Category IconCeko yang Pemberani

June 12th, 2008 by eko

Karel Bruckner, Pelatih Ceko pada Euro 2008Selain partai Portugal-Turki (2-0) di awal turnamen, Belanda-Italia (3-0), dan Spanyol-Rusia (4-1), partai Portugal-Ceko tadi malam adalah salah satu pertandingan favorit saya. Tidak pakai basa-basi. Kedua tim langsung saling gasak sejak peluit babak pertama berbunyi. Hasilnya? 3-1 untuk Portugal!

Harus saya akui, ramalan para pengamat sepak bola profesional di awal turnamen terbukti 100% akurat. Kualitas turnamen ini berada di atas World Cup 2006. Bagaimana tidak? Setelah putaran pertama usai, semua peserta melakoni sedikitnya satu pertandingan, nyatalah bahwa tidak ada satu tim pun yang pantas disebut under dog! Semua bermain dengan organisasi permainan yang rapih. Swiss dan Austria, dua tuan rumah yang memiliki lebih banyak pendaki gunung terkenal dibanding pemain sepak bolanya, menunjukkan bahwa mereka tidak berada dibawah level tim-tim unggulan. Yah, mereka pada akhirnya memang takluk. Namun kemenangan atas mereka tidak diperoleh dengan mudah.

Selama partai Portugal-Ceko semalam, saya bolak-balik ber-sms ria dengan teman saya yang bekerja di BPN. Dia adalah tandem saya sebagai penyerang di era sepak bola kampus dulu, hahaha… What a nice memory! Teman saya ini pendukung setia Ceko. Dulunya saya juga demikian. Selagi Pavel Nedved dan Karel Poborsky masih mengenakan seragam timnas Ceko dan berlari laksana kereta api di sisi lapangan.

Gol pertama Portugal, Deco. SMS saya: “Uhuy!”. Dia jawab: “Masih 9 menit, cuy!”. Hahaha… optimisme a la pendukung fanatik.

Gol balasan dari Ceko, Sionko. SMS dia: “Mantabs!”. Saya balas: “Standar”. Supaya tahu saja, “standar” adalah istilah yang digunakan di kampus saya, waktu itu, untuk melecehkan gol yang diciptakan musuh ke gawang kita, dalam pertarungan sepak bola imajiner di PS 2. Mahasiswa itu, entah dulu entah sekarang, memang punya penyakit denial. Sudah kebobolan, malah menghina yang membobolkan. Kacau!

Gol kedua Portugal, Ronaldo. SMS saya: “Bheee…”. Balasannya: “Biasa!”. Saya balas lagi: “CR7 emang udah biasa ngegolin Peter Cech, huehehe…”

Gol penutup kemenangan Portugal, Quaresma. SMS saya: “Ehem!”. Dia balas bahkan sebelum sms saya terkirim, “Dodol!”.

CR7 jelas bersinar malam itu. Namun, dimata saya, Portugal berhutang banyak kepada Deco. Adalah Deco yang memberi ketenangan pada rekan-rekan setimnya dengan penguasaan bola, daya jelajah, dan pass yang sangat meyakinkan. Ketenangan dan keutuhan timlah yang akhirnya memberi kesempatan pada Ronaldo untuk menyingkirkan beban di pundaknya dan bersinar malam itu. Tanpa Deco, tidak ada ketenangan. Tanpa ketenangan, tidak ada Ronaldo.

Bicara soal ketenangan, Simao jelas bukan pemain favorit saya. Setidaknya hingga pagi ini. Saya benar-benar heran dengan kengototannya mengambil tendangan bebas, sesaat sebelum ia diganti. Padahal itu jelas adalah zona mautnya Ronaldo. Alangkah kekanak-kanakan! Big Phill sebaiknya segera menunjukkan tangan besi dalam hal ini. Menghadapi tim-tim sekelas Jerman, atau Italia, yang sangat pandai mengeksploitasi kelemahan organisasi tim lawan, fisik maupun psikologis, kelakuan seperti ini akan membuahkan kesulitan besar.

Namun bukan Portugal yang membuat saya tersentuh malam itu, melainkan Ceko! Ya, Ceko

Sebagai mantan pendukung (ada gitu, mantan pendukung?), saya bangga sekali melihat tim yang satu ini. Baik tadi malam, atau empat tahun lalu, ketika mereka dihempaskan sundulan maut penyerang Yunani, Ceko tetaplah Ceko yang pemberani. Mereka bermain sebagai dirinya sendiri. Sebuah tim, yang setiap anggotanya, memberikan yang terbaik untuk seragam kebanggaannya. Dan, tentu saja, membuat hidup lawan-lawannya menjadi lebih sulit.

Tidak seperti Rusia, yang berubah menjadi kespanyol-spanyolan ketika berhadapan dengan Spanyol, Ceko tetaplah Ceko, baik ketika menaklukkan Swiss ataupun ketika tunduk pada Potugal. Mereka tidak ikut-ikutan sporadis seperti Swiss. Tidak pula ber-joga bonito seperti Portugal. Mereka tetap berlari. Dengan umpan yang tajam. Dengan semangat a la pasukan perang.

Menghadapi Turki pada pertandingan terakhir, yang artinya juga pertandingan hidup-mati bagi kedua tim, saya yakin, Ceko akan tetap seperti itu. Kesempatan masih terbuka. Dan Ceko, sejauh yang saya pahami, adalah sekumpulan orang yang super optimis. Dibawah nahkoda kakek tua yang berkarakter luar biasa: Karel Bruckner.

Posted in Euro 2008 | No Comments »

Category IconSelamat Datang Euro 2008!

June 4th, 2008 by eko

Saya dapat melihat Anda tersenyum. Demikian juga dengan semua orang di Jabodetabek. Kenapa? Karena tahun ini, dan mungkin untuk terakhir kalinya, kita masih bisa menyaksikan perhelatan sepak bola paling akbar se-Eropa tanpa mengeluarkan uang sepeser pun!

Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang berada di wilayah lainnya? Saya tidak tahu persis. Ketika saya berkunjung ke Pematang Siantar, Sumatera Utara, beberapa bulan lalu, saya tidak dapat menyaksikan Liga Italia karena ternyata Trans7 mengacak sinyal siaran tersebut. Kalau ternyata RCTI juga terpaksa menerapkan kebijakan ini untuk siaran Euro 2008, yah… wassalam deh!

Paling sial, Anda masih dapat mengikuti perkembangan terkini dari perhelatan ini di Bola Eropa Kompas.com. Tentu dengan syarat bahwa Anda memiliki akses internet dengan bandwidth memadai.

Banyak pengamat sepak bola profesional yang menyatakan bahwa mutu Euro 2008 lebih tinggi dibanding World Cup 2006. Mereka mengemukakan fakta bahwa sejak fase semifinal, World Cup 2006 didominasi oleh tim dari Eropa. Yah, menurut saya sih, penilaian seperti ini sah-sah saja. Bagi saya, tetap saja, World Cup itu adalah turnamen paling utama untuk sepak bola. Lha wong pesertanya diseleksi dari seluruh dunia…

Penggemar Inggris kebanyakan memilih cuti. Mereka memutuskan untuk tidak menonton perhelatan kali ini, karena Inggris tidak ambil bagian. “Tidak seru!”, demikian umumnya mereka beralasan. Mohon maaf, setahu saya, Inggris belum punya tradisi menjuarai turnamen kelas dunia semacam Euro ataupun World Cup. Jadi, bagian mananya yang tidak seru?

Seminggu terakhir ini media massa begitu gencar mengupas kondisi tim masing-masing negara peserta. Jerman banyak dipuji dan diunggulkan karena metode latihannya yang modern. Sejak era kepelatihan Klinsman, memang pendekatan mereka terhadap sepak bola, terutama dari sisi kebugaran, sedikit nyeleneh. Namun demikian, metode ini terbukti mampu membawa mereka ke peringkat tiga World Cup 2006.

Italia diunggulkan, namun diprediksi bakal kandas. Faktor rataan usia pemain, yang tergolong tua, menjadi sorotan utama. Dan kehilangan Canna disaat-saat terakhir, sepertinya, menjadi lonceng tanda bahaya yang lebih nyaring dibanding dentang lonceng Vatikan. Mungkin orang-orang Italia sekarang gencar berdoa agar perjudian besar sang Don, dengan memanggil si Bengal Peter Pan, berbuah manis.

Prancis digadang-gadang akan mendulang sukses dengan formasi “segi empat magis”-nya. Wow! Mungkin ini mimpi siang bolong si Domenech. Alangkah muluknya membandingkan kehebatan “segi empat magis” Prancis saat ini dengan the Origin yang dikawal oleh Platini.

Portugal? Terakhir saya lihat foto Ronaldo, di tabloid BOLA edisi Selasa 3 Juni 2008, keluar sesi latihan dengan terkencot-kencot.

Belanda yang bermain defensif-efisien malah mungkin menjanjikan sesuatu yang lain bagi kita semua. Van Basten, sejak eranya sebagai penyerang brilian di AC Milan dan timnas Belanda, adalah sosok yang mengutamakan hasil. Kalaupun hasil positif itu diperoleh dengan cara yang indah, ya itu memang kelebihan si Angsa. Tidak dibuat-buat sama sekali. Tapi, terus-terang saja, saya malas mendukung Belanda. Soalnya jarang menang! Hahahaha…

Lalu apa kaitannya dengan futsal?

Mungkin ini pertanyaan yang seharusnya dipikirkan dalam-dalam oleh semua pengelola lapangan futsal komersial yang ada. Besar kemungkinannya para futsalor akan menurunkan aktivitas futsal mereka selama perhelatan Euro 2008. Setidaknya yang semula mengambil waktu dimalam hari, akan menggeser waktunya lebih ke sore hari. Bagaimana tidak? Bayangkanlah! Bermain futsal jam 20:00-22:00, lalu dilanjutkan dengan nonton siaran langsung Euro 2008 sampai jam 03:00, kemudian jam 07:00 sudah harus berangkat ke kantor. Mana tahan? Salah-salah, pasca Euro, rumah sakit dipenuhi para futsalor yang kena sakit lever…

Saya pribadi lebih memilih mengalihkan aktivitas futsal saya menjadi siang hari, di hari Sabtu atau Minggu. Hari kerja, dengan adanya siaran langsung Euro 2008, akan saya jalani dengan urutan sebagai berikut: pulang kantor jam 19:00, sampai di rumah istrahat/tidur, bangun jam 24:00, lalu nonton, tidur lagi sampai jam 05:00, jam 06:00 berangkat lagi ke kantor. Tentu saja jadual itu akan sukses besar kalau tidak ada pekerjaan tambahan yang melayang di tengah jalan!

Nah, kepada bung Aji selaku presiden Makara FC dan Dony Coach selaku pelatih umum, sudah jelas kan alasannya kalau saya tidak ikut latihan setiap rabu malam selama bulan Juni ini? Hahaha…

Apapun pilihan Anda… Euro 2008 dan futsal tidak boleh dilupakan!

Posted in Euro 2008 | 11 Comments »

Next Entries »