Makara dan Rijak (Curhat Ni Yeee…)

November 5th, 2008 by Adjie

Akhirya… Gue nulis artikel juga! Itu pun setelah berkali-kali Bang Eko minta gue untuk nulis. Tenang aja Bang! Kali ini gue nulis, hehehehe… Mau nulis apa ya?

Oh iya, pa kabar ya temen-temen Makara Prestasi ? Bukannya gue ngga tau, tapi banyak banget temen-temen Makara Prestasi yang jarang dateng. Padahal jujur, gue sebagai orang yang dipercayain untuk organisir (gue ngga mau disebut ketua) Makara Prestasi, berharap banyak sama temen-temen yang kemarin udah kepilih turnamen di Pamulang.

Banyaknya temen-temen yang ngga dateng, kalo boleh gue bilang membawa pengaruh yang besar buat program ataupun keuangan Makara FC. Karena seperti yang temen-temen tahu sendiri, Makara FC bukanlah sebuah klub yang berorientasi mencari uang, tapi lebih kepada “apa yang temen-temen kasih, itu jugalah yang temen-temen dapet“.

Selain itu, program yang udah dirancang Doni Coach juga pasti terganggu. Tapi sekali lagi gue mahfum koq, karena kesibukan temen-temen yang udah pada kerja, jadi ngga bisa dateng. Tapi biar gimanapun Makara FC harus tetap jalan. Tapi, caranya gimana ya? Hehehehehe… Tenang aja! Kalo yang organisirnya orang yang baik, pasti ada jalan. Hehehe, becanda koq!

Beberapa waktu lalu, Makara FC sempat latih tanding dengan Rijak FC. Mereka itu sebenarnya teman-temannya Doni Coach alias mantan anak asuhannya dia. Nah, mereka sedang persiapan untuk kompetisi di Grand Futsal dan turnamen Jusuf Kala. Dari situ, Doni Coach yang katanya sudah cukup bangga dengan predikat coach-nya ini melihat sebuah peluang untuk mengadakan kerjasama antara Makara FC dengan Rijak FC. Kaya gimana ya?

Kerjasama disini, berupa Rijak FC sebagai tim yang bermaterikan pemain muda sedang kesulitan untuk mencari lapangan untuk tempat berlatih, dan Makara FC kebetulan sedang butuh banyak orang. Dan secara kebetulan juga, Doni Coach menjadi pelatih untuk Rijak FC. Melihat kecocokan antar keduanya ini, Doni Coach pun mengutarakan niatnya untuk ngegabungin Makara FC dengan  Rijak FC.

Akhirnya Doni Coach mempertemukan gue dengan Bang Ari selaku koordinator dari teman-teman Rijak FC. Dan kitapun ngobrol-ngobrol tentang kemungkinan terjalinnya kerjasama ini. Tapi keputusan jadi atau tidaknya tidak harus ditentukan malam itu, karena dari perbincangan ini, diputuskan kalaupun nantinya akan bekerja sama, tidak akan menghapuskan identitas dari Makara FC maupun Rijak FC.

Demikianlah. Rijak FC akan mendiskusikan dengan pengurusnya, demikian juga dengan Makara FC.

Dan seminggu berselang, tepatnya hari Rabu minggu lalu, Makara FC dengan Rijak FC kembali latihan bersama. Dan menurut perjanjian, malam itu akan diputuskan jadi tidaknya kita bergabung. Dan hasilnya adalah…

Setelah latihan, diputuskan kalau Makara FC dan Rijak FC akan bergabung. Hore! Selamat ya guys, kita masih bisa tetap latihan. Halah!

Secara resmi, mulai minggu ini Makara FC akan latihan bersama dengan Rijak FC. Namun sekali lagi ditekankan oleh kedua pihak bahwa dengan kebersamaan ini tidak akan melunturkan identitas masing-masing. Seperti yang dikatakan Doni Coach, simbiosis mutualisme disini diharapkan bisa terjalin dengan baik. Dan benar saja, dalam menghadapi turnamen Jusuf Kala yang berlangsung sejak minggu lalu, Rijak FC dan Makara FC telah bergabung menjadi satu. Makara FC diwakili oleh Wahyu. Lho, kenapa cuma Wahyu? Memangnya Roy kemana? Terus Ito, Tommy, Duano, Wide bahkan gue sendiri, kenapa ngga kepilih?

Bukannya kita semua ngga mampu secara permainan, tapi karena turnamen ini terbatas bagi mereka yang usianya maksimal 23 tahun. Nah, jadilah kita semua ngga masuk. Tenang guys, nanti kita bikin turnamen yang 23 tahun keatas, biar Wahyu ngga bisa main hehehe…

Yah, semoga dengan kerjasama antara Makara FC dengan Rijak FC membawa dampak yang positif bagi kedua pihak. Mudah-mudahan ya! Sekarang tinggal Doni Coach yang harus berfikir keras bagaimana menyatukan kedua tim ini tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing. So, welcome temen-temen dari Rijak FC!

Posted in Opini | 10 Comments »

Makarafutsal.com Reborn

June 2nd, 2008 by eko

Hahaha! Judul posting-an kali ini seperti slogan-nya KOMPAS.com saja yahApaan siy, Makara Futsal pake reborn segala?

Entah bagaimana persisnya, saya merasa bahwa memang sudah saatnya Makarafutsal.com mengubah tampilan blog-nya (peluncurannya tentu tidak menyertakan bintang dunia hiburan semacam Ari Lasso atau Sandra Dewi, sebagaimana yang dilakukan KOMPAS.com beberapa waktu lalu). Momennya pun tepat! Makara FC baru saja menelurkan Makara Prestasi yang menempuh pendekatan futsal berbeda dengan organisasi induknya. Mereka menempuh jalur prestasi, sesuai dengan namanya, dan konsekuen dengan segala kewajiban yang melekat pada pendekatan tersebut: disiplin dan determinasi!

Pendekatan yang berbeda, dengan sumber daya manusia yang berbeda pula, sepertinya merupakan tema perubahan yang kini banyak disuarakan dan diwujudkan dimana-mana. Bahkan, trend seperti ini juga terjadi di DPR, kan? Perhatikan saja! Demikian banyak darah muda dalam wujud artis yang ingin menjadi anggota parlemen. Hahaha… Bukannya meremehkan atau apa, namun bagaimana mungkin artis-artis yang selalu hidup enak dan mendewakan hedonisme itu mampu berempati terhadap kesulitan hidup rakyat kecil? Bagi saya, ini sih lebih buruk daripada lawakan srimulat, hehe…

Eits… Tunggu dulu! Saya tidak mengatakan bahwa lawakan srimulat itu jelek. In fact, dulu saya sering menonton lawakan ini ketika masih disiarkan rutin oleh salah satu tv swasta kita. Dan saya menikmatinya! Terutama aksi pak Timbul, hehe…

Ungkapan diatas saya maksudkan sebagai sebuah ironi. Sebuah aktivitas yang sangat serius (berupa pengelolaan regulasi), yang jelas-jelas menyangkut kehidupan orang banyak, diserahkan pengelolaannya pada orang-orang yang tidak punya latar-belakang kemampuan yang berkorelasi positif dengan tuntutan profesinya. Halah!

Intinya, saya berharap semoga KOMPAS.com dan Makara Prestasi tidak ikut-ikutan menjadi srimulat (dengan makna ironi) juga… Dan, melihat sumber daya manusia yang ada di kedua entitas tersebut, saya punya alasan yang cukup untuk meyakini bahwa kesuksesan akan segera menjelang…

Mengiringi pendekatan baru tersebut, saya memutuskan untuk mengubah tampilan blog ini. Disamping itu, memang sudah ada beberapa suara sumbang yang menyatakan bahwa blog ini wajahnya buruk rupa. Hahaha… Kritik memang kejam! Namun, begitulah cara dunia ini berkembang. Menjawab kritik dengan perubahan yang positif adalah satu-satunya cara bagi kita untuk menjadi lebih baik. Setidaknya, logika itulah yang saya pahami dan jalani. Jadi, hare gene, kalo masih ada orang yang tipis kuping dan mencak-mencak menghadapi kritik, aduh… kelaut aja deh! Pujian itu racun! Racun… Racun… Racun… Kayak lagunya siapa yah?

Begitulah. Dengan bantuan dari teman baik saya, si diditho yang belakangan ini kena racun sepeda gunung, akhirnya saya mengganti mesin pengelola dan juga tampilan muka dari blog ini. Hasilnya? Silahkan Anda nilai sendiri! Menurut selera saya sih, yang sama sekali buta mengenai keindahan desain dan aspek-aspek artistik dari sebuah website/blog, wajah Makarafutsal.com sudah lebih baik dibanding sebelumnya (Narsis Mode: ON). Setidaknya jika dinikmati menggunakan Internet Explorer 7…

Bagaimanapun penilaian yang saya terima terkait perubahan ini, saya dapat berkata dengan lantang bahwa memang inilah jawaban saya terhadap tantangan yang ada. Bagaimana jabawan Makara Prestasi terhadap tantangan yang mereka berikan pada dirinya sendiri dengan menempuh jalur prestasi? Disiplin dan determinasi! Saya rasa, dua hal itulah yang nantinya akan menentukan apakah kita akan meraih apa yang dicita-citakan atau hanya akan berakhir sebagai dagelan belaka.

Baiklah kiranya jika kita semua, yang sedang hangat-hangatnya memikirkan, membicarakan, dan melakukan perubahan, mengajukan pertanyaan ini: Reborn… To be better or uglier?

Posted in Opini | 4 Comments »

Makara Prestasi Belum Siap

May 15th, 2008 by eko

Tim Makara Prestasi dan Tim CengkarengYa! Itulah kesimpulan saya setelah semalam ikut (baca: menonton) latih-tanding mereka yang pertama. Jika Anda, para anggota Makara Prestasi (dan semua yang peduli), berhenti membaca disini, pasti kekecewaanlah yang akan tertinggal di hati.

Namun tidak! Saya tidak punya niat menghujat ataupun berpesimis ria. Ini adalah pandangan pribadi yang, sedikit-banyak, saya yakin mengandung kebenaran. Dan, di dunia yang kejam ini, apalah yang lebih berharga daripada pendapat seorang sahabat yang diberikan dengan niat yang tulus? Halah…

Berbekal latihan selama satu bulan penuh, tadi malam Makara Prestasi menjamu tamunya dari bilangan Cengkareng. Tamu yang satu ini, sejujurnya, sangat berbeda dengan tamu-tamu sebelumnya yang pernah dihadapi Makara FC. Mereka datang ke training ground di Simprug dengan kemampuan fisik dan individu yang boleh dibilang baik sekali. Alhasil, semalam saya menyaksikan perseteruan antara skema futsal (yang ditampilkan oleh Makara Prestasi) melawan koleksi skill individu (yang diusung oleh Tim Cengkareng). Seru!

Skor akhirnya adalah 6-4 untuk kemenangan Makara Prestasi. Bukan hasil yang buruk untuk latih-tanding pertama bukan?

Tim Cengkareng, sejak awal permainan, memang terlihat lebih berinisiatif menekan. Perpaduan skill individu dan tendangan-tendangan keras (yang, sejauh pegamatan saya, 80% akurat) membuat mereka berada diatas angin untuk 5 menit pertama. Ditambah dengan pressing ketat, jadilah mereka menekan Makara Prestasi habis-habisan. Kondisi pertandingan seperti ini, ternyata, membuka borok yang masih belum sepenuhnya mampu disembuhkan oleh latihan ekstra keras selama sebulan terakhir. Makara Prestasi bermain seperti anak ayam kehilangan induk. Berkumpul namun kehilangan peran individu. Bersatu namun seperti tidak punya tujuan yang sama. Bukan hal yang aneh jika akhirnya Tim Cengkareng mampu mengoptimalkan peluang dan memetik 2 gol dengan “mudah”.

evaluasi di tengah pertandinganUntunglah ini futsal! Pergantian pemain dapat dilakukan berulang kali dengan jumlah yang tidak terbatas. Dan, tidak tanggung-tanggung, Dony Coach mengganti semua pemain yang “terluka” ini!

Keputusan tersebut terbukti memiliki dampak positif. Menghadapi tim yang sepenuhnya baru, Tim Cengkareng terpaksa mengendurkan serangan. Mereka memilih untuk menunggu mengamati lawan barunya terlebih dulu. Toh mereka sudah unggul 2-0.

Perubahan suasana ini memberi angin segar pada permainan Makara Prestasi. Serangan Tim Cengkareng yang mengendur membuat Makara Prestasi dapat menerapkan formasi 4-0 pressing dengan baik. Begitu baiknya mereka menjalankan taktik ini, saya dengan jelas dapat melihat bagaimana serangan dari Tim Cengkareng kemudian “teredam dengan halus”. Gempuran tim tamu tidak membentur dinding batu yang keras, melainkan terhisap dan larut dalam dinding air yang dinamis. Bagaikan tai-chi, formasi ini membuyarkan fokus serangan lawan sehingga akhirnya larut karena kehilangan daya tekan. Benar-benar cantik!

Dan memang demikianlah yang seharusnya ditunjukkan oleh Makara Prestasi…

Sementara Tim Cengkareng semakin kehabisan ide dan energi (mereka hanya membawa 2 tim), dalam pertandingan yang berdurasi 25 menit x 2 babak tersebut Makara Prestasi semakin mendapatkan kepercayaan dirinya. Dalam banyak kesempatan, skill individu yang dimiliki oleh Tim Cengkareng memang benar-benar menyulitkan. Namun, untunglah, Ado yang didaulat jadi kiper dadakan malam itu menunjukkan keberanian dan reflek yang sangat baik.

Sejujurnya, saya tidak mengerti bagaimana proses perubahan formasi dari 4-0 pressing (yang merupakan mekanisme bertahan) menjadi 4-0 full court (bener gak niy, sebutan taktiknya? – yang merupakan mekanisme menyerang) yang malam itu dipertunjukkan oleh Makara Prestasi. Dari yang saya amati, mereka memang berhasil menerapkan 4-0 pressing untuk meredam serangan lawan. Namun, kemampuan mengubah formasi tersebut menjadi sebuah formasi menyerang yang terarah? Saya belum melihat itu bisa sepenuhnya dilakukan dengan mulus. Ketika berada dalam tekanan lawan, Makara Prestasi efektif sekali menempatkan diri untuk menutup semua celah serangan. Namun ketika formasi itu membuahkan hasil dan bola berada dalam penguasaan mereka, yang terjadi adalah: Makara Prestasi seperti kehilangan ide penyerangan. Gerakan masing-masing individu, dari posisi bertahan menuju posisi menyerang, boleh dibilang masih lambat dan terkesan meraba-raba. Mereka bertahan seperti tai-chi, namun masih menyerang dengan karate! Hahaha…

Saya sebenarnya bukan penggemar teknik dan taktik. Bagi saya, jiwa adalah segalanya. Malang benar, justru itulah yang belum saya lihat dalam diri Makara Prestasi. Dalam latih-tanding semalam, mereka bermain layaknya menghadapi ujian sekolah. Setiap bola yang menghampiri adalah soal yang harus dipecahkan dan diterima dengan terpaksa. Bahkan, kalau bisa dihindari! Tidak ada keceriaan disana. Berbeda sekali dengan yang mereka tunjukkan di 2 game santai setelah latih-tanding usai. Jangan salahkan Dony Coach yang memang super-duper cerewet. Itu sudah tugasnya. Lagian, memang bawaan orok juga!

Baik kiranya, jika Makara Prestasi menonton rekaman permainan Franz Beckenbauer. Sang kaisar yang membawa keceriaan permainan kedalam disiplin a la militer milik timnas Jerman di tahun 1974. Dia juga membawa keberanian kreasi dan ide kedalam pertandingan super ketat sekelas piala dunia. Dia mengajarkan satu hal kepada semua orang di dunia: berinisiatif, bukan hanya bereaksi! Bagi saya, 4-0 pressing adalah reaksi. 4-0 full court adalah inisiatif. Dan saya yakin sepenuhnya, inisiatiflah yang akan membuahkan kemenangan!

Secara keseluruhan, dari kacamata yang sangat objektif, saya menilai permainan Makara Prestasi sudah jauh melampaui permainan Makara FC sebelumnya. Saya, dan anggota tim lainnya yang sudah “uzur” dan gendut ini, tidak akan punya kesempatan apa-apa jika harus berhadapan dengan kalian. Namun, dalam turnamen yang segera menjelang, lawan kalian bukanlah kami! Lawan kalian adalah para futsalor yang punya ide, motivasi, dan determinasi untuk menjadi yang terbaik. Dunia amatir, amatir prestasi, dan profesional adalah tiga entitas yang punya aturan sangat berbeda. Makara Prestasi, selamat berlatih lagi…

Posted in Opini | 10 Comments »

« Previous Entries Next Entries »