Category IconMati Lampu, Aduh Gelapnya…

July 9th, 2008 by eko

Mulai hari Jum’at besok, 11-25 Juli 2008, semua wilayah di Jakarta dan sekitarnya akan terkena giliran mati lampu, selama 7 jam dalam sehari. Pemadaman listrik tersebut terdiri dari dua pilihan: selama 08:00-15:00 atau 15:00-22:00. Untuk lengkapnya, silahkan lihat sendiri jadualnya disini!

Sebenarnya sih ini bukan pilihan! Ini takdir yang ditimpakan oleh para petinggi PLN yang sudah menyerah dan habis akal kepada kita, masyarakat yang memang bisanya hanya gigit jari menerima penderitaan.

Kenapa saya repot-repot menulis mengenai pemadaman listrik? Karena ini sangat erat kaitannya dengan aktivitas kita bermain futsal!

Lapangan futsal yang didirikan dengan konsep indoor akan mendapat pukulan paling telak. Bagaimana tidak? Bukankah penerangan, exhaust, air conditioner, mesin pendingin untuk jual minuman, dan persediaan air di wc, semuanya itu membutuhkan listrik?

Bagus kalau mereka punya genset sendiri. Namun, melihat maraknya pengembangan lapangan futsal (lebih tepat lagi: indoor soccer) dengan penanaman modal minim, saya menyangsikan hal tersebut. Besar kemungkinannya semua lapangan futsal itu sepenuhnya mengandalkan pasokan listrik dari PLN. Yah, bukan salah mereka juga. Bukankah listrik, seperti juga pangan dan lapangan pekerjaan, adalah tanggung jawab pemerintah?

Lapangan futsal dengan konsep outdoor punya sedikit keunggulan. Setidaknya untuk menghadapi pemadaman listrik selama rentang waktu 08:00-15:00. Para futsalor masih dapat bermain tanpa perlu khawatir. Toh, pada jam-jam itu, tidak dibutuhkan penerangan lampu?

Malam hari, yang merupakan prime time dan lumbung uang bagi pengusaha lapangan futsal, jelas akan menjadi mimpi buruk. Baik untuk konsep indoor maupun outdoor. Kecuali mereka punya genset, maka kegiatan menangguk uang jelas terhenti. Entah bagaimana caranya, para pengusaha lapangan futsal itu harus segera menemukan solusi. Bukan hanya untuk kepentingan bisnis mereka, namun juga untuk kepentingan kita, para futsalor ini…

Mungkin inilah saatnya organisasi yang menaungi sekian banyak lapangan futsal di Jakarta dan sekitarnya, yang dikomandani oleh Justin Lhaksana, maju kedepan dan menawarkan solusi. Dua minggu jelas waktu yang sangat panjang bagi bisnis lapangan futsal yang pergerakan uangnya relatif masuk kategori harian. Selama dua minggu itu, jutaan rupiah bakal gagal masuk ke kantong. Siapa yang berani jamin bahwa operasional dari lapangan-lapangan futsal itu akan bisa pulih setelah menerima pukulan seperti itu? Dan apa yang akan terjadi jika ternyata pemadaman listrik tidak berhenti di tanggal 25 Juli?

Dari kacamata persaingan bisnis, saya melihat kondisi ini sebenarnya adalah blessing in disguise. Tentu saja berkah bagi pihak-pihak yang kreatif, ulet, dan mau berbuat lebih. Bagi yang terbiasa malas berpikir dan berfilosofi nrimo dengan makna konotatif, ini sih malapetaka!

Sudah bukan rahasia jika persaingan antar lapangan futsal di kawasan Jakarta semakin memanas setiap harinya. Investor semakin sadar akan potensi futsal sebagai sumber revenue yang signifikan. Konsultan dan penyedia perlengkapan berat untuk mendirikan lapangan sudah banyak tersedia. Bahkan ada yang berasal dari luar negeri dengan standar kerja internasional. Alhasil, lapangan futsal menjamur dan berdekatan satu sama lain. Futsalor pun kini tidak lagi rela menempuh jarak yang jauh untuk bermain futsal. Faktor kedekatan lokasi lapangan dengan domisili (rumah maupun kantor) para futsalor menjadi faktor penentu. Dalam kondisi persaingan seperti ini, kekuatan yang tersisa tinggallah customer value.

Apaan tuh?

Sederhananya, customer value dapat dirangkum dalam pertanyaan ini: “Gua bayar berapa, gua dapet apa?”. “Bayar berapa” berkaitan dengan tarif sewa lapangan serta ongkos/upaya yang diperlukan untuk mencapai lokasi lapangan. “Dapet apa” berkaitan dengan fasilitas dan layanan yang tersedia di lapangan tersebut.

Nah, kondisi ekstrim berupa pemadaman lampu seperti ini jelas-jelas menyingkirkan beberapa lapangan yang tidak memiliki fasilitas genset dari persaingan. Artinya, rasio antara jumlah futsalor dibanding lapangan yang tersedia meningkat. Dengan asumsi, keinginan bermain futsal tidak ikut-ikutan padam seiring padamnya lampu. Dampak jangka pendeknya, lapangan-lapangan yang dapat beroperasi saat terjadi pemadaman listrik akan mengalami peningkatan kunjungan. Tapi, bukan disana letak efek mematikannya.

Dampak jangka panjanglah yang perlu diperhatikan oleh semua lapangan futsal yang gagal beroperasi dalam kondisi ekstrim ini.

Pelanggan yang pindah ke pesaing selalu menjadi berita buruk bagi pebisnis. Ini tidak hanya menyebabkan kepala pening. Bisa-bisa, kepala jadi copot gara-gara pelanggan pindah ke pesaing! Dengan pemadaman listrik, sebagian pelanggan “terpaksa” pindah dari lapangan yang gagal beroperasi ke lapangan yang masih mampu beroperasi. Sialnya, kondisi “terpaksa” itu dikemudian hari dapat saja berubah menjadi “suka rela” jika ternyata fasilitas dan layanan yang didapatkan di lapangan “baru” ternyata lebih baik! Nah lho???

Wahai para pengusaha lapangan futsal, keputusan untuk berpangku tangan atau grasak-grusuk melakukan antisipasi sepenuhnya adalah hak Anda. Namun, pada akhirnya, para futsalor-lah yang akan menjadi juri yang menentukan hidup matinya usaha Anda…

Posted in Artikel | 9 Comments »

Category IconSukses itu Habit

July 7th, 2008 by eko

Piala Eropa sudah usai. Orang-orang bilang pemenangnya adalah sepak bola. Ya, sepak bola! Bukan Spanyol. Kenapa? Karena permaianan menyerang nan atraktiflah yang akhirnya keluar sebagai yang terkuat. Bukan permainan membosankan a la Otto’s Wall seperti empat tahun lalu. Boleh juga…

Penggemar Jerman tentu berduka. Seperti juga Ballack, yang nasibnya memang kerap sesial nomor punggungnya: tiga belas.

Ketika di Leverkusen, impiannya menjuarai Liga Champion 2002 dihancurkan tendangan voli Zizou yang berkostum Les Merengues. Begitu pun pada partai final Liga Champion tahun ini di Moskow. Impiannya terjegal rumput lapangan yang membuat Tery, kaptennya di Chelsea, terpeleset dan gagal menceploskan bola dalam adu pinalti melawan MU.

Piala Dunia 2002, dia diganjar kartu dan kehilangan kesempatan bermain di final. Ronaldo, yang kembali bersinar setelah cedera lama, menghancurkan Jerman dengan gol-nya yang khas.

Dan kemarin, dia ditinggalkan kawan-kawannya menghadapi Spanyol sendirian. Hanya kemarahan dan frustrasi yang mampu ditunjukkannya di lapangan. Darah mengalir sia-sia dari pelipisnya yang kena tandukan Sena. Akhirnya, Ballack, dan juga Jerman yang bermain buruk, mesti betekuk lutut pada iblis berwajah kanak-kanak, Torres.

Bagi saya, partai final kemarin adalah anti klimaks. Ibarat makan getuk Magelang sebagai penutup sajian makan malam, setelah sebelumnya menikmati steik dari Kobe.

Saya bukan penggemar Jerman. Terlebih sejak mereka menyingkirkan Maradona cs di final Piala Dunia 1990 dengan pinalti kontroversial. Namun saya selalu menaruh respek tinggi kepada mereka. Dimata saya, Jerman selalu memiliki daya juang dan mental juara yang luar biasa. Namun, pada final Piala Eropa 2008 yang lalu, saya tidak melihat dua keunggulan utama itu dalam diri pemain-pemain Jerman. Maaf saja, mereka memang tidak pantas juara.

Media, seperti biasa, mengelu-elukan sang juara. Spanyol digambarkan sebagai tim yang sempurna. Berteknik tinggi, berfilosofi sepak bola modern, penuh berisi bintang-bintang muda. Mereka selalu menang sejak petandingan pertama hingga partai final. Mereka memang juara sejati. Bah!

Dimata saya, sejak dulu, Spanyol selalu adalah tim yang berteknik tinggi. Sehingga, dengan segala kerendahan hati, saya tidak setuju jika hampir semua media menyimpulkan bahwa Spanyol juara berkat teknik tinggi itu. Bukan. Menurut penilaian saya, yang tentu saja sangat bisa diperdebatkan, Spanyol juara karena dua hal: kemampuan semua pemain meredam ego individu (yang merupakan bawaan orok semua orang Spanyol) dan kemampuan mereka bekerja sama sebagai sebuah tim yang utuh.

Pak tua Aragones memang bijaksana. Semangat menekan ego dan menumbuhkan kerja sama tim ditancapkan dalam-dalam di hati setiap pemain. Tidak tanggung-tanggung, untuk menunjukkan seriusnya misi ini, pak tua itu meninggalkan si anak emas, Raul, di rumah!

Lalu, apa hubungannya dengan ember?

Untuk memenangi pertandingan sesungguhnya, kerja sama saja tidaklah cukup. Sekelompok futsalor tanpa kemampuan mapan yang bekerja sama mati-matian tidak akan mampu melangkah jauh dalam sebuah kejuaraan yang keras. Kemampuan individu jelas menjadi modal utama. Namun, lebih jauh lagi, mengubah kemampuan individu menjadi kekuatan kelompok, itulah yang paling utama. Taktik, strategi, pemahaman kekuatan/kelemahan diri sendiri, dan latihan formasi yang terus-menerus adalah kuncinya.

Dony Coach sudah menorehkan visi permaianan yang ingin diusung oleh Makara Prestasi: menyerang! Saya setuju seratus persen. Untuk bisa menyerang dengan optimal, fondasinya adalah pertahanan yang sempurna. Saya juga setuju seratus persen. Seperti yang ditunjukkan oleh Belanda dan Spanyol pada Piala Eropa 2008 yang lalu, sekarang memang era-nya serangan balik gaya baru. Bukan cattenacio. Namun serangan balik yang sangat efisien, yang berawal dari pertahanan sempurna dengan kemampuan penguasaan bola diatas rata-rata. Mengutip Dony Coach, “Nenek-nenek juga bisa offense! Tapi, tidak semua orang mampu melakukan defense yang sempurna!”, bener banget!!!

Untuk itu dibutuhkan komitmen. Setiap bagian dari Makara Prestasi, termasuk saya yang bagiannya adalah “menemani latihan” dan “mengomentari” melalui blog ini, harus memberikan yang terbaik dari dirinya demi kejayaan tim. Tidak boleh tidak. Yang merasa sebagai anak emas dan merasa pantas memberi seadanya saja, silahkan tinggal di rumah…

Komitmen itu tidak perlu dalam bentuk yang ekstrim. Tidak perlu sampai berdarah-darah seperti Ballack. Tidak perlu sampai cedera kaki seperti Villa. Tidak juga sampai depresi berat seperti Adrian Mutu. Cukuplah komitmen itu ditunjukkan dengan selalu hadir dalam latihan. Selalu hadir tepat waktu. Selalu berlatih dengan segenap pikiran, semangat, dan hati. Selalu memberikan yang terbaik, bahkan untuk hal-hal yang sepele.

Bagi saya, sukses bukanlah hasil. Sukses adalah rangkaian habit yang dibangun dari hal-hal kecil…

Posted in Euro 2008 | 5 Comments »

« Previous Entries Next Entries »