tinggal di rumah…

Komitmen itu tidak perlu dalam bentuk yang ekstrim. Tidak perlu sampai berdarah-darah seperti Ballack. Tidak perlu sampai cedera kaki seperti Villa. Tidak juga sampai depresi berat seperti Adrian Mutu. Cukuplah komitmen itu ditunjukkan dengan selalu hadir dalam latihan. Selalu hadir tepat waktu. Selalu berlatih dengan segenap pikiran, semangat, dan hati. Selalu memberikan yang terbaik, bahkan untuk hal-hal yang sepele.

Bagi saya, sukses bukanlah hasil. Sukses adalah rangkaian habit yang dibangun dari hal-hal kecil…

Posted in Euro 2008 | 5 Comments »

Jangan Percaya Sama Media!

June 23rd, 2008 by eko

Masih ingatkah Anda pada maraknya pemberitaan media massa seputar unggulan Euro 2008 dua minggu yang lalu? Semua media, domestik maupun internasional, menuliskan ramalannya masing-masing. Mulai Portugal dengan CR7-nya, Belanda dengan total football-nya, Italia dengan kegagahannya sebagai juara dunia 2006, Ceska dengan ketangguhan Cech dibawah mistar gawang, Spanyol dengan sekumpulan penyerang dan gelandang yang super tajam, hingga Jerman dengan metode latihan yang ultra-modern, semua digadang-gadang akan menjadi yang terkuat.

Berapa persen yang terbukti benar? Sejauh ini hanya 2 dari 6, alias 33% saja! Maka dari itu, saya katakan kepada Anda: Jangan percaya sama media!

Kalau yang terbukti salah meramal itu media ataupun kolumnis ecek-ecek sih saya tidak akan ambil pusing. Masalahnya, yang terbukti kurang akurat itu adalah penulis-penulis yang selama ini menjadi favorit saya, hehehe…

Rob Hughes, dalam ulasannya di tabloid Bola, jauh-jauh hari sudah mendewakan CR7 dan Portugal. Apa lacur, tim ini kandas digilas roda-roda diesel dari negeri bavaria. Sindhunata, meskipun (saya yakin) dalam hatinya masih mencintai Jerman, begitu berbunga-bunga memuji pertunjukan total football yang disajikan Santo Marco dan anak-anak asuhannya yang berwarna oranye.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Belanda, pada pertandingan terkahir, dengan permainan seperti segerombolan anak ayam kehilangan induk, harus bertekuk lutut di kaki beruang merah. “In Guus we trust”, begitu kata anak-anak muda dari negeri yang dingin itu. Dan benarlah! Total football dari Moskow menelan total football dari Amsterdam bulat-bulat. Bunga-bunga tulip yang semula mekar kini hanyut bersama limpasan air mata orang Swiss dan Belanda.

Hanya Menotti dan Beckenbauer yang terbukti memiliki intuisi tajam. Wajar saja, keduanya pernah sama-sama menempuh kerasnya perjalanan menuju puncak dunia sepak bola dengan sukses. Dari awal turnamen, Menotti yang filsuf sepak bola itu sudah mencela Portugal. “Portugal selalu terlihat sebagai tim yang bagus,” demikian selorohnya. Artinya, tim tersebut hanya terlihat saja seolah-olah bagus. Namun, menurut penilaiannya, tim tersebut tidak memiliki komponen yang dibutuhkan untuk menjuarai turnamen seberat Euro 2008.

Lain lagi dengan Beckenbauer, sang kaisar. Meskipun dia selalu menulis dengan gaya bahasa yang merendah, jelas terlihat bahwa sepenuhnya anak kesayangan dewi fortuna ini yakin Jerman akan muncul ke permukaan. Memang demikianlah yang terjadi!

Sekarang tinggal empat tim yang tersisa: Jerman, Turki, Rusia, dan Spanyol.

Jerman selalu punya mesin kedua untuk dinyalakan pada saat-saat terakhir. Percuma saja mencoba meramal nasib mereka dalam turnamen ini. Turki bertanding laksana pasukan kerajaan Ottoman dalam perang salib ratusan tahun yang lampau. Rusia bermain tanpa beban. Guus Hiddink, si pengkhianat besar, akan kembali menghembuskan semangat kemenangan ke telinga-telinga pemain mudanya yang sangat berbakat. Spanyol? Setelah lolos dari kutukan hoodoo, bahkan raja Juan yang penggemar Madrid sejati itu berani sesumbar bahwa inilah saatnya Spanyol menjadi juara. Hohoho…

Apa pun pilihan Anda, saya sarankan, sejak hari ini hingga partai final di stadion Ernst-Happel, 29 Juni nanti: Jangan percaya sama media!

Posted in Euro 2008 | 3 Comments »

Ceko yang Pemberani

June 12th, 2008 by eko

Karel Bruckner, Pelatih Ceko pada Euro 2008Selain partai Portugal-Turki (2-0) di awal turnamen, Belanda-Italia (3-0), dan Spanyol-Rusia (4-1), partai Portugal-Ceko tadi malam adalah salah satu pertandingan favorit saya. Tidak pakai basa-basi. Kedua tim langsung saling gasak sejak peluit babak pertama berbunyi. Hasilnya? 3-1 untuk Portugal!

Harus saya akui, ramalan para pengamat sepak bola profesional di awal turnamen terbukti 100% akurat. Kualitas turnamen ini berada di atas World Cup 2006. Bagaimana tidak? Setelah putaran pertama usai, semua peserta melakoni sedikitnya satu pertandingan, nyatalah bahwa tidak ada satu tim pun yang pantas disebut under dog! Semua bermain dengan organisasi permainan yang rapih. Swiss dan Austria, dua tuan rumah yang memiliki lebih banyak pendaki gunung terkenal dibanding pemain sepak bolanya, menunjukkan bahwa mereka tidak berada dibawah level tim-tim unggulan. Yah, mereka pada akhirnya memang takluk. Namun kemenangan atas mereka tidak diperoleh dengan mudah.

Selama partai Portugal-Ceko semalam, saya bolak-balik ber-sms ria dengan teman saya yang bekerja di BPN. Dia adalah tandem saya sebagai penyerang di era sepak bola kampus dulu, hahaha… What a nice memory! Teman saya ini pendukung setia Ceko. Dulunya saya juga demikian. Selagi Pavel Nedved dan Karel Poborsky masih mengenakan seragam timnas Ceko dan berlari laksana kereta api di sisi lapangan.

Gol pertama Portugal, Deco. SMS saya: “Uhuy!”. Dia jawab: “Masih 9 menit, cuy!”. Hahaha… optimisme a la pendukung fanatik.

Gol balasan dari Ceko, Sionko. SMS dia: “Mantabs!”. Saya balas: “Standar”. Supaya tahu saja, “standar” adalah istilah yang digunakan di kampus saya, waktu itu, untuk melecehkan gol yang diciptakan musuh ke gawang kita, dalam pertarungan sepak bola imajiner di PS 2. Mahasiswa itu, entah dulu entah sekarang, memang punya penyakit denial. Sudah kebobolan, malah menghina yang membobolkan. Kacau!

Gol kedua Portugal, Ronaldo. SMS saya: “Bheee…”. Balasannya: “Biasa!”. Saya balas lagi: “CR7 emang udah biasa ngegolin Peter Cech, huehehe…”

Gol penutup kemenangan Portugal, Quaresma. SMS saya: “Ehem!”. Dia balas bahkan sebelum sms saya terkirim, “Dodol!”.

CR7 jelas bersinar malam itu. Namun, dimata saya, Portugal berhutang banyak kepada Deco. Adalah Deco yang memberi ketenangan pada rekan-rekan setimnya dengan penguasaan bola, daya jelajah, dan pass yang sangat meyakinkan. Ketenangan dan keutuhan timlah yang akhirnya memberi kesempatan pada Ronaldo untuk menyingkirkan beban di pundaknya dan bersinar malam itu. Tanpa Deco, tidak ada ketenangan. Tanpa ketenangan, tidak ada Ronaldo.

Bicara soal ketenangan, Simao jelas bukan pemain favorit saya. Setidaknya hingga pagi ini. Saya benar-benar heran dengan kengototannya mengambil tendangan bebas, sesaat sebelum ia diganti. Padahal itu jelas adalah zona mautnya Ronaldo. Alangkah kekanak-kanakan! Big Phill sebaiknya segera menunjukkan tangan besi dalam hal ini. Menghadapi tim-tim sekelas Jerman, atau Italia, yang sangat pandai mengeksploitasi kelemahan organisasi tim lawan, fisik maupun psikologis, kelakuan seperti ini akan membuahkan kesulitan besar.

Namun bukan Portugal yang membuat saya tersentuh malam itu, melainkan Ceko! Ya, Ceko

Sebagai mantan pendukung (ada gitu, mantan pendukung?), saya bangga sekali melihat tim yang satu ini. Baik tadi malam, atau empat tahun lalu, ketika mereka dihempaskan sundulan maut penyerang Yunani, Ceko tetaplah Ceko yang pemberani. Mereka bermain sebagai dirinya sendiri. Sebuah tim, yang setiap anggotanya, memberikan yang terbaik untuk seragam kebanggaannya. Dan, tentu saja, membuat hidup lawan-lawannya menjadi lebih sulit.

Tidak seperti Rusia, yang berubah menjadi kespanyol-spanyolan ketika berhadapan dengan Spanyol, Ceko tetaplah Ceko, baik ketika menaklukkan Swiss ataupun ketika tunduk pada Potugal. Mereka tidak ikut-ikutan sporadis seperti Swiss. Tidak pula ber-joga bonito seperti Portugal. Mereka tetap berlari. Dengan umpan yang tajam. Dengan semangat a la pasukan perang.

Menghadapi Turki pada pertandingan terakhir, yang artinya juga pertandingan hidup-mati bagi kedua tim, saya yakin, Ceko akan tetap seperti itu. Kesempatan masih terbuka. Dan Ceko, sejauh yang saya pahami, adalah sekumpulan orang yang super optimis. Dibawah nahkoda kakek tua yang berkarakter luar biasa: Karel Bruckner.

Posted in Euro 2008 | No Comments »

« Previous Entries