Category IconTurnamen Oyaji Minggu Ke-2

April 13th, 2009 by eko

Minggu yang keras di Turnamen Oyaji. Bagaimana tidak? Dua tim pemuncak klasemen, Orange Clovers dan Blue Harts baku hantam. Hasilnya? Blue Harts menang telak 4-1!

Pertandingan pertama pagi itu berjalan imbang. Kedua tim bermain hati-hati. Terutama sekali Blue Harts yang menurunkan formasi bertahan dengan Tetsuya sebagai kiper. Benar-benar disiplin. Permainan menyerang Orange Clovers seolah serbuan yang menemui dinding air. Kekuatannya musnah ketika sampai di depan gawang Blue Harts. Alhasil, dengan sebuah serangan balik ciamik, Blue Harts malah unggul lebih dulu. 1-0!

Babak kedua berlangsung lebih terbuka. Tetsuya yang bermain sebagai out field player menempati posisi di belakang. Mengorganisir pertahanan bersama Haris. Orange Clovers sempat mencuri gol melalui sebuah kemelut. Eko berhasil menceploskan bola ke antara kedua kaki Aji Seleb, yang saat itu bertugas sebagai kiper. 1-1, dan seolah pertandingan kembali dari awal.

Namun kenyataannya tidak demikian. Pergantian pemain yang kurang diperhitungkan, ditambah dengan permainan menyerang yang kurang disiplin menimbulkan lubang menganga di kubu Orange Clovers. Berturut-turut Blue Harts mampu menceploskan tiga gol!

Hasil akhir yang luar biasa bagi mereka. Dengan sembilan poin, Blue Harts memuncaki klasemen sementara pagi itu.

Pertandingan kedua mempertemukan Black Diamonds dengan Silver Spades yang minggu kemarin kalah WO dua kali. Tak dinyana, ternyata Silver Spades memberikan perlawanan luar biasa alot.

Sejak awal kedua tim memainkan skema menyerang. Bola mengalir deras. Benturan antar pemain, yang selayaknya tidak terjadi dalam futsal, terpaksa terjadi beberapa kali.

Babak pertama menjadi milik Black Diamonds. Kokohnya pertahanan mereka, dengan Roy sebagai kiper, membuat semua serangan Silver Spades yang cukup baik menerapkan umpan satu-dua mentah. Sebaliknya, Black Diamonds malah unggul 2-1, dengan satu gol spektakuler dari Adi. Tendangannya terkena blok dari lawan sehingga bola melambung tinggi melewati kepala kiper Silver Spades, dan… gol!

Babak kedua berlangsung lebih ketat. Silver Spades mengerahkan semua kemampuan yang dimiliki. Dan berhasil! Mereka memaksakan angka 2-2 hingga 30 detik menjelang pertandingan usai.

Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Apa daya, pada 30 detik yang menentukan itu terjadi kemelut di depan gawang Silver Spades. Black Diamonds menunjukkan determinasi tinggi dan membuahkan gol kemenangan! 3-1!

Benar-benar kenyataan pahit yang menohok. Perjuangan yang demikian bersemangat harus terantuk hasil yang kurang memuaskan.

Blakc Diamonds meneruskan peruntungannya di pertandingan ketiga hari itu, menghadapi sang pemimpin klasemen, Blue Harts. Ini adalah pertemuan kedua mereka. Pada kesempatan pertama Blue Harts mengungguli Black Diamonds, setelah selama pertandingan mereka tertekan.

Pertemuan kedua ini berjalan serupa. Black Diamonds berinisiatif menyerang, sementara Blue Harts kembali menampilkan permaian bertahan dengan sekali-kali mencuri kesempatan menyerang. Strategi yang sejauh ini terbukti menuai hasil positif.

Gelombang tekanan Black Diamonds membuahkan hasil di babak pertama. 1-0 untuk mereka! Dan tekanan terus-menerus dilancarkan pada Blue Harts yang saat itu tidak diperkuat Tetsuya dan Haris. Dedi, yang kemampuan menguasai bolanya cukup baik pun dipasang pada posisi kiper. Sepertinya mereka memang berniat menahan diri di babak pertama untuk kemudian keluar menyerang dengan kekuatan penuh di babak kedua.

Benarlah kiranya. Babak kedua Blue Harts keluar menekan. Dan Black Spades, yang sedikit-banyak mulai kelelahan akibat dua pertandingan barturut-turut, hanya bisa bertahan dengan sekali dua mencuri kesempatan melakukan serangan balik. Akhirnya tekanan itu berbuah gol! Tetsuya menceploskan gol untuk Blue Harts yang memaksa hasil akhir menjadi 1-1.

Dengan demikian, di minggu kedua ini kokohlah Blue Harts memuncaki klasemen dengan raihan 10 poin.

Pertadingan terakhir tidaklah terlalu menentukan. Orange Clovers menantang Silver Spades yang minggu sebelumnya kalah WO. Dan seolah menegaskan posisinya yang unik, kali inipun Silver Spades menghadirkan drama pertandingan yang luar biasa.

Bermain menyerang, kedua tim saling menekan dengan permainan cepat. Bola mengalir deras. Namun demikian, tekanan-tekanan yang ada tidak diselesaikan dengan baik oleh pemain depan kedua tim. Hasil serangan hanyalah berupa tendangan sudut maupun tendangan kedalam. Kedua tim memang bermain menyerang dengan disiplin tinggi. Artinya, tidak satu lobang pun dibiarkan terbuka di sisi pertahanan.

Penghujung babak pertama dan drama pun dimulai…

Berawal dari serangan Silver Spades dari sisi kanan pertahanan Orange Clovers, bola dilepas ke muka gawang. Kemelut terjadi. Bola ditepis kiper namun mental ke tengah kotak pinalti. Terjadi perebutan bola. Plos! Bola masuk ke gawang Orange Clovers melalui sentuhan kaki Refat. Own goal! 1-0 untuk keunggulan Silver Spades.

Babak kedua, unggul satu gol, Silver Spades menurunkan tekanan dan lebih berkonsentrasi menguasai bola selama mungkin. Berawal dari satu pelanggaran di muka kotak pinalti, Orange Clovers mendapat satu tendangan bebas tidak langsung. Dengan strategi standar, mereka mampu memaksakan hasil seri. Eko menceploskan bola ke sisi kiri gawang Silver Spades memanfaatkan sodoran tendangan bebas dari Wong Jo. 1-1!

Pertengahan babak kedua, drama kembali terjadi. Berupaya menghalau bola, sundulan Soni malah mengecoh Wello yang menjadi kiper. 2-1! Silver Spades lagi-lagi unggul melalui own goal.

Untung saja di penghujung babak kedua Arnolt mampu menyamakan kedudukan melalui gol yang dibuat dengan mengorbankan tubuhnya. Bertabrakan dengan kiper dan pemain belakang, ia masih mampu mendorong bola ke gawang. 2-2, dan usailah Oyaji minggu kedua.

Blue Harts kokoh di puncak klasemen sementara dengan 10 poin. Diikuti Orange Clovers di peringkat kedua setelah mengemas 7 poin. Posisi ketiga diisi oleh Black Dimaonds dengan 4 poin. Dan di urutan terakhir adalah tim penuh drama, Silver Spades, dengan raihan 1 poin.

See you next week!

Posted in Review Pertandingan | 2 Comments »

Category IconSunday Oyaji Futsal League

April 6th, 2009 by eko

Dalam dunia olahraga, umur memang kerap menjadi kendala. Kekuatan fisik yang menurun, semangat juang yang mengendur, semua menjadi satu. Menjadi penghalang. Membuat kita semua menjadi enggan berpacu. Apalagi memacu kaki dalam sebuah turnamen futsal. Sepertinya bukan ide yang baik, mengingat umur yang sudah kepala tiga.

Namun tidak demikian halnya dengan Tetsuya Higuchi. Lelaki Jepang paruh baya, yang baru saja mendapat karunia seorang putra, ini merasa perlu untuk menggagas sebuah turnamen futsal. Turnamen yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang berusia sekitar 30 tahun, dan bahkan lebih! Jelas tujuannya bukan prestasi. Penggunaan kata “turnamen” hanyalah pendekatan semiotik untuk menggambarkan semangat futsal saja. Tidak lebih.

Turnamen ini diberi tajuk “Sunday Oyaji Futsal League”. Asal tahu saja, Oyaji adalah bahasa Jepang yang tergolong kasar yang artinya “tua”. Benar-benar mengusik hati. Turnamen futsal untuk orang tua! Hahaha… Orang Jepang itu memang to the point kali ya? Kalau kita biasanya memperhalus menjadi “turnamen executive”, Tetsuya malah langsung menusuk dengan “turnamen orang tua”!

Turnamen ini menjadi menarik jika kita menilik bagaimana aturan main yang diterapkan didalamnya. Disini kita tidak menggunakan wasit dan official pertandingan bayaran. Semua peserta turnamen akan kebagian jatah untuk menjadi wasit 1 dan 2, pencatat skor, pencatat pertandingan, dan lainnya. Terutama untuk wasit, meskipun akan kerap melakukan kesalahan penilaian karena memang bukan wasit profesional, tidak satu peserta pun yang boleh memprotes. Mengajukan protes langsung diganjar dengan kartu kuning!

Ketika saya tanyakan kepada Tetsuya, apa alasan penunjukan peserta menjadi wasit dan official pertandingan, dia menjawab enteng: “Kita semua kan belajar. Nah, selain belajar memainkan futsal, kita juga perlu belajar mengenai peraturan pertandingan.” Lugas dan jelas. Dan, terus-terang, saya setuju.

Penunjukan menjadi official pertandingan adalah sebuah pemaksaan terselubung. Semua orang pada akhirnya harus memahami peraturan resmi dalam pertandingan futsal. Disisi lain, ini juga pemaksaan terselubung untuk menumbuhkan jiwa menghargai peraturan pertandingan dan menghormati wasit. Yang terakhir ini memang penyakit bangsa kita. Lihat saja kelakuan pemain pro kita. Wasit bisa babak-belur kalau mengeluarkan keputusan yang merugikan sang pemain!

Poin terakhir ini yang jelas kelihatan. Pada pertandingan pertama, banyak protes dan ekspresi melecehkan wasit yang bertugas. Alhasil, kartu kuning melayang berkali-kali. Pertandingan kedua mulai tertib. Pertandingan ketiga menjadi semakin tertib, karena semua tim yang bertanding sudah kebagian jatah menjadi wasit serta official.

Memahami bagaimana rasanya menjadi pemain yang tunduk pada keputusan wasit, dan kemudian menjadi wasit yang memikul tanggung-jawab besar pada jalannya pertandingan yang fair, dalam satu kesempatan yang sama, ternyata menghasilkan respek yang cukup baik. Kita jadi mengetahui kesulitan seorang wasit sehingga mampu menghargai keputusannya dan kemudian tunduk dengan tulus. Kita juga menjadi semakin mulus memainkan futsal, karena selalu ada wasit yang mengawasi.

Saya yakin sekali bahwa turnamen ini akan berdampak baik bagi permainan futsal semua pesertanya. Mereka akan lebih memahami permainan futsal yang sesuai aturan dan terutama akan menghormati benar keputusan yang diambil oleh wasit. Ada benarnya juga pepatah lama yang mengatakan: pengalaman adalah guru yang terbaik. Jika mau menumbuhkan rasa hormat kepada wasit, cobalah sekali-kali Anda jadi wasit, sehingga benar-benar memahami tekanan dan tanggung-jawab didalamnya…

Posted in Review Pertandingan | 5 Comments »

« Previous Entries Next Entries »