Makara Prestasi Belum Siap
Ya! Itulah kesimpulan saya setelah semalam ikut (baca: menonton) latih-tanding mereka yang pertama. Jika Anda, para anggota Makara Prestasi (dan semua yang peduli), berhenti membaca disini, pasti kekecewaanlah yang akan tertinggal di hati.
Namun tidak! Saya tidak punya niat menghujat ataupun berpesimis ria. Ini adalah pandangan pribadi yang, sedikit-banyak, saya yakin mengandung kebenaran. Dan, di dunia yang kejam ini, apalah yang lebih berharga daripada pendapat seorang sahabat yang diberikan dengan niat yang tulus? Halah…
Berbekal latihan selama satu bulan penuh, tadi malam Makara Prestasi menjamu tamunya dari bilangan Cengkareng. Tamu yang satu ini, sejujurnya, sangat berbeda dengan tamu-tamu sebelumnya yang pernah dihadapi Makara FC. Mereka datang ke training ground di Simprug dengan kemampuan fisik dan individu yang boleh dibilang baik sekali. Alhasil, semalam saya menyaksikan perseteruan antara skema futsal (yang ditampilkan oleh Makara Prestasi) melawan koleksi skill individu (yang diusung oleh Tim Cengkareng). Seru!
Skor akhirnya adalah 6-4 untuk kemenangan Makara Prestasi. Bukan hasil yang buruk untuk latih-tanding pertama bukan?
Tim Cengkareng, sejak awal permainan, memang terlihat lebih berinisiatif menekan. Perpaduan skill individu dan tendangan-tendangan keras (yang, sejauh pegamatan saya, 80% akurat) membuat mereka berada diatas angin untuk 5 menit pertama. Ditambah dengan pressing ketat, jadilah mereka menekan Makara Prestasi habis-habisan. Kondisi pertandingan seperti ini, ternyata, membuka borok yang masih belum sepenuhnya mampu disembuhkan oleh latihan ekstra keras selama sebulan terakhir. Makara Prestasi bermain seperti anak ayam kehilangan induk. Berkumpul namun kehilangan peran individu. Bersatu namun seperti tidak punya tujuan yang sama. Bukan hal yang aneh jika akhirnya Tim Cengkareng mampu mengoptimalkan peluang dan memetik 2 gol dengan “mudah”.
Untunglah ini futsal! Pergantian pemain dapat dilakukan berulang kali dengan jumlah yang tidak terbatas. Dan, tidak tanggung-tanggung, Dony Coach mengganti semua pemain yang “terluka” ini!
Keputusan tersebut terbukti memiliki dampak positif. Menghadapi tim yang sepenuhnya baru, Tim Cengkareng terpaksa mengendurkan serangan. Mereka memilih untuk menunggu mengamati lawan barunya terlebih dulu. Toh mereka sudah unggul 2-0.
Perubahan suasana ini memberi angin segar pada permainan Makara Prestasi. Serangan Tim Cengkareng yang mengendur membuat Makara Prestasi dapat menerapkan formasi 4-0 pressing dengan baik. Begitu baiknya mereka menjalankan taktik ini, saya dengan jelas dapat melihat bagaimana serangan dari Tim Cengkareng kemudian “teredam dengan halus”. Gempuran tim tamu tidak membentur dinding batu yang keras, melainkan terhisap dan larut dalam dinding air yang dinamis. Bagaikan tai-chi, formasi ini membuyarkan fokus serangan lawan sehingga akhirnya larut karena kehilangan daya tekan. Benar-benar cantik!
Dan memang demikianlah yang seharusnya ditunjukkan oleh Makara Prestasi…
Sementara Tim Cengkareng semakin kehabisan ide dan energi (mereka hanya membawa 2 tim), dalam pertandingan yang berdurasi 25 menit x 2 babak tersebut Makara Prestasi semakin mendapatkan kepercayaan dirinya. Dalam banyak kesempatan, skill individu yang dimiliki oleh Tim Cengkareng memang benar-benar menyulitkan. Namun, untunglah, Ado yang didaulat jadi kiper dadakan malam itu menunjukkan keberanian dan reflek yang sangat baik.
Sejujurnya, saya tidak mengerti bagaimana proses perubahan formasi dari 4-0 pressing (yang merupakan mekanisme bertahan) menjadi 4-0 full court (bener gak niy, sebutan taktiknya? - yang merupakan mekanisme menyerang) yang malam itu dipertunjukkan oleh Makara Prestasi. Dari yang saya amati, mereka memang berhasil menerapkan 4-0 pressing untuk meredam serangan lawan. Namun, kemampuan mengubah formasi tersebut menjadi sebuah formasi menyerang yang terarah? Saya belum melihat itu bisa sepenuhnya dilakukan dengan mulus. Ketika berada dalam tekanan lawan, Makara Prestasi efektif sekali menempatkan diri untuk menutup semua celah serangan. Namun ketika formasi itu membuahkan hasil dan bola berada dalam penguasaan mereka, yang terjadi adalah: Makara Prestasi seperti kehilangan ide penyerangan. Gerakan masing-masing individu, dari posisi bertahan menuju posisi menyerang, boleh dibilang masih lambat dan terkesan meraba-raba. Mereka bertahan seperti tai-chi, namun masih menyerang dengan karate! Hahaha…
Saya sebenarnya bukan penggemar teknik dan taktik. Bagi saya, jiwa adalah segalanya. Malang benar, justru itulah yang belum saya lihat dalam diri Makara Prestasi. Dalam latih-tanding semalam, mereka bermain layaknya menghadapi ujian sekolah. Setiap bola yang menghampiri adalah soal yang harus dipecahkan dan diterima dengan terpaksa. Bahkan, kalau bisa dihindari! Tidak ada keceriaan disana. Berbeda sekali dengan yang mereka tunjukkan di 2 game santai setelah latih-tanding usai. Jangan salahkan Dony Coach yang memang super-duper cerewet. Itu sudah tugasnya. Lagian, memang bawaan orok juga!
Baik kiranya, jika Makara Prestasi menonton rekaman permainan Franz Beckenbauer. Sang kaisar yang membawa keceriaan permainan kedalam disiplin a la militer milik timnas Jerman di tahun 1974. Dia juga membawa keberanian kreasi dan ide kedalam pertandingan super ketat sekelas piala dunia. Dia mengajarkan satu hal kepada semua orang di dunia: berinisiatif, bukan hanya bereaksi! Bagi saya, 4-0 pressing adalah reaksi. 4-0 full court adalah inisiatif. Dan saya yakin sepenuhnya, inisiatiflah yang akan membuahkan kemenangan!
Secara keseluruhan, dari kacamata yang sangat objektif, saya menilai permainan Makara Prestasi sudah jauh melampaui permainan Makara FC sebelumnya. Saya, dan anggota tim lainnya yang sudah “uzur” dan gendut ini, tidak akan punya kesempatan apa-apa jika harus berhadapan dengan kalian. Namun, dalam turnamen yang segera menjelang, lawan kalian bukanlah kami! Lawan kalian adalah para futsalor yang punya ide, motivasi, dan determinasi untuk menjadi yang terbaik. Dunia amatir, amatir prestasi, dan profesional adalah tiga entitas yang punya aturan sangat berbeda. Makara Prestasi, selamat berlatih lagi…
Posted in Opini | 10 Comments »
Sudah sebulan ini saya libur dari futsal. Engkel kanan saya nyeri berkepanjangan. Memang sudah tidak bengkak seperti awal Maret lalu. Namun sakitnya masih terasa. Apalagi kalau dipaksa untuk lari mengejar bola. Wuihhhh… Rasanya tidak sanggup deh!
